Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Tampilkan postingan dengan label Syirik_. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syirik_. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 September 2013

13 Malapetaka Akibat Kesyirikan




Pada suatu hari, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Dosa apakah yang paling besar?” Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjawab,

أَنْ تَجْعَلَ للهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ

“Engkau mengadakan tandingan untuk Allah, padahal Allah yang telah menciptakanmu.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari hadits Abdullah bin Mas’ûd radhiyallâhu ‘anhu]


Itulah kesyirikan yang merupakan dosa terbesar. Namun, yang menjadi musibah pada masa ini adalah bahwa banyak kaum muslimin meremehkan dosa itu, bahkan terjatuh ke dalam dosa tersebut.

Bila seseorang mendapatkan kepastian akan datangnya gelombang tsunami, letusan gunung berapi, gempa bumi, banjir bandang, longsor, dan selainnya, padanya akan terlihat ketakutan yang luar biasa dan berbagai persiapan untuk menyelamatkan diri, keluarga, dan harta benda. Namun, tiada yang menyangka bahwa, ternyata, di antara mereka, banyak yang mengundang datangnya petaka dan kehancuran dengan berbagai praktik kesyirikan yang mereka lakukan. Perhatikanlah ancaman kehancuran alam semesta dengan adanya kesyirikan dalam uraian firman Allah ‘Azza wa Jalla,


وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا. لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا. تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا. أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا. وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا

“Dan mereka berkata, ‘Ar-Rahmân (Allah Yang Maha Pemurah) mengambil (mempunyai) anak.’ Sesungguhnya kalian telah mendatangkan suatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah, karena ucapan itu, serta bumi terbelah dan gunung-gunung runtuh, sebab mereka menyerukan bahwa Ar-Rahmân mempunyai anak. Padahal, Ar-Rahmân tidaklah layak mengambil (mempunyai) anak.” [Maryam: 88-92]

Juga perhatikanlah bagaimana kehancuran pelaku kesyirikan dalam firman Allah,

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

“Barangsiapa yang berbuat kesyirikan terhadap Allah, ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan oleh angin ke tempat yang jauh.” [Al-Hajj: 31]

Kalau Nabi Ibrahim ‘alaihis salâm, yang merupakan panutan orang-orang yang bertauhid, mengkhawatirkan kesyirikan terhadap diri dan keturunannya, sebagaimana dalam untaian doa beliau yang disebut dalam firman-Nya,

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ. رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ

“… Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku terhadap menyembah berhala-berhala. Wahai Rabb-ku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan manusia.” [Ibrahîm: 35-36]

Bila Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam sangat mengkhawatirkan kesyirikan tersebut terhadap para shahabat beliau yang mulia, sebagaimana dalam sabdanya yang agung,


إِنَّ أَخوْفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الَأَصْغَرُ قَالُوْا وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ الرِّيَاءُ

“Sungguh hal yang paling aku khawatirkan terhadap kalian adalah syirik ashghar. (Para shahabat) bertanya, ‘Apa syirik ashghar itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Riyâ`.’.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan selainnya. Sanadnya jayyid sebagaimana perkataan Al-Mundziry]

Ternyata, pada masa ini, kita melihat bahwa sejumlah kaum muslimin sangat tenang dengan melempar sesajian ke gunung Merapi, merasa nikmat dengan sembelihan untuk kuburan dan tempat-tempat yang dikeramatkan, serta terbuai nyaman dengan berbagai ritual di tepi lautan, bahkan sebagian kaum muslimin rela mengambil kotoran dari seekor kerbau, yang bergelar ‘Kyai Slamet’, sebagai berkah dan kebaikan. Tentunya, kamus kesyirikan seperti ini akan terbit dalam jilid tebal bila dikumpulkan dari Sabang hingga Merauke.

Kalau Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, pada akhir hayatnya, memperingatkan umatnya agar tidak berlebihan terhadap dirinya sebagaimana dalam sabda beliau yang mulia,

لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashara. Mereka menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ]

Sangatlah menyedihkan: kita menyaksikan orang-orang yang mengajak manusia untuk mengultuskan diri-diri mereka dan mengambil berkah dari mereka lantaran keistimewaan yang dia sangka atau garis keturunan yang dia sandang.

Kesyirikan adalah menyetarakan antara selain Allah dan Allah pada hal-hal yang merupakan kekhususan Allah, baik dalam rubûbiyyah Allah (penciptaan, kekuasaan, dan pengaturan-Nya), ulûhiyyah (peribadahan kepada-Nya) maupun nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Allah Ta’âlâ menyebut ucapan penduduk neraka dalam firman-Nya,

تَاللَّهِ إِنْ كُنَّا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ. إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ

“Demi Allah, sungguh dahulu (di dunia) kami berada dalam kesesatan yang nyata karena kami menyamakan kalian dengan Rabb alam semesta.” [Asy-Syu’arâ`: 97-98]

Ibnul Qayyim rahimahullâh menyebutkan, “(Kaum musyrikin) mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya yang menciptakan segala sesuatu, Rabb dan Penguasa sesuatu itu, serta (mengakui) bahwa sembahan-sembahan mereka tidaklah mencipta, tidak dapat memberi rezeki, tidak pula dapat menghidupkan dan mematikan. Jadi, penyetaraan tersebut hanyalah pada kecintaan, pengagungan dan ibadah sebagaimana keadaan kebanyakan kaum musyrikin di seluruh alam. Bahkan, mereka semua mencintai dan mengagungkan sembahan-sembahan mereka serta memberi loyalitas mereka kepada (sembahan) tersebut selain Allah. Banyak di antara mereka, bahkan kebanyakan di antara mereka, mencintai sembahan-sembahan mereka melebihi kecintaannya kepada Allah.” [Madârijus Sâlikîn 1/373]

Juga, Allah menerangkan,

ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

“Namun, orang-orang yang kafir membuat tandingan untuk Rabb mereka.” [Al-An’âm: 1]

Syaikhul Islam rahimahullâh berkata, “Pokok kesyirikan adalah engkau menyetarakan/menyamakan Allah dengan makhluk-makhluk-Nya pada sebagian hal yang hanya Allah semata yang berhak akan hal itu.” [Al-Istiqâmah 1/344]

Untuk lebih memperjelas tentang petaka kesyirikan terhadap individu, masyarakat, dan negeri, berikut beberapa bahaya kesyirikan selain dari hal-hal yang telah disebutkan di atas.

Pertama: kesyirikan adalah perusak dan penghancur amalan.

Allah Jalla Jalâluhu berfirman kepada Nabi-Nya,


وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ

“Dan sesungguhnya, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu, ‘Jika engkau berbuat kesyirikan, niscaya akan terhapuslah seluruh amalanmu dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang merugi.’ Oleh karena itu, hendaklah kepada Allah saja engkau menyembah dan hendaklah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur.” [Az-Zumar: 65-66]

Kedua: pelaku syirik akbar adalah kekal di dalam neraka.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, pasti Allah mengharamkan surga kepadanya, dan tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada seorang penolong pun bagi orang-orang zhalim itu.” [Al-Mâ`idah: 72]

Ketiga: kesyirikan adalah dosa yang tidak diampuni. 

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, tetapi Dia mengampuni segala dosa yang selain (syirik) itu bagi siapa saja yang Dia kehendaki.” [An-Nisâ`: 48, 116]

Keempat: amalan pelaku kesyirikan, walaupun sangat banyak dan menggunung, pada hari kiamat tidaklah dianggap sama sekali bila bercampur dengan noda kesyirikan. 

Allah Jallah Sya`nuhu menegaskan,

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

“Dan Kami menghadapi segala amalan yang mereka kerjakan, lalu Kami menjadikan amalan itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” [Al-Furqân: 23]

Kelima: syirik adalah dosa yang paling besar, kekejian yang paling keji, kemungkaran yang paling mungkar, dan kezhaliman yang paling zhalim. 

Allah ‘Azzat ‘Azhamatuhu berfirman,


وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqmân berkata kepada anaknya sewaktu memberi pelajaran kepada (anak)nya, ‘Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan (Allah). Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.’.” [Luqmân: 13]

Keenam: kesyirikan adalah sebab munculnya rasa takut dan hilangnya keamanan pada manusia, masyarakat, bangsa, dan negara. 

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,


الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezhaliman (kesyirikan), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat hidayah.” [Al-An’âm: 82]

Ketujuh: kesyirikan adalah sebab kebinasaan terbesar. 

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,


اجْتَنِبُوْا السَّبْعَ الْمُوْبِقَاتِ قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا هُنَّ ؟ قَالَ الشِّرْكُ بِاللهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِيْ حَرَّمَ اللهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيْمِ وَأَكْلُ الرِّبَا وَالتَوَلِّيْ يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ

“Hindarilah tujuh yang membinasakan.” Ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasululläh, apa (tujuh hal) itu?” Beliau menjawab, “(1) Berbuat kesyirikan terhadap Allah, (2) melakukan sihir, (3) membunuh jiwa yang Allah haramkan, kecuali dengan haq, (4) memakan harta anak yatim, (5) memakan riba, (6) lari pada hari perjumpaan dengan musuh, dan (7) menuduh perempuan mukminah, yang menjaga diri lagi tidak kenal maksiat, dengan perbuatan zina.”.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu]

Kedelapan: kesyirikan adalah najis maknawi yang paling najis. 

Allah Jalla wa ‘Alâ berfirman,


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَذَا

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini.” [At-Taubah: 28]

Kesembilan: kesyirikan adalah sebab terangkatnya kemuliaan, kejayaan, dan pertolongan Allah dari umat Islam. 

Allah Al-‘Azîz Al-Hakîm berfirman,


وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman, di antara kalian, dan beramal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan berkuasa orang-orang yang sebelum mereka, sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan, menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada berbuat kesyirikan sesuatu apapun terhadap-Ku. Namun, barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, mereka itulah orang-orang fasik.” [An-Nûr: 55]

Kesepuluh: darah dan harta pelaku kesyirikan adalah halal bila terjadi peperangan yang dipimpin oleh seorang pemerintah muslim. 

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,


أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهَ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَيُقِيْمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوْا عَصَمُوْا مِنِّيْ دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ

“Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada yang berhak diibadahi, kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah rasul Allah, serta menegakkan shalat dan mengeluarkan zakat. Apabila mereka telah melaksanakan hal itu, terjagalah darah dan harta mereka, kecuali dengan haqnya, dan perhitungan mereka adalah terhadap Allah.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari beberapa orang shahabat, tergolong sebagai hadits mutawâtir]

Kesebelas: syaithan berkuasa terhadap pelaku kesyirikan. 

Allah Jalla Sya`nuhu berfirman,


إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ

“Sesungguhnya kekuasaan (syaithan) itu hanyalah atas orang-orang yang menjadikan dia sebagai pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukan dia dengan Allah.” [An-Nahl: 100]

Kedua belas: syirik adalah sebab kehinaan dan kemurkaan Allah. 

Rabbul ‘Izzah menyatakan dalam Tanzîl-Nya,


إِنَّ الَّذِينَ اتَّخَذُوا الْعِجْلَ سَيَنَالُهُمْ غَضَبٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَذِلَّةٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُفْتَرِينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya) kelak akan tertimpa kemurkaan dari Rabb mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami membalas orang-orang yang membuat-buat kebohongan.” [Al-A’râf: 152]

Ketiga belas: kesyirikan adalah sebab celaan dan hilangnya taufiq dari Allah. 

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,


لَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَخْذُولًا

“Janganlah engkau mengadakan sembahan lain di sisi Allah agar engkau tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (oleh Allah).” [Al-Isrâ`: 22]

وَلَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَتُلْقَى فِي جَهَنَّمَ مَلُومًا مَدْحُورًا

“Dan janganlah engkau mengadakan sembahan lain di sisi Allah yang mengakibatkan engkau dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah).” [Al-Isrâ`: 39]

Demikianlah beberapa bahaya kesyirikan. Walaupun banyak bahaya lain yang luput disebutkan di sini, kami berharap bahwa uraian ringkas di atas cukup sebagai pelajaran bagi seluruh kaum muslimin dan muslimat akan bahaya dan dosa kesyirikan di dunia dan di akhirat. Wallâhul Musta’ân.


✔----------------------------------------------------------------------
Mamen yuk diLike ✔ Share ✔ Tag ✔ Comment ✔

LIKE >> Al-Uyeah << Banyak Poster Dakwah Keren di situ

Selasa, 03 September 2013

Al Latta, Pembuat Roti Yang Disembah




Al Latta, Pembuat Roti Yang DISEMBAH.
= = = = = = = = = = = = = = = = = =

Mungkin kita sudah mendengar bahwa Latta adalah nama berhala yang disembah oleh orang kafir Quraisy dahulu yang berupa patung.

Nama Latta di singgung oleh Allah Ta’ala dalam ayat:

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى (19) وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى(20) أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَى (21) تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَى (22) إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى (23).

“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Latta dan Al Uzza. dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka” (QS. An Najm: 19-23).

Namun kebanyakan dari kaum muslimin belum mengetahui siapa sebenarnya Latta itu...?
Apakah ia sekedar patung?

Mengapa ia disembah?

Imam Ibnu Jarir Ath Thabari Rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ada 2 cara membaca اللَّاتَ.

Yang pertama adalah dengan men-takhfif huruf ta’ (tidak di-tasydid). Jadi dibaca al laata, yang menunjukkan sebuah nama. 

Sebagian ulama mengatakan disebut al laata karena berasal dari lafadz ‘Allah’ kemudian ditambahkan ta’ ta’niits.

Sebagaimana ‘Amr, menjadi ‘Amrah. Juga sebagaimana ‘Abbas menjadi ‘Abbasah. Demikianlah cara orang-orang musyrikin menyebut berhala mereka dengan nama Allah untuk mengagungkan para berhala tersebut.

Dan dari nama Allah Al ‘Aziz muncul nama Al ‘Uzza. Dan mereka menganggap para berhala itu sebagai anak-anak perempuan Allah (Tafsir Ath Thabari, 22/522).

Yang membaca dengan bacaan al laata diantaranya Qatadah, ia pun menjelaskan:

“adapun al laata itu letaknya ada di Tha’if” (Tafsir Ath Thabari, 22/523)

Juga Ibnu Zaid, ia berkata:

“al laata itu sebuah rumah yang berada berada di Nakhlah, daerah antara Thaif dan Makkah” (Tafsir Ath Thabari, 22/523).

Adapun bacaan yang kedua adalah dengan men-tasydid huruf ta’. Jadi dibaca al laatta, yang menunjukkan sifat dari si berhala yang dimaksud. Bacaan ini dari riwayat Ibnu ‘Abbas, Mujahid dan Abu Shalih yang mereka menyatakan:

“al latta dahulu adalah seorang lelaki yang membuat adonan roti (yang dibagikan cuma-cuma) kepada jama’ah haji. Ketika ia meninggal, orang-orang beri’tikaf di kuburannya dan menyembahnya” (Tafsir Ath Thabari, 22/523).

Ibnu Katsir juga menjelaskan tentang Latta dalam Tafsir Ibnu Katsir (7/455) :

“al latta adalah patung putih yang berukir. Ia ditempatkan dalam sebuah rumah di Tha’if yang memiliki kelambu-kelambu dan juru kunci." 

Sekelilingnya terdapat halaman. Latta di agungkan oleh penduduk Tha’if”

Kemudian Ibnu Katsir menjelaskan hakikat Latta dan membawakan hadits :

“Dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu’anhuma, beliau menafsirkan makna ayat اللات والعزى bahwa Latta adalah seorang lelaki yang membuat adonan roti untuk para jama’ah haji” (HR. Bukhari no. 4859).

Singkat kata, Latta adalah sebutan untuk seorang shalih yang membuatkan roti kepada jama’ah haji dengan cuma-cuma.

Ketika ia meninggal, orang-orang mengenangnya dan mendatangi kuburannya, lalu beribadah di sana. Lama-kelamaan ia diagungkan dan menjadi berhala yang disembah selain Allah.

Faedah yang bisa kita ambil,
--------------------------------
ternyata memuji dan mengkultuskan orang secara berlebihan bisa mengakibatkan ia menjadi sesembahan yang disembah.

Awalnya hanya dipuja-puji, namun orang-orang selanjutnya mulai membuatkan patung, lalu dibuatkan rumah untuk patung itu, lalu lama-kelamaan mereka beri’tikaf (berdiam diri untuk beribadah) di sana, dan akhirnya orang-orang selanjutnya pun menyembahnya. 

Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sangat mewanti-wanti umatnya untuk tidak berlebihan memujinya dan tidak mengkultuskan beliau. Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لا تُطْروني ، كما أطْرَتِ النصارى ابنَ مريمَ ، فإنما أنا عبدُه ، فقولوا : عبدُ اللهِ ورسولُه

“Jangan berlebihan memujiku sebagaimana orang-orang Nashrani memuja-muji Isa bin Maryam. Karena aku hanyalah hamba-Nya maka sebutlah aku: hamba Allah dan Rasul-Nya” (HR. Al Bukhari 3445)

Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam juga mewanti-wanti agar makam beliau tidak dijadikan tempat ibadah dan disembah, beliau bersabda:

اللَّهمَّ لا تجعَلْ قبري وثنًا يُعبَدُ, اشتدَّ غضبُ اللهِ على قومٍ اتَّخذوا قبورَ أنبيائِهم مساجدَ

“Ya Allah, jangan jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah. Sangat keras murka Allah terhadap kaum yang menjadikan kuburan Nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah)” (HR. Ahmad 13/88, di shahihkan Ahmad Syakir dalam ta’liq-nya).

Faedah lain, 
-------------
ternyata orang-orang musyrik zaman Jahiliyah bukan menyembah patung-patung yang diyakini bisa menciptakan bumi, menciptakan langit, mengatur alam semesta dan isinya. Akan tetapi mereka menyembah berhala yang merupakan representasi dari makhluk Allah yang dianggap shalih, dianggap keramat, dianggap bisa mendekatkan dan menyampaikan hajat mereka kepada Allah.

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”” (QS. Az Zumar: 3).

Wallahu waliyut taufiq.

Sumber:
Tulisan Yulian Purnama di Artikel Muslim Or Id

Bagaimana dengan Keadaan Orang-Orang Peng-Agung & Penyembah Kubur (Kuburiyyun) Zaman ini, jika dibanding dengan Kaum Musyrikin Makkah (Para Penyembah Kubur) dahulu..???

Ternyata,

Kuburiyyun Zaman sekarang Lebih Parah dan Lebih Hina..

Jika Dahulu Kubur2x orang Sholih yang Benar benar Nyata Kesholihannya, di Ibadahi dan Disembah (dijadikan Wasilah) dalam Meminta & Ber-Do'a (Ber-Ibadah) kepada Allah Ta'ala..

Namun,

Kuburiyyun Zaman sekarang, mereka ber-Ibadah (Menyembah) atau Mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala Lewat Perantara (Wasilah) Kubur-Kubur Orang2x yang mereka "ANGGAP SHOLIH"..

Wal'iyadzubillaah..

Nas'alullaha al 'aafiyah.

Senin, 26 Agustus 2013

Risalah untuk Sebagian Pecinta Ahlul Bait perihal Kuburan Yang Dikeramatkan



Risalah ini untuk saudara-saudaraku yang juga mencintai Ahlul Bait, yang juga berharap hidupnya Allah berkati, yang juga ingin selamat dari adzab Kubur dan Neraka.. Risalah ini terlebih-lebih untuk penulisnya. Namun, alangkah indahnya jika kita saling berbagi. Dan harapnya manfaat terberi dan ilmu kita Allah berkati..

==> Saudaraku, berhentilah bersikap berlebihan dalam beribadah, terlebih jika ada sangkut pautnya dengan bid'ah dan syirik..

==> Saudaraku, takutlah kamu pada Allah Yang Maha Kuasa. Dia memiliki Neraka, dengan adzab-Nya pedihnya tak ternyana..

==> Saudaraku, jagalah dirimu dari syirik sekecil apapun..

==> Saudaraku, bentengi dirimu dari kekufuran. Sesungguhnya kita semua tidak pernah berharap terabadikan di Neraka Jahannam. Tiap hari kita dalam tiap rakaat shalat memohon agar diberi jalan yang lurus, jalan yang Allah ridhai.

==> Saudaraku, di dalam Shahih Muslim hadits nomor 969, disebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib -seorang Ahlul Bait radhiyallahu anhum- berkata kepada Abu Al-Hayyaj Al-Asady :

"Ketahuilah, aku mengutusmu seperti Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- mengutusku. Jangan biarkan berhala kecuali engkau merobohkannya !! Dan tidak pula kuburan yang menonjol melainkan engkau meratakannya !!"

Maksud dari kuburan yang menonjol adalah kuburan yang lebih menonjol dari yang lainnya, sehingga ia harus diratakan, agar semuanya sama, agar tidak muncul anggapan bahwa orang yang dikubur di tempat itu memiliki keistimewaan meskipun telah dikubur berzaman lalu. Karena hal itu berpotensi menjadi sarana ghuluw (berlebih-lebihan) terhadapnya. Dan benarlah terjadinya sejak dahulu hingga kini..

==> Saudaraku, pernahkah kamu mendengar cerita Umar yang takut jika kaum muslimin terkena fitnah kesyirikan ?? Sehingga Umar pun menutup jalan menuju kesyirikan. Ibnu Wadhdhah berkata, "Aku mendengar Isa bin Yunus berkata :

"Umar bin Al-Khaththab memerintahkan untuk menebang pohon yang Nabi pernah menerima baiat kesetiaan di bawahnya !!"

Kenapa beliau menebangnya ???? Karena banyak manusia pergi ziarah ke sana dan shalat di bawahnya. Itu dikhawatirkan akan terjadinya kesyirikan di tengah umat..

==> Dan saudaraku yang tercinta dan pecinta Ahlul Bait, apa yang selama ini kamu lakukan.. Apa niat dalam hatimu ketika mengunjungi kuburan-kuburan orang yang dianggap sebagai wali-wali Allah ??? Apa benar pergimu ke sana untuk mengambil ibrah dengan mengingat kematian ?? Atau justru mencari penghidupan dan penghasilan ??? Atau mengharap berkah dan tuah kuburan ???

==> Saudaraku, takutlah kamu pada Allah. Ikutilah petunjuk Nabimu dan Nabiku jua..

Ummu Salamah pernah bercerita pada Rasulullah tentang gereja yang dia lihat di tanah Habasyah dengan rupaka-rupaka (gambar-gambar) di dalam gereja tersebut. Perhatikan tanggapan Rasulullah tentangnya :

أولئك إذا مات فيهم الرجل الصالح -أو العبد الصالح-، بنوا على قبره مسجدا، وصوروا فيه تلك الصور، أولئك شرار الخلق عند الله

"Mereka itu, apabila ada dari mereka orang yang shalih atau seorang hamba yang shalih meninggal, mereka bangun di atas kuburannya tempat ibadah dan juga mereka buat di dalamnya gambar-gambar. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk bagi Allah !!" [H.R. Al-Bukhary dan Muslim]

==> Saudaraku, apakah kamu yakin bahwa bentuk-bentuk kuburan para wali atau orang keturunan Ahlul Bait tersebut sesuai tuntunan Nabi atau malah justru jelas-jelas melanggar ??? Apa kamu yakin apa yang kamu lakukan di sana dengan wirid-wirid terlisankan, koor-koor tersuarakan, dan apalah selain itu, adalah amalan Sunnah yang memang ada syariatnya ??????? Atau justru itu hanya buatan orang-orang kita saja ??????

Abdullah bin Mas'ud pernah berkata :

كيف أنتم إذا لبستكم فتنة يهرم فيها الكبير، وينشأ فيها الصغير، تجري على الناس يتخذونها سنة، إذا غُيّرت قيل: غيرت السنة

"Bagaimana jika kalian telah diselimuti fitnah (kesyirikan) yang mewarnai kehidupan orang tua dan juga anak kecil ? Hal itu menjadi adat bagi manusia, (bahkan) mereka menjadikannya sebagai Sunnah ! Bila adat tersebut diubah, maka malah akan dikatakan : 'Sunnah telah dirubah !'" [Riwayat Ad-Daarimy, Hakim dan Ibnu Abdil Barr]

==> Saudaraku, apakah yang kamu amalkan itu memang benar Sunnah ????

Berhati-hatilah-semoga Allah menjagamu-, saudaraku ; karena banyak sekali kini orang-orang jahat bertopeng. Mengaku mencintai suatu kemuliaan, namun ternyata menyesatkan dan hanya hendak meraup keuntungan. Takutlah kamu pada Allah. Ingatlah, fitnah kesyirikan adalah seburuk-buruk fitnah ; karena mengekalkan pelakunya di Jahannam. Tidak takutkah kamu ??? Tidak takutkah kamu, saudaraku, jikalau kini kamu mengikuti petunjuk orang-orang bertopeng yang kamu kira itu adalah Sunnah dan Ibadah, namun tidakkah pernah terfikirkan rasa takut olehmu jikalau bisa jadi bagi Allah itu adalah Syirik dan Bid'ah ????

==> Saudaraku, selamatkanlah dirimu dari jilatan api Neraka. Perkara syirik dan juga bid'ah bukan perkara coba-coba. Berhati-hatilah. Banyak kini orang bermudah-mudah. Jika dinasehati sedikit, marah-marah. Jika diberi dalil sekelumit, bergejolaklah darah !!

==> Saudaraku, Rabbmu adalah Allah Ta'ala ; maka sembahlah Dia semata. Jika engkau dalam kesulitan hidup, berdoalah hanya kepada-Nya. Angkat tanganmu menengadah, tundukkan kepalamu menghamba, sebutlah nama-nama-Nya Yang Maha Mulia, pujilah Dia, tuturkan apa yang pada hidupmu menimpa, mintalah pertolongan-Nya dan tuluskan jiwa tanpa harus kamu menghadap ke kuburan para wali..

==> Saudaraku, Rasulmu adalah Muhammad bin Abdillah, bukan Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i, bukan As-Suyuthy, bukan pula selainnya. Maka, ikutilah petunjuk Rasul. Ikuti pula manhaj para sahabat dan tabi'in..

Doaku untukmu, semoga Allah senantiasa menjagamu dan juga tentu aku dari syirik kecil maupun besar dan dari kekufuran..

Sungguh, sangat tidak rela jika seorang muslim, yang terlahir dalam keadaan fitrah sebagaimana semua bayi Allah ciptakan, namun kala dewasa hidupnya terlarut dalam tipuan.. Berlindunglah pada Allah dari godaan syetan, baik syetan dari kalangan jin, maupun manusia..

Mari saudaraku, kembali ke jalan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Keduanya adalah kunci bahagia kita dunia dan akhirat. Bukalah pintu surga sedari kini dengan memulai di atas jalan Al-Qur'an dan As-Sunnah kita kembali..

Semoga Allah menjagamu, saudara-saudaraku..

[Taken from Hasan Al-Jaizy's Wall Post]
FB: Membedah Bid'ah