Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Tampilkan postingan dengan label Saudi Arabia_. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saudi Arabia_. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 November 2013

Arab Saudi Mempersiapkan Jutaan Dolar Untuk Mempersenjatai Dan Melatih Ribuan Mujahidin


Arab Saudi sedang mempersiapkan jutaan dolar untuk mempersenjatai dan melatih ribuan mujahidin Suriah untuk menjatuhkan kekuasaan syiah basar asad dan sekutu iran yang telah membantai ratusan ribu rakyat muslim suriah.

Sumber-sumber Arab mengatakan bahwa upaya Saudi mengintensifkan difokuskan pada mujahidin suriah. menurut laporan yang belum di konfirmasi perkiraan kekuatan yang akan dilatih dari 5.000 sampai dengan 50.000.

Kepala intelijen Saudi , Pangeran Bandar bin Sultan , telah menekan AS sebgai polisi dunia untuk memasok anti - pesawat dan anti -tank rudal mujahidin, yang selama ini AS cuma berkoar-koar akan menyerang syiah basar asad

Jordan sedang didesak untuk memungkinkan wilayahnya untuk digunakan sebagai rute pasokan senjata ke suriah.


Sumber: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=219871651528765&set=a.181210555394875.1073741828.180983328750931&type=1

Sabtu, 07 September 2013

Raja Saudi Kirim 200 Juta Dolar Untuk Rakyat Palestina



MEKKAH (gemaislam) – Kondisi warga Palestina yang hingga kini masih memprihatinkan terus dipantau oleh raja Arab Saudi Abdullah bin Abdul Aziz. Kepedulian pemimpin Saudi ini bahkan diwujudkan dalam bentuk sumbangan untuk membantu kehidupan warga Palestina.
Pernyataan bantuan disampaikan oleh Menteri Saudi urusan kota dan pedesaan, Pangeran Mansour bin Miteb. Dalam  konferensi Organisasi Ibukota Islam dan Kota di Mekkah, Pangeran Mansour menyatakan bahwa Raja Abdullah telah menyetujui pemberikan paket bantuan sebesar 750 juta riyal atau setara dengan 200 juta dolar untuk Palestina.
Dikutip dari arabnews, Senin (2/8), paket bantuan tersebut nantinya digunakan untuk pemulihan berbagai infrastruktur yang ada di Palestina. Perluasan pabrik minuman dan pemurnian air juga termasuk dalam bagian rencana tersebut.
Selain pemberian paket bantuan untuk warga Palestina, konferensi yang dihelat di kota Mekkah tersebut sepakat untuk menyelesaikan isu-isu penting seperti pembangunan ibukota dan kota-kota Islam, melakukan modernisasi serta perlindungan identitas dan budaya Islam.
Pangeran Mansour secara lebih spesifik lagi bahkan menyatakan bahwa Arab Saudi terus konsisten dalam menjaga identitas dan karakter bangsa Arab terutama dari pengaruh Yahudisasi. (arc)
http://www.gemaislam.com/berita/arab-news/1436-raja-saudi-kirim-200-juta-dolar-untuk-rakyat-palestina#sthash.ADa1T2QP.dpuf

Kamis, 22 Agustus 2013

Sikap Bijak Saudi Dalam Menghadapi Krisis Suriah


Sikap pemerintah Saudi yang melarang warganya berangkat ke Suriah adalah sikap yang jenius. Stabilitas Saudi yang menjadi tempat tujuan haji dan umrah harus dijaga. Saudi sudah mengganti larangan bagi warganya tersebut, dengan bantuan finansial kepada pihak oposisi, dengan jumlah yang sangat besar. Oleh karena itu, jika Anda membaca media2 syi’ah, niscaya akan Anda dapati bahwa negara yang paling mereka benci adalah Saudi karena sebab dukungan finansialnya terhadap oposisi.
Namun, Saudi tidak segera membuka front perang terbuka melawan pemerintahan Bashar, dengan pengiriman militer resmi. Mengapa? Karena sebagai negara penyelenggara ibadah haji dan umrah yang menjadi tujuan umat Islam di seluruh dunia, Saudi lebih berkewajiban menjaga stabilitas tanah suci.

Mengumumkan secara resmi perang terbuka bisa memicu perang dunia, karena itu sama saja menyatakan perang terhadap sekutu Bashar Al-Assad (Rusia, Cina, dll). Pihak kapitalis (AS dan sekutunya) pun tentu akan ikut andil dalam perang jika Rusia terjun langsung mengirimkan pasukan militer di teluk, karena bagaimanapun juga: Amerika memiliki pandangan ideologi dan sistem ekonomi yang berbeda dengan Rusia, cs. Amerika pun punya kepentingan bisnis di teluk yang harus dijaga untuk menunjang kehidupan masyarakat di negerinya.

Oleh karena itu, sudah merupakan sikap yang benar jika Saudi hati-hati dalam hal pengiriman tentara militer untuk perang terbuka.

Simpelnya saja: Apakah Anda ingin orang tua, kerabat, atau sahabat kita yang melakukan ibadah haji atau umrah nanti, terusik dengan suara letusan bom dan peluru di sekitar masjidil haram & masjid nabawi? tentu tidak ingin bukan?

Itulah mengapa stabilitas tanah suci lebih perlu untuk dijaga….

 

M79 Osa, Ini adalah senjata peluncur anti Tank yang dikirim Saudi ke pejuang Suriah.

Saudi tidak perlu banyak busa, tapi langsung aksi. Melarang warganya pergi ke Suriah bukan berarti tidak peduli Suriah sama sekali. Awalnya, pengiriman senjata di atas memang diam-diam, sampai pihak intel yahudi Bani Israel mencium ini dan mengungkap ke media. Pengiriman ini di bawah pengawasan Pangeran Bandar bin Sultan. Sebelumnya, Saudi juga mengirimkan 80 ribu ton bantuan untuk pengungsi Suriah, di perbatasan Suriah-Turki. Dan proyek2 bantuan Saudi ini pun juga dilakukan di kamp pengungsian yang ada di Lebanon & Yordania. Koordinator Proyek bantuan ini adalah “Buraima Al-Tuaifi”

Menlu Saudi : Suriah Layak disebut Negeri yang Terjajah






Suriah saat ini bisa dianggap sebagai “Negeri yang terjajah,” kata Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Saud al-Faisal pada Selasa dalam pertemuan pers dengan Menteri Luar Negeri AS John Kerry.


Faisal menggambarkan intervensi Iran dan Hizbullah di Suriah sebagai hal yang berbahaya, mengatakan kekuatan oposisi harus diberikan bantuan militer untuk membela diri.

“Perkembangan yang paling berbahaya adalah partisipasi asing, diwakili oleh Hizbullah dan milisi lain yang didukung oleh pasukan Pengawal Revolusi Iran,” kata Faisal, seperti dikutip Reuters.

Faisal mengkritik sekutu Suriah, Rusia yang mengatakan “tidak ada logika” pelarangan Rusia menyediakan senjata kepada rezim Suriah.

“Saudi terpanggil untuk mengeluarkan resolusi internasional yang tegas untuk menghentikan pemberian senjata kepada rezim Suriah dan menyatakan tidak  ada pengakuan rezim Suriah,” kata Faisal, seperti dikutip Reuters.

Kerry berkunjung ke Arab Saudi dengan harapan ia dapat mengkoordinasikan dukungan untuk para pejuang oposisi Suriah di tengah kekhawatiran bahwa perang saudara berkepanjangan dan akan menimbulkan ekstrimis Islam.

Selain menemui menteri luar negeri Saudi, Kerry juga akan terlibat dalam pembicaraan dengan  Kepala intelijen Pangeran Bandar bin Sultan, ia mengarahkan upaya Saudi untuk menjatuhkan rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Pembahasan mencakup rencana pemerintahan Obama untuk memberikan dukungan militer kepada Jenderal Salim Idriss dari Dewan Tertinggi Militer, FSA,  sayap militer utama kelompok oposisi sipil Suriah.

Arab Saudi telah meningkatkan keterlibatannya dalam krisis Suriah dalam beberapa bulan terakhir, menyediakan rudal anti-pesawat untuk para pemberontak, antara lain senjata, menurut Reuters.

Pekan lalu, Kerry dan rekan-rekan Negara barat dan Negara Arab bertemu di Doha, menyetujui untuk mengintensifkan dukungan untuk pemberontak Suriah.

Namun, Italia dan Jerman sangat menentang langkah itu. (Arby/Dz)

Arab Saudi : Suriah Bisa Dianggap Sebagai Tanah Yang Diduduki

RIYADH (Arrahmah.com) – Suriah bisa dianggap sebagai “tanah yang diduduki”, ujar Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Saud al-Faisal pada Selasa (25/6/2013) dalam pertemuan pers dengan Menteri Luar Negeri AS, John Kerry.
Faisal menggambarkan intervensi Iran dan “Hizbullah” di Suriah sangat berbahaya, mengatakan kekuatan oposisi harus menawarkan bantuan militer untuk membela diri.
“Perkembangan yang paling berbahaya adalah partisipasi asing, diwakili oleh ‘Hizbullah’ dan milisi lain yang didukung oleh pasukan Garda Revolusi Iran,” ujar Faisal seperti dilansir Reuters.
Faisal mengkritik sekutu Suriah, mengatakan “tidak logis” di balik penyediaan senjata oleh Rusia untuk rezim brutal Assad.
“Kerajaan menyeru untuk mengeluarkan resolusi internasional yang tegas untuk menghentikan pemberian senjata kepada rezim Suriah dan menyatakan tidak diakuinya rezim,” lapor Reuters mengutip pernyataan Pangeran Saud al Faisal.
Sementara itu, John Kerry terbang ke Arab Saudi dengan harapan bisa berkoordinasi untuk mendukung para pejuang oposisi Suriah (kelompok moderat pro-demokrasi-red) di tengah kekhawatiran bahwa perang berkepanjangan akan memberanikan “ekstrimis”.Arab Saudi telah meningkatkan keterlibatannya dalam perang Suriah dalam beberapa bulan
terakhir, menyediakan rudal anti-aircraft untuk oposisi di antara senjata lainnya, menurut laporan Reuters.
Pekan lalu, Kerry dan rekan-rekannya dari Eropa serta Arab bertemu di Doha untuk menyetujui dukungan intensif untuk kelompok oposisi Suriah.  (haninmazaya/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/06/26/arab-saudi-suriah-bisa-dianggap-sebagai-tanah-yang-diduduki.html#sthash.2oQG3TD4.dpuf

RIYADH (Arrahmah.com) – Suriah bisa dianggap sebagai “tanah yang diduduki”, ujar Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Saud al-Faisal pada Selasa (25/6/2013) dalam pertemuan pers dengan Menteri Luar Negeri AS, John Kerry.
Faisal menggambarkan intervensi Iran dan “Hizbullah” di Suriah sangat berbahaya, mengatakan kekuatan oposisi harus menawarkan bantuan militer untuk membela diri.
“Perkembangan yang paling berbahaya adalah partisipasi asing, diwakili oleh ‘Hizbullah’ dan milisi lain yang didukung oleh pasukan Garda Revolusi Iran,” ujar Faisal seperti dilansir Reuters.
Faisal mengkritik sekutu Suriah, mengatakan “tidak logis” di balik penyediaan senjata oleh Rusia untuk rezim brutal Assad.
“Kerajaan menyeru untuk mengeluarkan resolusi internasional yang tegas untuk menghentikan pemberian senjata kepada rezim Suriah dan menyatakan tidak diakuinya rezim,” lapor Reuters mengutip pernyataan Pangeran Saud al Faisal.
Sementara itu, John Kerry terbang ke Arab Saudi dengan harapan bisa berkoordinasi untuk mendukung para pejuang oposisi Suriah (kelompok moderat pro-demokrasi-red) di tengah kekhawatiran bahwa perang berkepanjangan akan memberanikan “ekstrimis”.Arab Saudi telah meningkatkan keterlibatannya dalam perang Suriah dalam beberapa bulan
terakhir, menyediakan rudal anti-aircraft untuk oposisi di antara senjata lainnya, menurut laporan Reuters.
Pekan lalu, Kerry dan rekan-rekannya dari Eropa serta Arab bertemu di Doha untuk menyetujui dukungan intensif untuk kelompok oposisi Suriah.  (haninmazaya/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/06/26/arab-saudi-suriah-bisa-dianggap-sebagai-tanah-yang-diduduki.html#sthash.2oQG3TD4.dpuf
RIYADH (Arrahmah.com) – Suriah bisa dianggap sebagai “tanah yang diduduki”, ujar Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Saud al-Faisal pada Selasa (25/6/2013) dalam pertemuan pers dengan Menteri Luar Negeri AS, John Kerry.

Faisal menggambarkan intervensi Iran dan “Hizbullah” di Suriah sangat berbahaya, mengatakan kekuatan oposisi harus menawarkan bantuan militer untuk membela diri.

“Perkembangan yang paling berbahaya adalah partisipasi asing, diwakili oleh ‘Hizbullah’ dan milisi lain yang didukung oleh pasukan Garda Revolusi Iran,” ujar Faisal seperti dilansir Reuters.

Faisal mengkritik sekutu Suriah, mengatakan “tidak logis” di balik penyediaan senjata oleh Rusia untuk rezim brutal Assad.

“Kerajaan menyeru untuk mengeluarkan resolusi internasional yang tegas untuk menghentikan pemberian senjata kepada rezim Suriah dan menyatakan tidak diakuinya rezim,” lapor Reuters mengutip pernyataan Pangeran Saud al Faisal.

Sementara itu, John Kerry terbang ke Arab Saudi dengan harapan bisa berkoordinasi untuk mendukung para pejuang oposisi Suriah (kelompok moderat pro-demokrasi-red) di tengah kekhawatiran bahwa perang berkepanjangan akan memberanikan “ekstrimis”.Arab Saudi telah meningkatkan keterlibatannya dalam perang Suriah dalam beberapa bulan

terakhir, menyediakan rudal anti-aircraft untuk oposisi di antara senjata lainnya, menurut laporan Reuters.

Pekan lalu, Kerry dan rekan-rekannya dari Eropa serta Arab bertemu di Doha untuk menyetujui dukungan intensif untuk kelompok oposisi Suriah.  (haninmazaya/arrahmah.com)
 

RIYADH (Arrahmah.com) – Suriah bisa dianggap sebagai “tanah yang diduduki”, ujar Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Saud al-Faisal pada Selasa (25/6/2013) dalam pertemuan pers dengan Menteri Luar Negeri AS, John Kerry.
Faisal menggambarkan intervensi Iran dan “Hizbullah” di Suriah sangat berbahaya, mengatakan kekuatan oposisi harus menawarkan bantuan militer untuk membela diri.
“Perkembangan yang paling berbahaya adalah partisipasi asing, diwakili oleh ‘Hizbullah’ dan milisi lain yang didukung oleh pasukan Garda Revolusi Iran,” ujar Faisal seperti dilansir Reuters.
Faisal mengkritik sekutu Suriah, mengatakan “tidak logis” di balik penyediaan senjata oleh Rusia untuk rezim brutal Assad.
“Kerajaan menyeru untuk mengeluarkan resolusi internasional yang tegas untuk menghentikan pemberian senjata kepada rezim Suriah dan menyatakan tidak diakuinya rezim,” lapor Reuters mengutip pernyataan Pangeran Saud al Faisal.
Sementara itu, John Kerry terbang ke Arab Saudi dengan harapan bisa berkoordinasi untuk mendukung para pejuang oposisi Suriah (kelompok moderat pro-demokrasi-red) di tengah kekhawatiran bahwa perang berkepanjangan akan memberanikan “ekstrimis”.Arab Saudi telah meningkatkan keterlibatannya dalam perang Suriah dalam beberapa bulan
terakhir, menyediakan rudal anti-aircraft untuk oposisi di antara senjata lainnya, menurut laporan Reuters.
Pekan lalu, Kerry dan rekan-rekannya dari Eropa serta Arab bertemu di Doha untuk menyetujui dukungan intensif untuk kelompok oposisi Suriah.  (haninmazaya/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/06/26/arab-saudi-suriah-bisa-dianggap-sebagai-tanah-yang-diduduki.html#sthash.2oQG3TD4.dpuf
RIYADH (Arrahmah.com) – Suriah bisa dianggap sebagai “tanah yang diduduki”, ujar Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Saud al-Faisal pada Selasa (25/6/2013) dalam pertemuan pers dengan Menteri Luar Negeri AS, John Kerry.
Faisal menggambarkan intervensi Iran dan “Hizbullah” di Suriah sangat berbahaya, mengatakan kekuatan oposisi harus menawarkan bantuan militer untuk membela diri.
“Perkembangan yang paling berbahaya adalah partisipasi asing, diwakili oleh ‘Hizbullah’ dan milisi lain yang didukung oleh pasukan Garda Revolusi Iran,” ujar Faisal seperti dilansir Reuters.
Faisal mengkritik sekutu Suriah, mengatakan “tidak logis” di balik penyediaan senjata oleh Rusia untuk rezim brutal Assad.
“Kerajaan menyeru untuk mengeluarkan resolusi internasional yang tegas untuk menghentikan pemberian senjata kepada rezim Suriah dan menyatakan tidak diakuinya rezim,” lapor Reuters mengutip pernyataan Pangeran Saud al Faisal.
Sementara itu, John Kerry terbang ke Arab Saudi dengan harapan bisa berkoordinasi untuk mendukung para pejuang oposisi Suriah (kelompok moderat pro-demokrasi-red) di tengah kekhawatiran bahwa perang berkepanjangan akan memberanikan “ekstrimis”.Arab Saudi telah meningkatkan keterlibatannya dalam perang Suriah dalam beberapa bulan
terakhir, menyediakan rudal anti-aircraft untuk oposisi di antara senjata lainnya, menurut laporan Reuters.
Pekan lalu, Kerry dan rekan-rekannya dari Eropa serta Arab bertemu di Doha untuk menyetujui dukungan intensif untuk kelompok oposisi Suriah.  (haninmazaya/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/06/26/arab-saudi-suriah-bisa-dianggap-sebagai-tanah-yang-diduduki.html#sthash.2oQG3TD4.dpuf

Rezim Suriah Tuduh Arab Saudi Dalangi Pemberontakan






DAMASKUS, KOMPAS.com — Pemerintah Suriah, Rabu (26/6/2013), menuduh Arab Saudi berada di belakang kelompok oposisi yang sudah dua tahun berupaya menggulingkan rezim Bashar al-Assad.

"Aksi kekerasan di Suriah disebabkan persenjataan Saudi, uang Saudi, dan teroris yang berhubungan dengan Saudi," kata Menteri Informasi Suriah Omran al-Zohbi.

Zohbi menambahkan, tangan Menteri Luar Negeri Suriah Pangeran Saud al-Faisal berlumuran darah rakyat Suriah yang tewas dalam konflik berkepanjangan ini.

Sebelumnya, pada Selasa (25/6/2013), dalam jumpa pers bersama Menlu AS John Kerry, Pangeran Saud al-Faisal menegaskan, Arab Saudi akan membantu pemberontak Suriah mempertahankan diri mereka.

Bahkan dia mendesak masyarakat internasional untuk menggelar aksi global demi mengakhiri kekuasaan rezim Presiden Bashar al-Assad.

Dalam kesempatan yang sama, Pangeran Saud juga mengkritik "invasi" yang dilakukan Iran dan Hezbollah ke Suriah.

"Diplomasi Saudi sangat meragukan, dan Saudi tak memiliki tempat dalam sebuah solusi politik Suriah," kata Zohbi.

Lebih jauh, Zohbi mengatakan, seruan Pangeran Saud al-Faisal terkait gerakan global untuk mengakhiri rezim Assad hanyalah sebuah mimpi.

Sementara itu, harian Al-Baath milik Pemerintah Suriah menyebut Pangeran Saud al-Faisal sebagai "orang gila".

"Pernyataan Faisal membuktikan bahwa dia tak hanya sudah pikun dan tak melihat kenyataan. Dia juga tak menyadari bahwa rezim Wahabi mulai runtuh," ujar harian tersebut. 

http://internasional.kompas.com/read/2013/06/26/1833090

Arab Saudi Kecam Keterlibatan Iran dan Hizbullah di Suriah






Arab Saudi mengatakan dunia seharusnya tidak membiarkan Iran dan kelompok militan Hizbullah mendukung pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Menteri Luar Negeri Saudi Saud al-Faisal menyebut campur tangan Teheran dalam krisis yang sedang berlangsung di Suriah berbahaya dan mengatakan bahwa negaranya tidak bisa lagi tinggal diam.

Pernyataan Saud disampaikan pada konperensi pers bersama Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry di Jeddah. Pangeran itu menyerukan larangan internasional terhadap suplai senjata ke pemerintah Suriah dan menyerukan bantuan militer lebih  banyak bagi para pemberontak Suriah.

Arab Saudi telah menyuplai senjata kepada para pemberontak, sementara Amerika Serikat baru-baru ini mengatakan akan mengirimkan senjata sebagai tambahan atas bantuan non-senjata yang telah diberikannya.

Kerry mengatakan bahwa perundingan adalah cara terbaik untuk menyelesaikan kerusuhan yang telah berlangsung lebih dari dua tahun di Suriah dan menewaskan lebih dari 90 ribu orang. 

http://www.voaindonesia.com/content/arab-saudi-kecam-keterlibatan-iran-dan-hizbullah-di-suriah/1688831.html

Saudi: Berbahaya Jika Iran dan Hizbullah Duduki Suriah


REPUBLIKA.CO.ID, Ikut sertanya kekuatan asing dalam pergolakan yang terjadi di Suriah bisa saja bukan menjadi solusi bagi perdamaian Suriah. Namun, bisa saja membawa negara itu menjadi tanah yang diduduki pihak asing karena kuatnya intervensi Iran dan Hizbullah.

Hal itu dinyatakan oleh Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Saud al-Faisal dalam pertemuan diplomatiknya dengan Menteri Luar Negeri AS, John Kerry.

"Hal yang paling berbahaya adalah ikut sertanya pihak asing, yaitu Hizbullah dan milisi lain yang didukung pasukan Garda Revolusi Iran," kata Faisal dalam jumpa persnya seperti dilansir Reuters, Selasa (25/6).

Faisal mengkhawatirkan suatu saat nanti bisa jadi Iran atau Hizbullah lah yang menduduki Suriah setelah perang bersaudara di negeri itu berakhir. Ia juga menyinggung soal bantuan Rusia yang diketahui memberikan dukungan berupa senjata kepada rezim Assad.

Untuk itu, sudah soyogyanya bagi Oposisi untuk menawarkan diri pula meminta bantuan asing. "Kerajaan menyeru untuk segera mengeluarkan resolusi internasional yang mengatakan secara tegas untuk menghentikan pemberian senjata kepada militer Suriah," ujar Faisal.

Kedatangan John Kerry ke Arab Saudi sebagai upaya negara Paman Sam itu untuk berkoordinasi mendukung para pejuang oposisi Suriah. Seperti diketahui, Presiden AS Barack Obama telah menyetujui pengiriman bantuan senjata kepada pihak Oposisi Suriah. 

Sebelumnya, Kerry juga telah mengunjungi beberapa negara di Eropa dan Qatar pekan lalu. Kunjungannya itu untuk membahas pengiriman bantuan persenjataannya bagi pihak Oposisi yang harus melewati beberapa negara sebelum mencapai Suriah. 

http://www.republika.co.id/berita/internasional/timur-tengah/13/06/26/moz8o9-saudi-berbahaya-jika-iran-dan-hizbullah-duduki-suriah

2 Pesawat Arab Saudi Dengan 100 Ton Perlengkapan Medis Sudah Tiba Di Mesir

 




 
 
::: Lagi: Kerajaan Saudi Arabia Berulah..

Saat Anda masih sibuk mencela Kerajaan Saudi Arabia, 2 Pesawat Arab Saudi dengan 100 ton perlengkapan medis sudah tiba di Mesir, siap mendirikan 3 rumah sakit lapangan untuk menolong warga Mesir yang terluka..

Semoga Allah merahmati Kerajaa Saudi Arabia, para pemimpin dan rakyatnya..

Semoga Allah merahmati Mesir dan seluruh rakyat Mesir yang muslim...

http://english.alarabiya.net/en/News/middle-east/2013/08/20/Two-Saudi-planes-carrying-medical-aid-arrive-in-Egypt.html

~Al Akh Mochamad Nugie Nugraha

Jumat, 16 Agustus 2013

Meski Dikecam, Saudi Airlines Tetap "Ogah" Angkut Warga Israel


 

RIYADH, KOMPAS.com — Maskapai penerbangan Saudi Arabian Airlines, Jumat (19/7/2013), mempertahankan kebijakan yang melarang warga Israel menggunakan maskapai tersebut.

Direktur Jenderal Saudi Arabian Airlines, Khalid al-Melhem, mengatakan, kebijakan itu berkaitan dengan tak adanya hubungan diplomatik antara Arab Saudi dan Israel.

"Jika kami tidak memiliki hubungan diplomatis dengan sebuah negara, maka kami tidak akan mengizinkan warga negara itu memasuki wilayah kerajaan," kata Al-Melhem kepada harian terbitan Saudi, Al-Watan.

"Hubungan diplomatik sangat berpengaruh bagi para penumpang transit, terutama jika penerbangan mengalami penundaan, maka penumpang itu harus memasuki wilayah Saudi. Pada titik ini sangat sulit mengizinkan seorang warga Israel memasuki wilayah Saudi," tambah dia.

Awal pekan lalu, seorang pengacara New York, Bill de Blasio, mengecam maskapai Saudi ini yang melarang seorang warga negara Israel menumpang pesawat milik maskapai tersebut.

Blasio menilai, larangan itu merupakan sebuah praktik "dikriminasi ras". Blasio bahkan mengancam akan melakukan segala upaya agar Saudi Airlines dilarang mendarat di semua bandara AS.

Berdasarkan sejumlah laporan, Blasio kemudian mengirim surat kepada Al-Melhem. Dalam suratnya itu Blasio meminta Al-Melhem mengevaluasi ulang kebijakan maskapai atau bekerja sesuai hukum penerbangan internasional yang tidak mentoleransi diskriminasi.

http://internasional.kompas.com/read/2013/07/19/1707477/Meski.Dikecam.Saudi.Airlines.Tetap.Ogah.Angkut.Warga.Israel

Negara Saudi Arabia : Pemimpin Dunia Islam Atau Antek Amerika?








Oleh: Muhamad Karyono | 04 August 2013 | 06:23 WIB

Rasa-rasanya tak ada negara yang lebih menarik untuk dikupas melebihi Saudi Arabia. Sederet frase mungkin langsung terbayang dalam benak kita begitu mendengar nama Saudi. Negeri kelahiran Rasulullah SAW, dua kota suci, Wahabi, minyak, dan sebagainya. Perspektif orang terhadap negara tersebut pun secara umum terbagi dalam dua kutub ekstrem. Mengagumi sedemikian rupa atau membenci sejadi-jadinya.

Bagi yang mengagumi Saudi, negeri yang kini dinakhodai oleh Raja Abdullah tersebut selalu dilihat dalam kaca mata putih sebagai pelindung utama dakwah tauhid, negeri yang sukses mendistribusikan kemakmuran terhadap segenap rakyatnya, negeri yang sukses menegakkan keamanan di segenap penjuru wilayahnya, serta negeri yang konsisten dengan hukum Islam di tengah moderenitas. Sementara bagi para pembenci Saudi, negara tersebut selalu dilihat dengan kaca mata hitam sebagai negeri yang lahir dari satu ‘paham’ yang sering dibilang ‘keras dan intoleran’, antek Amerika, pengusung diktatorisme, pembela feodalisme, pengekang hak-hak wanita, serta kehidupan glamour sebagian elitnya.

Namun justru adanya dua perspektif yang saling bertolak belakang itulah yang menyebabkan ‘pesona’ Saudi kian berbinar. Sejumlah karya kontroversi yang bertemakan Saudi selalu menggelitik untuk ditelisik. Sebut saja Dinasti Bush Dinasti Saud, The Girls of Riyadh hingga Kudeta Makkah. Meski sederet buku tersebut cenderung mendiskreditkan Saudi, namun di sisi lain adanya karya-karya semacam itu justru menunjukkan pengakuan banyak pihak akan eksistensi Saudi. Bahkan sejak lahirnya cikal bakal kerajaan Saudi Arabia lewat dakwah tauhid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan Imam Muhammad Ibnu Su’ud, gemanya pun langsung berasa di berbagai negeri Muslim. Di tanah air, pengaruh langsung dari dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menjelma dalam gerakan Paderi di tanah Minang.

Biografi memukau Raja Abdul Aziz Ibnu Saud yang dibesarkan di pengasingan dalam kondisi penuh keterbatasan sebelum sukses mendirikan kerajaan Arab Saudi moderen, tak pelak menghadirkan kekaguman pula bagi Bung Karno. Dalam salah satu suratnya yang ditulis di Endeh dan ditujukan kepada Ustadz A. Hassan, Bung Karno menyatakan kekagumannya akan biografi Ibnu Saud dengan ungkapan, “Ia adalah menggambarkan kebesaran Ibnu Saud dan Wahabism begitu rupa, mengkobar-kobarkan element amal, perbuatan begitu rupa, hingga banyak kaum “tafakur” dan kaum pengeramat Husain c.s akan kehilangan akal nanti sama sekali.”

Eksistensi Saudi di mata internasional semakin diakui kala Raja Faisal memimpin embargo minyak terhadap negara-negara Barat pendukung zionis yang mengakibatkan dunia industri di Eropa dan Amerika kalang kabut. Meski kini Saudi menerapkan politik kooperatif terhadap Amerika Serikat dan sekutunya, bukan berarti peran Saudi dipandang sebelah mata. Satu hal menarik ditulis Craig Unger dalam Dinasti Bush Dinasti Saud. Konon dua hari pasca tragedy 11 September 2001, di saat seluruh lalu lintas udara Amerika Serikat ditutup, Gedung Putih tetap mengizinkan kepergian 140 penumpang pesawat yang kebanyakan warga Saudi dan saudara dekat Osamah bin Laden. Dalam analisis Craig, semua itu tak lepas dari kuatnya lobi duta Saudi terhadap pemerintah Amerika Serikat.

Mencermati hubungan Amerika Serikat-Saudi Arabia memang sangat menarik bila dikaitkan dengan latar belakang kedua negara yang saling bertolak belakang. Amerika Serikat adalah satu negara sekuler yang begitu mendewakan kebebasan dalam segala bidang, sementara Saudi merupakan negara yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai ‘puritanisme’ dalam Islam. Amerika merupakan negara pendukung utama rezim zionis Yahudi, sedangkan Saudi tidak pernah mengakui eksistensi pemerintahan Yahudi di Palestina.

Politik luar negeri Saudi yang bagi banyak orang terlihat kontradiktif dengan ideologi negara yang dianutnya, tak pelak memantik minat banyak pengamat untuk melontarkan sejumlah teori. Secara umum, teori tersebut menyebutkan bahwa kedekatan hubungan Saudi-AS semata-mata didasari atas simbiosis mutualisme antara kedua negara. AS yang merupakan negara konsumen minyak terbesar dunia membutuhkan limpahan suplai minyak dari Saudi, sementara Saudi membutuhkan peralatan militer dari AS guna menjaga kedaulatan wilayahnya.

Apapun itu, identitas Saudi sebagai negara ‘Wahabi’ di satu sisi dan sebagai negara yang kerap diberikan stigma sekutu Amerika di sisi lain, menyebabkannya dimusuhi oleh beberapa kelompok yang sejatinya satu sama lain pun saling mengusung ideologi bertolak belakang. Beberapa kelompok dimaksud antara lain adalah kalangan liberal, Syi’ah, Al-Qaeda, dan tradisionalis.

Di mata kaum liberal, Saudi yang konsisten menegakkan hukum Islam di segenap lini merupakan ancaman nyata bagi proyek mereka yang mengusung kampanye “hukum Islam tak lagi relevan saat ini.” Tegaknya Islam di Saudi yang berefek pada pemerataan kemakmuran terhadap segenap rakyatnya merupakan satu bukti bahwa seluruh hukum yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah tetap relevan sampai kapanpun.

Bagi kalangan Syi’ah, Saudi dianggap sebagai batu sandungan utama dalam menyebarkan aliran menyimpang tersebut ke segenap penjuru dunia. Bahkan Saudi turut menggagalkan secara langsung revolusi Syi’ah di Bahrain dengan mengirimkan pasukan militer untuk melindungi pemerintah Sunni di negeri tersebut. Maka untuk menggaet simpati kaum Muslimin secara umum, orang-orang Syi’ah menyebarkan propaganda dengan membuat kebohongan bahwa Republik “Syi’ah” Iran merupakan negara yang berada di garda terdepan dalam menentang Amerika dan Israel. Namun faktanya, Iran yang dituding mengembangkan senjata nuklir tidak pernah sekalipun terlibat peperangan terbuka dengan Amerika maupun Israel.

Sedangkan di mata kelompok Al-Qaeda dan para pengusung ‘Islam radikal’, Saudi dianggap sebagai negara kafir lantaran sikap kooperatifnya dengan Amerika. Hal itu sebagaimana dinyatakan oleh Osama bin Laden yang menegaskan bahwa Saudi tidak layak disebut negara Islam karena dinilai sebagai antek Amerika. Konsekuensi dari stigma kafir terhadap pemerintah Saudi oleh Al-Qaeda, berimplikasi pada meletusnya teror bom Riyadh 2004.

Dan dalam pandangan kaum tradisionalis yang mencampuradukkan ajaran Islam dengan budaya lokal, eksistensi Saudi dianggap sebagai musuh karena merupakan pendukung utama dakwah pemurnian Islam. Setiap tahunnya pemerintah Saudi memberikan beasiswa kepada ribuan pelajar dari segala penjuru dunia untuk menimba ilmu di negeri tersebut. Sepulang dari Saudi, mereka yang lulus dari universitas Islam di negara itu menjadi penyeru dakwah tauhid yang mementang segala praktek bid’ah dan kemusyrikan. Saudi juga memiliki sejumlah Perguruan Tinggi Islam di berbagai negeri Muslim, seperti LIPIA di Indonesia dengan misi utama menebarkan dakwah tauhid. Maka tak heran, kaum tradisionalis yang praktek beragamanya masih lekat dengan kemusyrikan selalu menempatkan Saudi sebagai negara yang dimusuhi.

Menariknya, keempat kelompok di atas kerapkali menggunakan isu kedekatan Saudi dan Amerika sebagai senjata untuk mendiskreditkan negeri kerajaan tersebut. Satu pemandangan aneh, kalangan liberal dan tradisionalis merupakan kelompok yang paling alergi terhadap segala teori konspirasi Yahudi yang dilontarkan oleh kalangan ‘Islam pergerakan’ (baik Hizbut Tahrir, PKS, maupun Ikhwanul Muslimin). Namun bila konspirasi Yahudi itu menyangkut ‘hubungan rahasia Israel-Saudi’, mereka berada di garda terdepan dalam menyebarkan isu tersebut ke tengah umat.

Mencermati kebijakan luar negeri Saudi, sejatinya tidak melulu soal poros Riyadh-Washington. Ada banyak kebijakan luar negeri Saudi yang berdampak positif bagi solidaritas sesama Muslim. Di samping besarnya peran Saudi dalam bidang pendidikan, lewat kebijakan pemberian beasiswa besar-besaran kepada para pelajar Muslim untuk melanjutkan studi ke negeri tersebut serta pendirian universitas-universitas Islam di mancanegara maupun sumbangan dana kepada yayasan yang menaungi dakwah di berbagai penjuru dunia, Saudi merupakan satu-satunya negara di dunia yang sudah sejak lama membuka pintu lebar-lebar kepada para pengungsi Rohingya. Bila kehidupan warga Muslim Rohingya di negara asalnya sangat memprihatinkan akibat kebijakan represif penguasa Buddhist, serta yang mengungsi ke negara lain pun nasibnya terkatung-katung, tidak demikian dengan warga Muslim Rohingya di Saudi. Semenjak Raja Abdul Aziz menawari perlindungan keamanan kepada pengungsi Rohingya di negaranya tahun 1968, saat ini terdapat ratusan ribu umat Muslim Rohingya yang tinggal di negeri kelahiran Nabi SAW itu. Bahkan pada Maret lalu, pemerintah Saudi memberikan status kewarganegaraan kepada 250 ribu Muslim Rohingya. Itu artinya kini mereka berhak atas fasilitas kesehatan, pendidikan, dan hak mendapatkan pekerjaan yang setara dengan penduduk lokal. “Dunia baru menyadari penderitaan Rohingya di Burma kurang dari setahun lalu. Tapi Arab Saudi adalah negara satu-satunya yang peduli penderitaan mereka sejak lama,” kata Abdullah Marouf, sekretaris jenderal komunitas Burma dan kepala Global Rohingya Center di Jeddah, dilansir Arab News (selengkapnya lihat di sini).

Tak hanya terhadap Muslim Rohingya pemerintah Saudi memberikan uluran tangan. Tatkala terjadi tsunami Aceh penghujung tahun 2004, pemerintah dan rakyat Saudi juga menyumbang US$ 30 juta (Rp 4,8 triliun), di mana semua sumbangan itu berbentuk hibah. Di kesempatan lain, pasca terjadinya serangan udara secara ofensif pasukan zionis terhadap jalur Gaza selama beberapa pekan di awal tahun 2009, pemerintah dan rakyat Arab Saudi juga memberikan bantuan senilai 1 miliar dollar untuk rehabilitasi kota Gaza. Sayangnya, besarnya sumbangan Saudi kepada dunia Islam memang jarang terekspose media lantaran berita yang semacam itu dianggap ‘kurang menjual’.

Dengan demikian, semenjak lahirnya cikal bakal kerajaan Arab Saudi hingga hari ini, tak ada yang mengingkari bahwa Saudi merupakan negara yang paling berpengaruh terhadap dunia Islam. Berkembangnya seruan revivalisasi (pemurnian) Islam yang bergema di berbagai negeri Muslim, termasuk Indonesia belakangan ini, tak lepas dari peran Saudi Arabia. Meskipun bagi sebagian kalangan ‘Islam pergerakan’, eksistensi Saudi kerap diabaikan lantaran hubungan diplomatiknya dengan Amerika, namun sumbangan Saudi dalam bidang sosial dan pendidikan terhadap dunia Islam tetap tak terbantahkan. Terkait hal ini, satu catatan yang seharusnya diingat oleh kelompok-kelompok ‘pejuang khilafah’ adalah, tatkala kondisi umat Islam tengah tercerai-berai bak buih di lautan, maka mendahulukan konsolidasi antara sesama negeri Muslim jauh lebih utama ketimbang sikap-sikap konfrotatif terhadap Amerika dan sekutunya!


Sumber : FB Buletin Al-Minhaj