Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Tampilkan postingan dengan label Anak_. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak_. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Desember 2013

Nikmatnya Pandangan Itu Ada Pada Keberkahannya, Berkahnya Mata Itu Ada Pada Menjaga Pandangan Dari Hal-Hal Yang Diharamkan




Saudara kita ini bernama " Ahmad Ismail" (semoga Allah memberkahi beliau), salah satu peserta daurah tahfidhzul Quran Syaikh Ali bin Mahmal al-'utaibi, Thoif, Saudi Arabia. Beliau berasal dari Palestina. Allah ta'ala memberinya cobaan berupa kebutaan pada kedua matanya... namun itu tidak membuatnya minder dan putus asa untuk menghafal Al Quran . Semangatnya menghafal Al Quran perlu dijadikan pelajaran .

Saat saya tanya, " berapa hafalan antum akhi?", beliau menjawab : " khomsa wa 'isyriin juz'an, walhamdulillah (25 juz alhamdulillah)". Suatu hal yg luar biasa bukan ...? Dalam keadaan yg demikian ia bisa menghafal 25 juz dari Alquran, mengalahkan mereka yg dikaruniai mata yg sehat. Di saat mereka yg dikaruniai mata sehat mereka gunakan mata-mata mereka untuk bermaksiat kepada Allah Ta'ala -waliyadzubillah-.

Kepada hamba2 Allah yg dikaruniai mata yg sehat.

Sadarilah bhw mata ini merupakan nikmat yg besar.

Saya teringat nasehat indah dari Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al'abbad -hafidzohullah- mengenai nikmatnya mata , saat beliau menjelaskan potongan sebuah doa,

" ومتعنا بأبصارنا "

(dan berikanlah kami kenikmatan pada penglihatan kami)

Beliau menjelaskan :

" Nikmatnya pandangan itu ada pada keberkahannya, berkahnya mata itu ada pada menjaga pandangan dari hal-hal yg diharamkan. Manakala mata ia gunakan untuk memandang kitab Allah dan sunnah Rasulullah -shallallahualaihiwasallam-, Ini merupakan seagung-agungnya pandangan yg dilihat oleh mata. (Mengunakan matanya utk membaca, menghafal dan memperlajari kitab Allah dan sunnah Rasulullah -shallallahualaihiwasallam-)

Ia gunakan pula matanya untuk memandang perkataan2 ahli ilmu dan memandang ayat-ayat kauniyah Allah ; langit, gunung, pepohonan,lautan dll dg pandangan tafakkur dan tadabbur. Ia gunakan pula matanya utk memandu jalan yg ia titi menuju masjid dan jalan yg ia gunakan utk mencari nafkah untuk keluarganya. Inilah keberkahan mata.

Adapun -wal'iyadzubillah- , mereka yg menggunakan matanya utk melihat hal-hal yg diharamkan...terlebih di zaman ini, zaman fitnah dan ujian bagi banyak manusia. Ia rela duduk berlama2 di depan internet, melihat sebejat-bejatnya manusia..

Seakan2 lupa... bahwa mata ini merupakan nikmat Allah. Ia melihat tanpa rasa malu kepada Allah yg telah memberinya nikmat..!!! Dan dampaknya adalah berupa kegelapan hati -waliyadzubillah- .

(kami memohon kpd Allah agar memberi hidayah kpd kita semua dan memberkahi penglihatan dan pendengaran kita semua )

Allah 'azzawajalla berfirman,

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

" Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah LEBIH SUCI BAGI MEREKA, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". (QS. An-nur : 30)

Syaikh Abdurrazaq hafidzohullah melanjutkan penjelasan beliau: " Kemudian hindarilah..dan jangan engkau sampai terjerumus, ke dalam apa yg dinamakan dengan "kholwat model baru" . Yaitu kholwat yg banyak terjadi pada kaula muda zaman ini (kecil yg dirahmati Allah). Saat mereka di depan internet, terdoronglah ia untuk melihat situs2 p*rn* (wal'iyadzubillah) . Manakala ia sedang sendirian di kamar (atau di bilik2 warnet), kmd menoleh kesana-kemari dan ia melihat pintu kamar sudah terkunci rapat, ia berkata dalam dirinya ,

" sudahlah, tidak ada seorang pun yg melihat, situasi aman "

Lalau ia mulai membuka situs2 itu dan memandang apa yg diharamkan Allah 'azzawajalla.

Ia lupa bahwa Tuhan semesta alam melihatnya.!!

Imam Syafi'i pernah bersyair:

#إذا خلوت دهر يوم ، فﻻ تقل خلوت..... ولكن قل علي رقيب #

" Jika anda bersendirian pada suatu hari , jangan anda katakann , " saya sedang sendiri ,tidak ada seorg pun yg melihatku ".... akan tetapi katakan pada diri anda bhw , " ada Dzat yg selalu mengawasiku "

Katakan bahwa Allah melihatku, tidak ada sesuatu pun pada diri ini yg tersembunyi bagiNya.

Sadarilah saudaraku ,bahwa mata dan pendengaran akan dimintai pertanggung jawaban di hari kiamat kelak atas semua yg telah ia lihat dan yg telah ia dengar.

Allah berfirman :

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا

"Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (QS. Al-Isra :36)

Maka bertakwalah kepada Allah dan bersungguh2 lah dalam menjaga pandangan anda.. Bertakwalah kepada Allah -tabaraka wata'ala- agar Allah menjadikan mata ini, mata yg diberkahi dan pendengaran ini pendengaran yg diberkahi. "

by anshori

Sumber : FB UstadzAris.com

Senin, 19 Agustus 2013

Agar Buah Hati Menjadi Penyejuk Hati Rumah Tangga


Kehadiran sang buah hati dlm sebuah rumah tangga bisa diibaratkan seperti keberadaan bintang di malam hari, yang merupakan hiasan bagi langit. Demikian pula arti keberadaan seorang anak bagi pasutri, sebagai perhiasan dlm kehidupan dunia. Ini berarti, kehidupan rumah tangga tanpa anak, akan terasa hampa & suram.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَاباً وَخَيْرٌ أَمَلاً
 
“Harta & anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal & shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik utk menjadi harapan.” (Qs.al-Kahfi: 46)

Bersamaan dgn itu, nikmat keberadaan anak ini sekaligus juga merupakan ujian yang bisa menjerumuskan seorang hamba dlm kebinasaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan hal ini dlm firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوّاً لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ
 
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu & anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka…” (Qs. At-Taghaabun:14)
Makna “menjadi musuh bagimu” adalah melalaikan kamu dari melakuakan amal shaleh & bisa menjerumuskanmu ke dlm perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketika menafsirkan ayat di atas, syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “…Karena jiwa manusia memiliki fitrah utk cinta kepada istri & anak-anak, maka (dalam ayat ini) Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan hamba-hamba-Nya agar (jangan sampai) kecintaan ini menjadikan mereka menuruti semua keinginan istri & anak-anak mereka dlm hal-hal yang dilarang dlm syariat. Dan Dia memotivasi hamba-hamba-Nya utk (selalu) melaksanakan perintah-perintah-Nya & mendahulukan keridhaan-Nya…” .

Kewajiban Mendidik Anak

Agama Islam sangat menekankan kewajiban mendidik anak dgn pendidikan yang bersumber dari petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala & Rasul-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
 
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu & keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia & batu.”  (Qs. at-Tahriim: 6)

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu ketika menafsirkan ayat di atas berkata, “(Maknanya):  Ajarkanlah kebaikan utk dirimu & keluargamu.”

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Memelihara diri (dari api neraka) adalah dgn mewajibkan bagi diri sendiri utk melaksanakan perintah Allah & menjauhi larangan-Nya, serta bertobat dari semua perbuatan yang menyebabkan kemurkaan & siksa-Nya. Adapun memelihara istri & anak-anak (dari api neraka) adalah dgn mendidik & mengajarkan kepada mereka (syariat Islam), serta memaksa mereka utk (melaksanakan) perintah Allah. Maka seorang hamba tak akan selamat (dari siksaan neraka) kecuali jika dia (benar-benar) melaksanakan perintah Allah (dalam ayat ini) pada dirinya sendiri & pada orang-orang yang dibawa kekuasaan & tanggung jawabnya” .

Dalam sebuah hadits yang shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melarang Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhu memakan kurma sedekah, padahal waktu itu Hasan radhiallahu ‘anhu masih kecil, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hekh hekh” agar Hasan membuang kurma tersebut, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu tak mengetahui bahwa kita (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam & keturunannya) tak boleh memakan sedekah?”

Imam Ibnu Hajar menyebutkan di antara kandungan hadits ini adalah bolehnya membawa anak kecil ke mesjid & mendidik mereka dgn adab yang bermanfaat (bagi mereka), serta melarang mereka melakukan sesuatu yang membahayakan mereka sendiri, (yaitu dengan) melakukan hal-hal yang diharamkan (dalam agama), meskipun anak kecil belum dibebani kewajiban syariat, agar mereka terlatih melakukan kebaikan tersebut .
 
Metode Pendidikan Anak yang Benar
 
Agama Islam yang sempurna telah mengajarkan adab-adab yang mulia utk tujuan penjagaan anak dari upaya setan yang ingin memalingkannya dari jalan yang lurus sejak dia dilahirkan ke dunia ini. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku semuanya dlm keadaan hanif (suci & cenderung kepada kebenaran), kemudian setan mendatangi mereka & memalingkan mereka dari agama mereka (Islam).”

Dalam hadits shahih lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tangisan seorang bayi ketika (baru) dilahirkan adalah tusukan (godaan utk menyesatkan) dari setan.”
 
Perhatikanlah hadits yang agung ini, bagaimana setan berupaya keras utk memalingkan manusia dari jalan Allah sejak mereka dilahirkan ke dunia, padahal bayi yang baru lahir tentu belum mengenal nafsu, indahnya dunia & godaan-godaan duniawi lainnya, maka bagaimana keadaannya kalau dia telah mengenal semua godaan tersebut?

Maka di sini terlihat jelas fungsi utama syariat Islam & sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm menjaga anak yang baru lahir dari godaan setan, melalui adab-adab yang diajarkan dlm sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berhubungan dgn kelahiran seorang anak.

Sebagai contoh misalnya, anjuran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi seorang suami yang akan mengumpuli istrinya, utk membaca doa,

بسم الله اَللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَاz
 
“Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan & jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang suami yang ingin mengumpuli istrinya membaca doa tersebut, kemudian Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan tersebut, maka setan tak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya.”

Berdasarkan keterangan di atas, jelaslah bahwa syariat Islam merupakan satu-satunya metode yang benar dlm pendidikan anak, yang ini berarti bahwa hanya dgn menerapkan syariat Islamlah pendidikan & pembinaan anak akan membuahkan hasil yang baik.

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimin berkata, “Yang menentukan (keberhasilan) pembinaan anak, susah atau mudahnya, adalah kemudahan (taufik) dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, & jika seorang hamba bertakwa kepada Allah serta (berusaha) menempuh metode (pembinaan) yang sesuai dgn syariat Islam, maka Allah akan memudahkan urusannya (dalam mendidik anak), Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dlm (semua) urusannya.” (Qs. ath-Thalaaq: 4)
 
Pembinaan Rohani & Jasmani

Cinta yang sejati kepada anak tidaklah diwujudkan hanya dgn mencukupi kebutuhan duniawi & fasilitas hidup mereka. Akan tetapi yang lebih penting dari semua itu pemenuhan kebutuhan rohani mereka terhadap pengajaran & bimbingan agama yang bersumber dari petunjuk al-Qur-an & sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah bukti cinta & kasih sayang yang sebenarnya, karena diwujudkan dgn sesuatu yang bermanfaat & kekal di dunia & di akhirat nanti.
 
Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji Nabi-Nya Ya’qub ‘alaihissalam yang sangat mengutamakan pembinaan iman bagi anak-anaknya, sehingga pada saat-saat terakhir dari hidup beliau, nasehat inilah yang beliau tekankan kepada mereka. Allah berfirman,

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهاً وَاحِداً وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
 
“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) kematian, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Rabb-mu & Rabb nenek moyangmu, Ibrahim, Isma’il, & Ishaq, (yaitu) Rabb Yang Maha Esa & kami hanya tunduk kepada-Nya.’” (Qs. al-Baqarah: 133)
 
Renungkanlah teladan agung dari Nabi Allah yang mulia ini, bagaimana beliau menyampaikan nasehat terakhir kepada anak-anaknya utk berpegang teguh dgn agama Allah , yang landasannya adalah ibadah kepada Allah  semata-semata (tauhid) & menjauhi perbuatan syirik (menyekutukan-Nya dgn makhluk). Dimana kebanyakan orang pada saat-saat seperti ini justru yang mereka berikan perhatian utama adalah kebutuhan duniawi semata-mata; apa yang kamu makan sepeninggalku nanti? Bagaimana kamu mencukupi kebutuhan hidupmu? Dari mana kamu akan mendapat penghasilan yang cukup?
 
Dalam ayat lain Allah berfirman,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لاِبْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
 
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi nasehat kepadanya, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.’” (Qs. Luqmaan: 13)

Lihatlah bagaimana hamba Allah yang shaleh ini memberikan nasehat kepada buah hati yang paling dicintai & disayanginya, orang yang paling pantas mendapatkan hadiah terbaik yang dimilikinya, yang oleh karena itulah, nasehat yang pertama kali disampaikannya utk buah hatinya ini adalah perintah utk menyembah (mentauhidkan) Allah semata-mata & menjauhi perbuatan syirik .
 
Manfaat & Pentingnya Pendidikan Anak

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah – semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya – berkata, “Salah seorang ulama berkata, ‘Sesugguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat (nanti) akan meminta pertanggungjawaban dari orang tua tentang anaknya sebelum meminta pertanggungjawaban dari anak tentang orang tuanya. Karena sebagaimana orang tua mempunyai hak (yang harus dipenuhi) anaknya, (demikian pula) anak mempunyai hak (yang harus dipenuhi) orang tuanya. Maka sebagaimana Allah berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْأِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْناً
 
“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya.” (Qs. al-’Ankabuut: 8)
(Demikian juga) Allah berfirman,

قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
 
“Peliharalah dirimu & keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia & batu.” (Qs. at-Tahriim: 6)

Maka barangsiapa yang tak mendidik anaknya (dengan pendidikan) yang bermanfaat baginya & membiarkannya tanpa bimbingan, maka sungguh dia telah melakukan keburukan yang besar kepada anaknya tersebut. Mayoritas kerusakan (moral) pada anak-anak timbulnya (justru) karena (kesalahan) orang tua sendiri, (dengan) tak memberikan (pengarahan terhadap) mereka, & tak mengajarkan kepada mereka kewajiban-kewajiban serta anjuran-anjuran (dalam) agama. Sehingga karena mereka tak memperhatikan (pendidikan) anak-anak mereka sewaktu kecil, maka anak-anak tersebut tak bisa melakukan kebaikan utk diri mereka sendiri, & (akhirnya) merekapun tak bisa melakukan kebaikan utk orang tua mereka ketika mereka telah lanjut usia. Sebagaimana (yang terjadi) ketika salah seorang ayah mencela anaknya yang durhaka (kepadanya), maka anak itu menjawab: “Wahai ayahku, sesungguhnya engkau telah berbuat durhaka kepadaku (tidak mendidikku) sewaktu aku kecil, maka akupun mendurhakaimu setelah engkau tua, karena engkau menyia-nyiakanku di waktu kecil maka akupun menyia-nyiakanmu di waktu engkau tua.”

Cukuplah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut menunjukkan besarnya manfaat & keutamaan mendidik anak,

إن الرجل لترفع درجته في الجنة فيقول: أنى هذا ؟ فيقال: باستغفار ولدك لك
 
“Sungguh seorang manusia akan ditinggikan derajatnya di surga (kelak), maka dia bertanya, ‘Bagaimana aku bisa mencapai semua ini? Maka dikatakan padanya: (Ini semua) disebabkan istigfar (permohonan ampun kepada Allah yang selalu diucapkan oleh) anakmu untukmu.’”

Sebagian dari para ulama ada yang menerangkan makna hadits ini yaitu: bahwa seorang anak jika dia menempati kedudukan yang lebih tinggi dari pada ayahnya di surga (nanti), maka dia akan meminta (berdoa) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar kedudukan ayahnya ditinggikan (seperti kedudukannya), sehingga Allah pun meninggikan (kedudukan) ayahnya.

Dalam hadits shahih lainnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika seorang manusia mati maka terputuslah (pahala) amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah yang terus mengalir (pahalanya karena diwakafkan), ilmu yang terus diambil manfaatnya (diamalkan sepeninggalnya), & anak shaleh yang selalu mendoakannya.”

Hadits ini menunjukkan bahwa semua amal kebaikan yang dilakukan oleh anak yang shaleh pahalanya akan sampai kepada orang tuanya, secara otomatis & tanpa perlu diniatkan, karena anak termasuk bagian dari usaha orang tuanya . Adapun penyebutan “doa” dlm hadits tidaklah menunjukkan pembatasan bahwa hanya doa yang akan sampai kepada orangtuanya , tapi tujuannya adalah utk memotivasi anak yang shaleh agar orang tuanya.

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani – semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya – berkata, “(Semua pahala) amal kebaikan yang dilakukan oleh anak yang shaleh, juga akan diperuntukkan kepada kedua orang tuanya, tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala anak tersebut, karena anak adalah bagian dari usaha & upaya kedua orang tuanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى
 
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (Qs. an-Najm: 39)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh sebaik-baik (rezki) yang dimakan oleh seorang manusia adalah dari usahanya sendiri, & sungguh anaknya termasuk (bagian) dari usahanya.”

Kandungan ayat & hadits di atas juga disebutkan dlm hadits-hadist (lain) yang secara khusus menunjukkan sampainya manfaat (pahala) amal kebaikan (yang dilakukan) oleh anak yang shaleh kepada orang tuanya, seperti sedekah, puasa, memerdekakan budak & yang semisalnya.”

Tulisan ringkas ini semoga menjadi motivasi bagi kita utk lebih memperhatikan pendidikan anak kita, utamanya pendidikan agama mereka, karena pada gilirannya semua itu manfaatnya utk kebaikan diri kita sendiri di dunia & akhirat nanti.

Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri & keturunan kami sebagai penyejuk (pandangan) mata (kami), & jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
 
Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 20 Jumadal akhir 1430 H
 
Abdullah bin Taslim al-Buthoni
 
***
 
Artikel muslimah.or.id 

http://salafy.web.id/agar-buah-hati-menjadi-penyejuk-hati-rumah-tangga-360.htm

sumber: www.muslimah.or.id

Rabu, 17 Juli 2013

Melatih Anak Berpuasa

Di Tulis Oleh Al Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Walaupun para ulam belum mewajibkan pada anak-anak yang belum mukallaf (balig) untuk menunaikan puasa. Namun, hal ini tidaklah menutup upaya dari para pendidik dan orang tua untuk melatih anak berpuasa. Ini sebagaiman telah dilakukan oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membiasakan melatih anak-anak mereka berpuasa. Itu tergambar dari hadits Rubayyi’ bintu al-Mu’awwidz radhiyallahu ‘anha sebagaimana telah disampaikan pada artikel terdahulu.

Perhatian Islam terhadap anak-anak, dalam hal berpuasa ini, ditunjukkan pula melalui pembahasan khusus dalam Kitab Shahih Al-Bukhari. Al-Bukhari menyebutkan secara khusus terkait puasa anak-anak dengan menyebutkan dalam salah satu bab-nya dengan judul ‘Shiyamu Ash-Shibyan’ (Puasa Anak-anak). Kepedulian ini semestinya bisa memberi dorongan tersendiri bagi para orang tua atau pendidik untuk menghasung anak-anaknya berpuasa. Ada beberapa faidah yang bisa dipetik melalui upaya melatih anak berpuasa. Diantaranya :

Pertama, menanamkan pada anak keikhlasan dan merasa diawasi oleh Allah Ta’ala. Puasa akan melatih diri anak untuk jujur terhadap dirinya sendiri.

Kedua, menanamkan sikap sabar dengan keadaan yang menimpanya. Saat berpuasa, sang anak tentu merasakan lapar dan dahaga. Saat seperti itulah dirinya dilatih untuk menahan diri (bersabar) agar tidak berbuka. Puasa mengkondisikan dirinya untuk bersikap sabar.

Ketiga, menanamkan nilai-nilai kebaikan. Seseorang yang tengah berpuasa dituntut untuk banyak beramal salih. Mulai dari menjaga lisan untuk tak berucap yang tidak baik hingga menyempurnakan ibadah lainnya, seperti shalat, membaca Alquran, sedekah dan sebagainya. Keadaan bulan Ramadhan sangat membuka peluang bagi anak-anak untuk bisa beramal salih.

Keempat, menumbuhkan jiwa kesetiakawanan (solidaritas) dan kesetaraan. Kelima, menanamkan jiwa untuk bermurah hati, suka berderma. Sebagaimana dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat Ramadhan, beliau begitu sangat pemurah. Demikian diantara faidah melatih anak berpuasa. Wallahu a’lam.

Sumber: http://www.salafy.or.id/melatih-anak-berpuasa/