Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Tampilkan postingan dengan label Bid'ah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bid'ah. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Maret 2014

Larangan Shalat di Masjid yang Dibangun di Atas Kubur - Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani



Judul     : Larangan Shalat di Masjid yang Dibangun di Atas Kubur
Penulis : 'Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani
Ukuran : 15,5 X 23,5cm
Kover : Soft
Berat : 270 gr
Jumlah Halaman : XIV + 170 Lembar B/W
Jenis Kertas: HVS
Harga : Rp 30.000,- (Diskon 30%) Rp 21.000,-





“Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS. Al-Jinn: 18)




Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
"Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah menjadikan makam Nabi-Nabi mereka dan orang-orang shalih di antara mereka sebagai masjid. Maka, janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid. Sesungguhnya aku melarang kalian melakukan hal tersebut." (HR. Ibnu Abi Syaibah, sanadnya shahih dengan syarat Muslim).
Dan masih banyak lagi nash atau hadits yang dengan tegas melarang menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, termasuk kuburan beliau sendiri. Namun, apa yang kita saksikan saat ini masih banyak orang yang berlebih-lebihan terhadap kuburan orang-orang shalih dengan berbagai macam cara, termasuk beribadah di atas kuburan tersebut dan menjadikannya sebagai wasilah (perantara) untuk memenuhi segala hajatnya. Berdasakan penjelasan tersebut, dalam rangka menjaga kemurnian tauhid dari unsur syirik dan tata cara ibadah yang menyesatkan dengan segala macamnya, maka kami bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang hanya dengan izin-Nya dapat menerbitkan risalah yang berjudul "Larangan Shalat di Masjid yang dibangun di Atas Kubur," yang kami terjemahkan dari kitab Tahdziirus Saajid min Ittikhaadzil Qubuur Masaajid. Risalah ini ditulis oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani -rahimahullah-. Dalam risalah ini, beliau melengkapinya dengan penjelasan tentang pengertian menjadikan kuburan sebagai masjid, hikmah dilarangnya dan berbagai syubhat serta jawabannya berdasarkan al-Qur-an dan as-Sunnah, juga disertai pendapat ulama-ulama Salaf tentang besarnya dosa orang-orang yang membangun masjid di atas kuburan.
Kami memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, semoga segala upaya ini menjadi amal shalih dan bermanfaat bagi kaum Muslimin dalam rangka mentaati Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan mengikuti jejak Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam sebagai jalan mulia itu telah ditempuh oleh para Sahabat, Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'in.

Selasa, 07 Januari 2014

Ustadz Gadungan : Berlagak Alim - Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid


Judul     : Ustadz Gadungan : Berlagak Alim
Penulis : 'Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid
Penerbit : Darul Falah 
Jumlah Halaman : sd. 176
Jenis Kertas: HVS
Harga : Rp 17.000,- (Diskon 30%) Rp 11.900,-

Di tengah kehidupan, khususnya dikota-kota besar, agama kerapkali menjadi pilihan terakhir dalam mencari ketenangan batin. Banyak orang yang merasakan kekeringan ruhani dan haus akan ilmu agama. Betapa realita kehidupan cenderung memiskinkan ruhani mereka. Dalam pencarian ini mereka memilih beragam metode yang dapat menghilangkan dahaga nurani mereka.

Kecenderungan masyarakat yang haus secara ruhani ini, didiringi dengan munculnya ustadz-ustadzmuda yang menawarkan santapan ruhani dan majlis-majlis zikir yang bernuansa menyelisihi Sunnah. Hingga pada akhirnya kalangan awam tidak begitu peduli akan “air” yang dihidangkan oleh ustadz-ustadz tersebut. Yang penting, ruhani yang kering dapat terpuaskan.

Karenanya tidak mengherankan jika sekarang ini bergentayangan akidah-akidah bid'ah yang berbau kesyirikan. Sebagian besar umat dengan mudahnya meyakininya sebagai bagian dari ajaran agama. Ustadz-ustadz tersebut seakan tidak peduli akan hal ini. Entah karena taqlid buta atau kebodohan diri. Mereka hanyut oleh popularitas, materi dan sanjungan dari pengikutnya. Mereka mendengarkan kritik seperti layaknya orang yang lapang dada, namun keras kepala, dan tidak mau merubah amalan-amalan yang bertentangan dengan Sunnah.

Pantaskah mereka disebut sebagai ustadz? Apa saja yang harus dipenuhi oleh ustadz, walaupun dengan bermacam dalih? Sehingga tidak semua orang dapat mengaku dirinya ustadz atau dipanggil ustadz. Tidak semua orang yang mengaku ulama dapat berfatwa dan diikuti tindak-tanduknya.

Kita harus kritis terhadap ustadz-ustadz dan para ulama yang menyampaikan dakwah yang tidak bermanhaj Nabawiyah. Di samping perlu mengetahui latar belakang kehidupan dan pendidikan, serta misi-misi yang diembannya. Sehingga kita tidak mudah terperangkap oleh orang yang disebut ustadz atau mengaku sebagai ulama. Walaupun, dari segi kehidupan di orang yangbaik. Semua ini untuk mencegah agar tidak ada umat yang tersesat dan disesatkan. Karena sebaik-baik petunjuk adalah yang selaras dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah, serta contoh dari para shahabat, sebagai potret generasi terbaik umat ini. Sebagaimana pujian yang diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya.

 

Tasyabbuh Yang Dilarang Dalam Fikih Islam - Jamil bin Habib Al- Luwaihiq


Judul     : Tasyabbuh Yang Dilarang Dalam Fikih Islam
Penulis : 'Jamil bin Habib Al- Luwaihiq
Penerbit : Darul Falah 
Jumlah Halaman : bs-hrd.cvr. 582
Jenis Kertas: HVS
Harga : Rp 82.000,- (Diskon 30%) Rp 57.400,-

Tasyabbuh atau sikap latah seseorang yang membebani diri untuk menyerupai kaum dengan segala sifat-sifat mereka adalah dilarang dalam syariat Islam. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia adalah bagian dari mereka.” (Diriwayatkan Ibnu Majah)

Kehidupan kaum Muslimin di zaman ini telah banyak menyerupai orang-orang kafir kalangan Nasrani dan Yahudi, juga para ahli bid'ah, orang-orang fasik, dan ahli maksiat. Tidak jarang perkara tasyabbuh ini menjadikan seorang Muslim mencintai orang-orang kafir dan para pelaku berbagai kemaksiatan. Bahkan ada sebagian orang-orang Muslim merasa bangga bertasyabbuh kepada mereka. Na'udzu billah min dzalika.

Buku ini merupakan tesis para Prgram Pasca Sarjana Syari'ah, Fakultas Syari'ah dan Studi-studi Islam di Universitas Ummu al-Qura, Makkah Al Mukarramah dalam rangka meraih gelar tingkat master dengan predikat mumtaz (cum laude). Jamil bin Habib Al Luwaihiq, selaku penulis membentangkan aspek teoritis tentang tasyabbuh yang dilarang dengan dilengkapai golongan-golongan yang dilarang melakukan tasyabbuh pada mereka serta berbagai hikmah pelarangan tersebut.

Keunggulan buku ini mencakup tujuh puluh enam permasalahan tasyabbuh dalam fiqih Islam. Di antaranya perkara tasyabbuh dalam: thaharah dan bejana-bejana, adzan dan waktu-waktu shalat, tata cara shalat, masjid, hari-hari besar, jenazah, puasa, haji, makan, minum, salam dan duduk. Demikian pula tasyabbuh dalam pakaian dan perhiasan, adab, maupun membierkan nama-nama asing pada anak-anak kaum Muslimin dan kebiasaan bersandar kepada kalender Miladiah dan bukan kalender Hijriah, Insya Allah, berbagai bentuk perkara tasyabbuh yang telah membudaya di tengah kaum Muslimin tergambar jelas dalam buku ini. Kepada Allah jualah kita memohon pertolongan dan hidayah-Nya.

 

Sabtu, 04 Januari 2014

Rapot Merah Aa Gym - Abdurrahman Al Mukaffi



Judul     : Rapot Merah Aa Gym 
Penulis : 'Abdurrahman Al Mukaffi
Penerbit : Darul Falah 
Jumlah Halaman : 216 hlm/sedang
Jenis Kertas: HVS
Harga : Rp 23.000,- (Diskon 30%) Rp 16.100,-

Buku ini adalah lembaran-lembaran kertas putih yang berusaha terbang melayang ke kiblat kebenaran di arah barat, justru ketika angin berhembus ke arah timur. Atau boleh dikata sebagai obat pahit yang harus ditelan seseorang, justru di saat semua orang sedang menikmati minuman yang lezat. Tapi kalau memang obat itu memberi kesembuhan, kenapa tidak?

Siapa yang tak kenal K.H. Abdullah Gymnastiar yang lebih ngetop dengan panggilan Aa Gym? Seorang sosok yang saat ini sedang melejit meraup pundi-pundi ketenaran dan sanjungan. Bagaimana tidak? Seorang manusia yang sangat tidak ma'shum disanjung sedemikian rupa di Majalah Time dengan sebutan “Holly Man…” Republika juga tak mau kalah, dalam sebuah kolom khusus tertanggal 29 Nopember 2002 sang Kyai dari Bandung ini digambarkan laiknya Nabi. Astagfirullah. Bukankah itu pernyataan yang sangat dekat dengan kekufuran?

Buku ini bukan untuk menebar kebencian, permusuhan, dan antipati, tapi tulisan ini berangkat dari tawashau bil haqq . Yang tak kalah pentingnya, agar tidak ada ghuluw dan pengkultusan terhadap seseorang. Sebab, dua gejala ini sudah tampak jelas, dikalungkan umat pada diri Aa Gym.

Di dalam buku ini Anda akan mendapatkan sentilan lain tentang pemikiran dan pemaparan-pemaparan yang disampaikan sang Kyai, di antaranya tentang buku pegangannya, yaitu Al-Hikam , karangan Athaullah Al-Iskandar yang sarat dengan tasawuf. Harap dimaklumi pula, di dalam di dalam buku ini banyak didapati penyimpangan dari manhaj Allah, Rasul, dan Salafush Shalih, seperti wihdatul wujud , yang menyeret pencetusnya, Ibnu Arabi ke tiang gantungan.

Begitu pula tentang iddia' sang Kyai yang dinyatakan memiliki ilmu laduni yaitu ilmu atau ma'rifat yang langsung disusupkan Allah ke dalam hati seseorang sehingga dia mengatakan mendapat ilmu baru tatkala sedang berceramah. Apakah yang bersangkutan lebih hebat dari nabi Allah, Musa, yang diperintah mengembara hanya karena beliau merasa tahu, yang kemudian berguru kepada hamba Allah, Khidir?

Yang pasti, aroma tasawuf dan bahkan khurafat dalam ceramah atau tulisan-tulisannya terasa sangat menyengat hidung orang Mukmin yang masih memiliki ghairah untuk menjaga kebersihan akidah dan akhlak Islamnya. Al Haqq bayyin , kebenaran adalah sesuatu yang riil, meskipun setiap sudut kehidupan ditaburi kebatilan dan penyimpangan.

Kepada sang Kyai, anak buah atau siapa pun yang menjadi simpatisannya, tak perlu merasa gerah karena tulisan ini, lalu punya anggapan ini dan itu, karena mendiamkan bid'ah dan mencampuradukkannya dengan Kitabullah dan Sunnah dengan mengatasnamakan Islam merupakan pengkhianatan terhadap Allah, Rasul-Nya dan kaum Muslimin. Dan agama itu adalah nasihat.

 

Jumat, 03 Januari 2014

Nasyid Bid'ah ? - Isham Abdul-Mun'im Al Murry



Judul     : Nasyid Bid'ah ? 
Penulis : 'Isham Abdul-Mun'im Al Murry
Penerbit : Darul Falah 
Jumlah Halaman : 132 hlm/sedang
Jenis Kertas: HVS
Harga : Rp 8.000,- (Diskon 30%) Rp 5.600,-

Cobaan nasyid-nasyid dengan label Islam termasuk cobaan yang menimpa orang-orang Muslim semenjak lama, meski dengan nama dan sebutan yang berbeda-beda. Pada zaman Al-Iman Asy-Syafi'y Rahimahullah nasyid-nasyid itu disebut dengan at-taghbir, yaitu pembacaan bait-bait syair dengan lirik lagu yang diiringi tabuhan papan kayu atau lainnya, yang biasa dilakukan orang-orang sufi. Kemudian cobaan yang sama berkembang pada zaman sekarang dengan sebutan baru yang menarik hati, yaitu “Nasyid Islamy.”

Mengapa mesti ada tambahan “Islamy” untuk nasyid-nasyid itu? Apakah untuk menyembunyikan hakikatnya sehingga memperdayai para pemuda dan pemudi? Adakah nash syar'iyah yang dapat dijadikan rujukan, sehingga nasyid itu bersumber dari Islam dan merupakan bagian dari Islam? Ataukah itu hanya sebatas istilah yang ngetren pada saat sekarang, lalu ditambah label Islam agar laku di pasaran?

Nasyid artinya lagu, tembang atau nyanyian. Bedanya yang pertama merupakan kosakata Bahasa Arab dan yang kedua kosakata Bahasa Indonesia. Hakikatnya satu dan sama.

Adakah yang salah pada nasyid-nasyid Islamy itu? Bukankah bait-bait syair pernah dibacakan di hadapan Rasulullah dan beliau juga menyimaknya, bahkan beliau pernah meminta sahabat untuk membacakannya? Bukankah nasyid-nasyid Islamy dapat menjadi pengganti dari lagu-lagu yang hampir semua temanya bertutur tentang percintaan?

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul-Qayyim dan juga para ulama zaman sekarang akan mengupas tuntas semua masalah ini
 

Koreksi Dzikir Jama'ah M.Arifin Ilham - Abu Amsaka



Judul     : Koreksi Dzikir Jama'ah M.Arifin Ilham
Penulis : 'Abu Amsaka
Penerbit : Darul Falah 
Jumlah Halaman : 224 hlm/sedang
Jenis Kertas: HVS
Harga : Rp  20.000,- (Diskon 30%) Rp 14.000,-

“Berdoalah

Kepada Rabb kalian dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-A'raf: 55)

“Berdzikirlah

Kepada Rabb-mu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut. Dan dengan tidak mengeraskan suara di waktu pagi dan petang hari. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Al-A'raf: 205)

Sebelum shalat subuh, Abu Musa Al-Asy'ary beserta beberapa orang melapor kepada Abdullah bin Mas'ud. “Tadi kulihat kejadian yang sebenarnya aku pun kurang sreg . Tapi yang kulihat di sana justru hanya kebaikan.”

“Apa itu?” tanya Abdullah bin Mas'ud.

“Ada sekelompok orang membentuk beberapa halaqah sambil menunggu datangnya shalat. Setiap halaqah dipimpin satu orang dan mereka semua memegang kerikil. Ketika pemimpin halaqah itu berkata. 'Bertakbirlah seratus kali, bertahlillah seratus kali, bertasbihlah seratus kali', maka mereka pun membaca takbir, tahlil, dan tasbih seratus kali.”

Singkat cerita, Abdullah bin Mas'ud mendatangi halaqah itu, bertanya kepada mereka sambil berdiri,”Apa yang kalian lakukan seperti yang kulihat saat ini?”

“Wahai Abu Abdurrahman (Abdullah bin Mas'ud), kami memegang kerikil-kerikil untuk menghitung bacaan takbir, tahlil, dan tasbih,”jawab mereka.

Abdullah bin Mas'ud berkata,”Hitunglah keburukan-keburukan kalian. Aku berani menjamin bahwa sedikitpun kebaikan-kebaikan kalian juga tidak akan hilang. Celakalah kalian wahai ummat Muhammad. Begitu cepat penyimpangan yang kalian lakukan. Para shahabat Nabi kalian masih banyak yang hidup. Sementara baju beliau juga belum lagi usang, bejana beliau belum juga retak. Demi yang diriku ada di tangan-Nya, apakah kalian merasa berada pada millah yang lebih benar daripada millah Muhammad, ataukah kalian hendak membuka pintu kesesatan?”

Mereka berkata,”Demi Allah wahai Abu Abdurrahman, kami hanya menghendaki kebaikan.”

Abdullah bin Mas'ud menjawab,”Berapa banyak orang yang menghendaki kebaikan.”

Lalu Abdullah bin Mas'ud menyampaikan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,” Ada segolongan orang yang membaca Al-Qur'an, namun apa yang dibacanya itu tidak melewati tulang tenggorokan.”

( Sunan Ad-Darimi, Kitabul Muqaddimah, hadits nomer 206. Juga disebutkan dalam kitab Tarikh Wasith , Aslam bin Sahl Ar-Razzaz Al-Wasithy. Al-Albani menshahihkan sanad hadits ini di As-Silsilah Ash-Shahihah , hadits nomer 2005)

 

Rabu, 01 Januari 2014

Inul Lebih Dari Segelas Arak - Kathur Suhardi




Judul     : Inul Lebih Dari Segelas Arak
Penulis : Kathur Suhardi
Penerbit : Darul Falah
Jumlah Halaman : 228 hlm/sedang
Jenis Kertas: HVS
Harga : Rp 19.000,- (Diskon 30%) Rp 13.300,-


Kalau boleh diibaratkan, Evi Tamala dan Ikke Nurjanah layaknya arak dengan kadar alkohol 10 %. Uut Permatasari, Annisa Bahar dan Minel ibarat arak dengan kadar alkohol 50 %. Inul Daratista si Ratu Ngebor ibarat arak dengan kadar alkohol 70 % atau entah berapa pun prosentasinya. Yang pasti, siapapun menenggaknya akan mabuk berat, lalu ngoceh tak karuan. Ada yang ngoceh atas nama HAM. Yang lain lagi atas nama kebebasan ekspresi seni. Yang lain lagi atas nama keindahan koreografi, bahkan ada kyai-budayawan yang mabuk berat dengan berucap bahwa goyang Inul merupakan ciptaan Allah.

 

Selasa, 31 Desember 2013

Bunker Al-Zaytun - M. Amin Djamaluddin



Judul     : Bunker Al-Zaytun 
Penulis : 'M. Amin Djamaluddin
Penerbit : Darul Falah
Jumlah Halaman : 140 hlm/sedang
Jenis Kertas: HVS
Harga : Rp 13.000,- (Diskon 30%) Rp 9.100,-

Teruntuk: Orang-orang atau instansi sipil maupun militer yang membuta tuli, tidak tahu dan pura-pura tidak tahu, tidak peduli dan lepas tangan akan kedzaliman dan kesesatan yang dilakukan oleh sebuah gerakan yang mengatasnamakan Negara Islam Indonesia yang bermarkas di Pesantren Al-Zaytun, Indramayu, Jawa Barat.

Ketidakpastian hukum dan tindakan lamban yang dipertontonkan oleh para elit ulama yang katanya bertanggung jawab mengawal akidah umat: atau pun mereka para elit politik dan militer (intelijen) yang selalu mengatasnamakan Nasionalisme.

MPR, MUI, DEPAG, POLRI, BIN dan instansi lainnya yang berkompeten tidak mampu untuk mencegah, bahkan mengobati kedzaliman dan kesesatan yang kian hari semakin meluas dan mengganas.

Akankah mereka terus membuta tuli padahal telah nyata dan jelas kesesatan dan kejahatan yang diakibatkan oleh gerakan NII Al-Zaytun. Argumentasi apa yang membutatulikan hati nurani mereka? Ataukah kejahatan Orde Baru belum selesai?

Di mana hati nurani umat, kapan rakyat bergerak melibas “Sang Konspirator”

Indonesia, 7 Juni 2002

Mantan Korban dan Keluarga Korban

Kejahatan NII Abu Toto AS Panji Gumilang

Jangan menebar angin agar engkau tidak menuai badai. Ibarat ada asap tentu ada api. Peribahasa inilah yang paling tepat untuk menggambarkan sosok Panji Gumilang alis Abu Toto dengan Pondok Pesantren Al-Zaytun yang megah di Indramayu. Semua mata terpana, decak kekaguman dan pujian seperti tak pernah kehabisan kata. Harum semerbak menebarkan aroma bunga. Tetapi stop dulu! Jangan Anda seperti orang buta, karena aroma bunga yang semerbak itu adalah bunga melati di samping mayat, yang lama kelamaan tentu menjadi bau busuk yang menyengat hidung. Kemegahan itu hanyalah tumpukan sekam; hanyalah kulit yang tiada isinya. Bahkan di bawah tumpukan itu ada api yang siap membakar dan menghanguskan. Memang, orang buta tidak sama dengan orang yang melihat; dan orang tuli tidak sama dengan orang yang mendengar.

 

Selasa, 24 Desember 2013

Adakah Maulid Nabi SAW? - 'Abdullah bin Abdul Aziz At-Tuwaijiri



Judul     : Adakah Maulid Nabi SAW?
Penulis : 'Abdullah bin Abdul Aziz At-Tuwaijiri
Penerbit : Darul Falah
Jumlah Halaman :172 hlm/sedang
Jenis Kertas: HVS
Harga : Rp 18.000,- (Diskon 30%) Rp 12.600,-

Adakah perayaan Maulid Nabi Shallalahu Alaihi wa Sallam dalam Islam? Apakah Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam, atau para shahabat, tabi'ut-tabi'in sebagai generasi terbaik dari umat ini mengadakan perayaan maulid? Siapakah orang yang pertama kali membuat perayaan maulid? Bagaimanakah kondisi masyarakat di saat itu? Bagaimana pula cara mereka merayakan maulid? Benarkah dengan perayaan maulid membuktikan cinta kita kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam? Insya Allah dengan nash-nash yang shahih, buku ini menyajikan kedudukan perayaan Maulid Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan gamblang.

Senin, 23 Desember 2013

Mengapa Ahmadiyah Dilarang - Dr. Ihsan Ilahi Zhahir



Judul     : Mengapa Ahmadiyah Dilarang 
Penulis : 'Dr. Ihsan Ilahi Zhahir
Penerbit : Darul Falah
Jumlah Halaman : 460 hlm/sedang-hrd-cv
Jenis Kertas: HVS
Harga : Rp 57.000,- (Diskon 30%) Rp 39.900,-

Mirza Ghulam Ahmad Al-Qadiyani adalah seorang pendiri dan pemimpin gerakan keagamaan bernama Ahmadiyah yang sangat kontroversial. Wawasan pikirannya ia sebarkan dalam bentuk: buku, risalah, dan makalah yang kemudian pemikirannya itu ia namakan sebagai wahyu. Dan dengan ini, ia mengklaim status kenabiannya dan agama yang disampaikannya.

Ahmadiyah dilarang karena memusuhi Islam dan kaum Muslimin. Mereka tidak shalat di belakang kaum Muslimin dan berkeyakinan bahwa kaum Muslimin kekal di neraka Jahannam. Apalagi terhadap Allah, Ghulam Ahmad berkeyakinan Allah shalat, berpuasa, tidur, bersetubuh, dan melahirkan. Na'udzu billah . Demikian pula terhadap para Rasul-Nya, Ghulam menghina para rasul Allah. Ia beranggapan dirinya lebih utama dari Nabi Adam, Nuh, Yusuf, Isa, dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sekalipun.

Alangkah sesatnya keyakinan nabi palsu, Mirza Ghulam Ahmad Al-Qadiyani; seorang pecandu opium, khamar, dan pemakan harta orang lain dengan cara yang bathil. Sesungguhnya dia adalah seorang pesakitan, baik sakit pikiran, lemah akal, seorang budak hina yang menjual agama, kemuliaan, dan kehidupannya kepada penjajah Inggris di tanah kelahirannya sendiri.


Alhamdulillah, dengan penanya yang sangat tajam Al-Ustadz Al-Hafizh Ihsan Ilahi Zhahir mengungkapkan berbagai bukti-bukti baru dan analisa yang kuat tentang seluk-beluk gerakan Ahmadiyah. Beliau menjelaskan berbagai kesesatan gerakan yang dipelopori oleh Ghulam Ahmad Al-Qadiyani berdasarkan nukilan sumber asli dari berbagai buku, risalah, dan makalah dari ajaran nabi palsu ini. Insya Allah, dengan nukilan yang amanah tanpa dikurangi sedikit pun.

Sikap Ahlussunnah Terhadap Ahli Bid'ah & Pengikut Hawa Nafsu 2 - 'Dr. Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili



Judul     : Sikap Ahlussunnah Terhadap Ahli Bid'ah & Pengikut Hawa Nafsu 2 
Penulis : 'Dr. Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili
Penerbit : Darul Falah
Jumlah Halaman : bs-hrd.cv), 324 hal.
Jenis Kertas: HVS
Harga : Rp 74.000,- (Diskon 30%) Rp 51.800,-

Di jilid dua ini terdapat dua bab
tentang sikap Ahlussunnah wal Jama’ah terhadap para pelaku bid’ah:

Pertama:
Bagaimana sikap Ahlussunnah
wal Jama’ah dalam membenci, menceritakan keburukan, mengucapkan salam, duduk bersama, tidak menghormati, berdebat, dan menghukum para pelaku bid’ah?

Kedua:
Bagaimana sikap Ahlussunnah
wal Jama’ah dalam menerima kesaksian dan riwayat ahli bid’ah serta hukum memberdayakan mereka dalam bidang pendidikan dan jihad?


Sikap Ahlussunnah Terhadap Ahli Bid'ah & Pengikut Hawa Nafsu 1 - 'Dr. Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili


Judul     : Sikap Ahlussunnah Terhadap Ahli Bid'ah & Pengikut Hawa Nafsu 1
Penulis : 'Dr. Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili
Penerbit : Darul Falah
Jumlah Halaman : bs-hrd.cv), 324 hal.
Jenis Kertas: HVS
Harga : Rp 83.000,- (Diskon 30%) Rp 58.100,-

Bagaimanakah sikap Ahlussunnah wal Jama’ah dari tindakan pengkafiran, pemfasikkan, laknat, dan penerimaan amal ahli bid’ah di sisi Allah serta ketentuan tobat mereka?

Bagaimanakah sikap Ahlussunnah wal Jama’ah terhadap hukum shalat di belakang ahli bid’ah, mengadakan pernikahan dengan mereka, makan sembelihan mereka, membesuk mereka yang sakit, menyelenggarakan jenazah mereka, dan hukum waris mereka?

Buku ini merupakan panduan berinteraksi kaum Muslimin di zaman sekarang terhadap para ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu. Dr. Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili, berupaya menjelaskan sikap-sikap para salaf terhadap para ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu dengan bersandar kepada nash-nash dari Kitabullah, As-Sunnah dan atsar-atsar dari para salaf.


Kumpulan Tanya Jawab Bid'ah Dalam Ibadah - Hammud bin Abdullah Al-Mathr


Judul     : Kumpulan Tanya Jawab Bid'ah Dalam Ibadah 
Penulis : Hammud bin Abdullah Al-Mathr
Penerbit : Darul Falah
Jumlah Halaman : 574 hlm/besar-hrd-cv
Jenis Kertas: HVS
Harga : Rp 73.000,- (Diskon 30%) Rp 51.100,-

Kitab ini menghimpun berbagai fatwa dan risalah mengenai bid'ah ‘perkara baru' dalam ibadah dan apa-apa yang tanpa dalil, yang dihimpun dari:

(1) Syaikh Abdul Aziz bin Baaz;

(2) Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin;

(3) Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin;

(4) Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan;

(5) Al-Lajnah Ad-Daimah li Al-Buhuts Al-Ilmiyah wa Al-Ifta' (Panitia Kajian Ilmiah dan Fatwa)

Penyusun menyebutkan apa yang diungkapkan para ulama mengenai hal tertentu yang termasuk dalam kategori bid'ah, perkara baru, apa-apa yang tidak ada dalilnya, tidak pernah dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam , dan tidak pernah diamalkan di zaman Sahabat Radhiyallahu Anhum.

Materi kitab ini memberikan rujukan bagi setiap muslim untuk beriltizam kepada sunnah dan waspada terhadap bid'ah. Sebab, syari'at Islam ini telah sempurna. Dalam riwayat Ahmad disebutkan hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,

“Tidaklah suatu kaum membuat bid'ah, kecuali Allah akan mengangkat darinya sunnah. Berpegang teguhlah kamu dengan sunnah. Hal itu lebih baik daripada mengadakan bid'ah.”

Kitab ini membahas tentang berbagai macam perkara bid'ah dalam ibadah, di antaranya: dalam perkara adzan, wudhu, shalat, zakat, puasa, haji, umrah, jenazah, minta berkah, tawasul, pernikahan, kurban, hari raya, do'a, dzikir, dan lain-lainnya.

Siapkanlah hati kita untuk menerima sunnah dan meninggalkan segala bentuk bid'ah jika kita benar-benar menaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mencintai Allah sehingga amal kita diterima di sisi-Nya. Orang yang mencintai pasti mengikuti yang dicintainya. Allah berfirman,

“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu'.” (Ali Imran: 31)


Insya Allah, Anda dapat merasakan nikmatnya ibadah.

Minggu, 15 Desember 2013

Hal-hal yang Wajib Diketahui Setiap Muslim - Ibrahim bin asy-Syaikh Shalih bin Ahmad al-Khuraishi


Judul     : Hal-hal yang Wajib Diketahui Setiap Muslim
Penulis : 'Ibrahim bin asy-Syaikh Shalih bin Ahmad al-Khuraishi
Ukuran : 15,5 X 23,5 cm
Kover : Soft
Berat : 400 gr
Jumlah Halaman : XIX  + 332 Lembar B/W
Jenis Kertas: HVS
Harga : Rp 40.000,- (Diskon 30%) Rp 28.000,-



“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)....”(QS. Az-Zumar: 3)



Sebagaimana diketahui oleh ummat Islam, berdasarkan dalil-dalil syari'at dari al-Qur-an dan as-Sunnah, bahwasanya setiap amal dan ucapan seseorang akan dipandang benar dan dapat diterima jika berdasarkan 'aqidah yang benar. Apabila 'aqidahnya tidak benar, maka setiap amal dan ucapannya akan menjadi batal atau tidak sah.

Mengingat akan pentingnya masalah tersebut, Alhamdulillah, dengan izin Allah Ta'ala kami dapat menerbitkan sebuah risalah yang berjudul Hal-Hal yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.

Risalah ini kami terjemahkan dari kitab at-Tanbiihaat al-Mukhtasharah Syarh al-Waajibaat al-Mutahattimaat al-Ma'rifah'alaa Kulli Muslim wa Muslimah, yang ditulis secara sistematis dan disertai penjelasan yang luas oleh Ibrahim bin asy-Syaikh Shalih bin Ahmad al-Khuraishi.

Dalam risalah ini dijelaskan tiga landasan pokok yang wajib dipelajari oleh setiap Muslim dan Muslimah, yaitu mengenal Allah Subhanahu Wa Ta'ala, mengenal agama-Nya (Islam), dan mengenal Nabi-Nya, Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wasallam. Ketiga hal itulah yang akan ditanyakan kepada setiap hamba ketika ia berada di alam kubur.

Risalah ini juga membahas masalah yang paling agung dan yang menjadi pondasi bagi dienul Islam, yaitu Tauhid. Hal itu karena hanya untuk mentauhidkan Allah, maka Dia menciptakan jin dan manusia, menurunkan Kitab-Kitab-Nya, mengutus para Rasul-Nya, serta menciptakan Surga dan Neraka.


Rabu, 20 November 2013

Bid'ah Hasanah - Firanda Andirja Abidin, Lc. MA.

Bid'ah Hasanah

Judul Buku       : Bid'ah Hasanah
Penulis             : Firanda Andirja Abidin, Lc. MA.
Penerbit           : ناصرالسنة
Harga              : Rp. 48.000 (Diskon 30%) Rp 33.600

Dan semua perkara yang baru adalah bid'ah dan seluruh bid'ah adalah kesesatan, dan seluruh kesesatan di neraka. (HR. An- Nasaa'i)
Kaidah tersebut merupakan salah satu penggalan dari wasiat Rasulullah terkait larangan melakukan perkara yang baru atau dikenal dengan bid'ah. Di sisi lain, Rasulullah juga ingin menegaskan pentingnya mengerjakan suatu amalan berdasarkan syari'at yang di bawanya. Namun alih-alih menegakkan sunnah, saat ini masyarakat muslim lebih disibukkan dengan datangnya beberapa perkara baru dan berselisih mengenai hal tersebut.
Oleh karena itu, pemahaman mengenai sunnah Rasulullah dan pembahasan untuk mengenali bid'ah menjadi hal yang sangat urgen. Pasalnya, asal muasal semua penyimpangan dan kesesatan yang bermunculan dalam kelompok-kelompok sesat adalah bid'ah karena bid'ah yang telah mereka lakukan. Selain itu, masyarakat akan menganggap bid'ah itulah sunnah, dan sebaliknya aoa yang sebenarnya sunnah justru di anggap bid'ah.
Melalui buku ini penulis akan memaparkan pengertian,definisi dan bentuk-bentuk bid'ah dengan menghadirkan sejumlah dalil dan pendapat para ulama. Termasuk, bagaimana seorang muslim seharusnya menyikapi permasalahan atas perkara-perkara baru yang datang kepadanya.

Selasa, 19 November 2013

Kuburan Bukan Tempat Ibadah - AbuYahya Badru Salam, Lc.



Judul Buku       : Kuburan Bukan Tempat Ibadah
Penulis             : AbuYahya Badru Salam, Lc.
Penerbit           : ناصرالسنة
Isi                    : 176 Halaman
Dimensi           : 20 x 13,5 cm
Harga              : Rp. 30.000 (Diskon 30%) Rp 21.000

            Kuburan hanyalah benda mati yang tidak dapat memeberikan manfaat maupun mudharat. Di dalamnya terbujur mayat yang kaku yang justru membutuhkan do’a orang yang masih hidup. Mayat itu sama sekali tidak dapat menyampaikan do’a orang yang bertawassul kepadanya, apalagi untuk mengabulkan do’a.

            Buku ini mengupas beberapa ritual yang dilakukan di kuburan, disertai dengan bantahan terhadap dalil yang membolehkan kita bertawassul kepada orang mati dan dalil yang membolehkan kita mengagungkan kuburan.

Rabu, 09 Oktober 2013

Mendamaikan Ahlusunnah di Nusantara

ilust_1


Judul:Mendamaikan Ahlusunnah di Nusantara
Penulis:Abu Muhammad Waskito
No ISBN:978-979-592-6009
Kategori:Referensi Gerakan Pemikiran Islam
Cover:Soft Cover
Isi:432
Ukuran:13.5 x 20.5
Berat:1000 gr
Harga:Rp 69.000,00
Diskon:30 %
Harga Netto:Rp 48.300,00

Mendamaikan Ahlusunnah di Nusantara

Tidak diragukan lagi, bahwa persatuan ummat adalah dambaan kita semua. Banyak dalil-dalil Syariat yang menyerukan ummat Islam agar bersatu-padu, merapatkan barisan, saling tolong menolong dalam kebajikan dan takwa. Hingga disebutkan dalam riwayat, "Al jama'atu rahmah wal furqatu adzab" (Al jamaah itu rahmat, sedangkan perpecahan adalah adzab). (HR. Al Qadha'i, dari Nu'man bin Basyir ra.)
Buku ini berjudul, "Mendamaikan Ahlus Sunnah di Nusantara", yang ditulis oleh Abu Muhammad Waskito. Dalam buku ini penulis berusaha membedah pertikaian dan perselisihan antara elemen-elemen Ahlis Sunnah sedalam mungkin; merujuk pada perselisihan dalam tataran ilmiah, dalam konsep pemikiran, hingga mengungkap fakta-fakta perselisihan masa kini di dunia Islam maupun du Nusantara; serta memberikan 10 solusi untuk menyatukan Ahlus Sunnah.
Buku ini bisa dianggap sebagai panduan pemikiran yang cukup lengkap, dimulai dasar-dasar teori ilmiah, contoh-contoh perselisihan dan pembahasannya, serta kajian atas realitas problem keumatan masa kini, sehingga kita bisa mendapat gambaran utuh, insya Allah.

Mendamaikan Ahlusunnah di Nusantara - Abu Muhammad Waskito

ilust_1


Judul:Mendamaikan Ahlusunnah di Nusantara
Penulis:Abu Muhammad Waskito
No ISBN:978-979-592-6009
Kategori:Referensi Gerakan Pemikiran Islam
Cover:Soft Cover
Isi:432
Ukuran:13.5 x 20.5
Berat:1000 gr
Harga:Rp 69.000,00
Diskon:30 %
Harga Netto:Rp 48.300,00

Mendamaikan Ahlusunnah di Nusantara


Tidak diragukan lagi, bahwa persatuan ummat adalah dambaan kita semua. Banyak dalil-dalil Syariat yang menyerukan ummat Islam agar bersatu-padu, merapatkan barisan, saling tolong menolong dalam kebajikan dan takwa. Hingga disebutkan dalam riwayat, "Al jama'atu rahmah wal furqatu adzab" (Al jamaah itu rahmat, sedangkan perpecahan adalah adzab). (HR. Al Qadha'i, dari Nu'man bin Basyir ra.)

Buku ini berjudul, "Mendamaikan Ahlus Sunnah di Nusantara", yang ditulis oleh Abu Muhammad Waskito. Dalam buku ini penulis berusaha membedah pertikaian dan perselisihan antara elemen-elemen Ahlis Sunnah sedalam mungkin; merujuk pada perselisihan dalam tataran ilmiah, dalam konsep pemikiran, hingga mengungkap fakta-fakta perselisihan masa kini di dunia Islam maupun du Nusantara; serta memberikan 10 solusi untuk menyatukan Ahlus Sunnah.

Buku ini bisa dianggap sebagai panduan pemikiran yang cukup lengkap, dimulai dasar-dasar teori ilmiah, contoh-contoh perselisihan dan pembahasannya, serta kajian atas realitas problem keumatan masa kini, sehingga kita bisa mendapat gambaran utuh, insya Allah.

Kamis, 30 Mei 2013

Kuburan Agung Menyingkap Fenomena Ketergantungan Kepada Para Wali - Mamduh Farhan al-Buhairi





Penulis : Mamduh Farhan al-Buhairi
Harga : Rp.31.000,-
Deskripsi : xvi + 226 hal. (B)

Dalam fakta sejarah, paganisme merupakan agama sesat pertama yang dianut oleh manusia bermula saat mereka membutuhkan panutan untuk dijadikan sebagai pedoman hidup, mereka mengangkat pemimpin yang shalih, dicintai dan dihormati. Penghormatan tersebut tidak terbatas pada saat sang pemimpin masih hidup, namun berlanjut hingga ketika dia sudah meninggal. Hal tersebut diwujudkan dengan membuat patungnya sebagai simbol penghormatan yang pada akhirnya digunakan sebagai sesembahan. Fenomena menyembah patung ini sudah mulai bergeser bentuk pada zaman sekarang, manusia sudah tidak lagi membuat patung sesembahan. Namun mereka masih mengeramatkan makam tertentu dan meminta segala kebutuhannya kepadanya. Bahkan seorang kuburi -sebutan untuk penyembah kuburan- berkeyakinan bahwa mengunjungi makam wali sama dengan mendapatkan kenikmatan dunia dan akhirat. Mereka juga menyamakan makam wali dengan Baitullah al-Haram (Ka'bah) dan menziarahinya dianggap sebagai pelaksa-naan ibadah haji baginya. Buku berjudul asli Imathatul Litsam wa Kabhul Auham karya Mamduh bin Muhammad Farhan al-Buhairi ini kami persem-bahkan pada pembaca untuk membahas fenomena kesyirikan di atas. Penulis juga menerangkan bagaimana seharusnya ber-interaksi dengan kuburan, perbuatan yang dilarang dan dianjur-kan dalam kaitannya dengan kuburan serta mengajak memurni-kan ibadah hanya kepada Allah, mengingat banyak pemeluk agama Islam yang masih belum mengerti bagaimana seharusnya memperlakukan kuburan. Oleh karena itu buku ini sangat sayang bila dilewatkan.

Kesalahan Dalam Berdo'a - Ismail bin Marsyud bin Ibrahim ar-Rumaih




Harga resmi : Rp 17.000,
Penerbit Darul Haq,
Penulis : Ismail bin Marsyud bin Ibrahim ar-Rumaih

Doa merupakan inti ibadah dan berpahala besar, tidak ada satu ibadahpun tanpa berdoa. Doa mempunyai kemampuan luar biasa yang tidak terjangkau oleh kemampuan akal dan usaha manusia. Dengan doa, perkara susah berubah menjadi mudah, orang yang sakit menjadi sembuh, orang miskin menjadi kecukupan, urusan berat menjadi ringan, orang benci menjadi senang, orang celaka atau binasa menjadi selamat, dan perkara yang jauh menjadi dekat serta orang yang berdoa bisa mendapat pengampunan. Setiap muslim selalu membutuhkan doa, begitu juga manusia dalam kehidupan selalu membutuhkan sandaran untuk setiap keluh kesahnya dan tidak mungkin setiap usaha bisa berhasil tanpa berdoa, karena seorang muslim tidak lepas dari nilai perjuangan dan mustahil perjuangan tersebut berhasil tanpa disertai doa dan memohon kepada Allah SWT. Maka doa adalah senjata andalan bagi setiap muslim, sehingga benar kata pepatah, perjuangan harus disertai dengan doa. Itulah senjata ampuh bagi seorang mukmin dalam mengarungi bahtera hidup di dunia fana ini. Tetapi tidak semua doa bernilai ibadah dan pahala serta terkabulkan, sebab terdapat kekeliruan, penghalang dan kesalahan yang menjadi penyebab doa tersebut tertahan. Maka sangat perlu bagi setiap muslim mengetahui aturan, etika, syarat-syarat dan tata cara berdoa yang benar sesuai dengan syariat, karena ada seseorang yang berdoa untuk kebaikan malah yang didapat kecelakaan dan kebinasaan akibat kekeliruan dalam berdoa. Sungguh sangat disayangkan seseorang yang bermaksud baik ternyata mendapatkan kebalikanya. Buku ini menjelaskan beberapa kekeliruan dan kesalahan dalam berdoa serta beberapa penyebab doa tertahan. Buku ini juga mengupas tuntas tentang tata cara berdoa, menerangkan antara lafazh doa yang benar dan salah, menguraikan waktu-waktu mustajabah serta orang-orang yang terkabul doanya sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW.