Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Tampilkan postingan dengan label Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hati. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 November 2013

Terapi Penyakit Wahn (CintaDunia) - Ummu Ihsan Choiriyah& Abu Ihsan al-Atsary



Judul Buku       : Terapi Penyakit Wahn (CintaDunia)
Penulis             : Ummu Ihsan Choiriyah& Abu Ihsan al-Atsary
Penerbit           : Rumah Ilmu
Isi                    : 262 Halaman
Dimensi           : Hard Cover, 19,5 x 11,5 cm
Harga              : Rp. 40.000 (Diskon 30%) Rp 28.000
Sungguh merupakan kebodohan apabila seseorang insan menambatkan hatinya pada dunia.Hatinya sibuk dengan angan-angan panjang seakan ia akan hidup di dunia seribu tahun lamanya. Jerih payah yang semata-mata untuk mengejardunia, sementara akhirat bukan perkara penting baginya.
            Demikianlah keadaan manusia yang jiwa nya telah terjangkiti penyakit (wahn) yaitu cinta dunia dan takut kematian.
·         Cinta dunia adalah induk segala kesalahan serta perusak agama.
·         Cinta duniaa dalah induk segala maksiat dan dosa.

Penyakit inilah yang menyebabkan seorang muslim menjadi lemah.Sehingga musuh-musuh dengan leluasa menebar rasa takut dan sifat pengecut dalam dirinya.Syaitan-syaitan dengan mudah menyesatkannya.Sementara orang-orang kafir atau musuh Islam memandangnya sebelah mata.

Tepis Duka Raih Kebahagiaan - AbuYa’la Kurnaedi



Judul Buku       : Tepis Duka Raih Kebahagiaan
Penulis             : AbuYa’la Kurnaedi
Penerbit           : ناصرالسنة
Isi                    : 130 Halaman
Dimensi           : 20 x 14,2 cm
Harga              : Rp. 20.000 (Diskon 30%) Rp 14.000

Bila kita perhatikan orang-orang disekitar kita, betapa banyak yang mendapatkan cobaan dan bencana sehingga mereka semua pernah mengalami rasa duka dan kesedihan. Orang miskin bersedih dan menderita karena kemiskinannya, yang tua masih bersedih dan menderita sedangkan dia sudah tua, yang muda bersedih menghadapi tantangan hidup, wanita merasa terhina dan lemah, dan laki-laki merasa berat memikul tanggung jawab. Inilah kehidupan dunia yang senantiasa diuji dengan berbagai cobaan seperti tiada akhir. Namun, mengapa harus bersedih, sampai kapan harus bersedih, dan bukankah setiap orang dapat menggapai kebahagiaannya?

Buku ini berisi penjelasan singkat tentang hakikat ujian yang menimpa manusia dan sebab-sebabnya, serta petunjuk Rosul dalam menghadapi kesedihan dan kiat menggapai kebahagiaan.

Berjihad Melawan Riya’ dan Ujub - Firanda Andirja Abidin, Lc. MA.



Judul Buku       : Berjihad Melawan Riya’ dan Ujub
Penulis             : Firanda Andirja Abidin, Lc. MA.
Penerbit           : ناصرالسنة
Isi                    : 159 Halaman
Dimensi           : 20 x 14 cm
Harga              : Rp25.000 (Dsikon 30%) Rp. 17.500

            Saat seorang muslim melakukan suatau amalan ibadah, hal pertama yang harus dilakukan adalah menjaga kebersihan hati. Hal ini dapat dilakukan dengan memfokuskan semua amalan ibadah hanya mengharap ridha Allah Ta’ala yang akan didapat saat hati mencapai sebuah keikhlasan. Keikhlasan ini akan akan berubah saat hati mulai tercemar oleh perasaan ingin dipuji orang lain atas amalan ibadah yang dilakukan (riya’), perasaan bangga terhadap diri sendiri karena telah melakukan suatu amalan ibadah (ujub), dan perasaan lainnya yang dapat merusak hati.
            Buku ini dapat membantu kita mengontrol hati dan penyakit-penyakit yang dapat merubah niat suatu amal ibadah. Kita akan menemukan berbagai tips dan kisah-kisah nyata dari para sahabat yang terhindar dari penyakit hati, sehingga hati kita akan terlepas dari hal-hal buruk dan keikhlasan pun bersemayam dalam hati.

Selasa, 28 Mei 2013

Kiat Melembutkan Hati - Abdul Karim bin Abdul Majid ad-Diwaan

Kiat Melembutkan Hati 
Kiat Melembutkan Hati


Penulis : Abdul Karim Bin Abdul Majid Ad-Diwani
Harga : Rp. 11.000,- diskon 30% Rp7.700,-
Ukuran: 18 x 12 cm
Halaman: 108 lbr
Penerbit : At-Tibyan


Mengapa hati cenderung tertarik dengan dosa-dosa dan menjauh dari pahala? mengapa banyaknya peringatan tidak membuat orang jera berbuat nista? Bila hati tidak lagi tersentuh oleh alunan ayat suci,lebih gandrung dengan nyanyian-nyanyian keji, air mata tak lupa melelehdi kala ingat akan dosa atau diingatkan tentang neraka. Saat itulah hati telah keras dan membatu. shalat tidak akan terasa nikmat, tidak pula ia merasakan manisnya munajat. jika Anda merasakan hal itu, terapilah segera dengan resep yang terkandung dalam buku ini.sebelum qlabu yang layu, menjadikan beku, hati yang sakit menjadi mati.

Buku ini tidak hanya menawarkan teori namun juga bukti dan saksinyata berupa keteladanan para ulama kita yang terdahulu. Bukti akan kelembutan hati, saksi akan kejernihan rohani dan wujud akan tajamnya kepekaan nurani. Wal Hasil, buku ini sesuaibagi Anda yang mendambakan kelembutan hati ,murah tangis karena takut kepada Allah yang akan manjadi penghalang bagi neraka untuk menjamahnya.

====
Simaklah kisah ajaib dan mengagumkan yang terjadi disekitar kita berikut!. Dalam kitab “Tartibul Madarik” Imam al Qadhi ‘Iyadh mengisahkan cerita dari Ibnu Wahb al-Qurasyi al-Mishry sahabat Imam malik..Ketika ahli-ahli hadits memintanya mendiskripsikan kepada mereka sifat-sifat jannah dan naar. Ia menjawab: ‘Aku tidak tahu, apakah aku mampu melakukannya atau tidak?’

Kemudian ia duduk di hadapan mereka…ahli-ahli hadits tersebut membacakan tentang sifat naar. Mendadak ia pingsan. Lalu wajahnya disiram air akan tetapi belum juga sadar. Dikatakan kepada mereka: ‘Bacakan kepadanya (hadits atau ayat) tentang sifat jannah. Namun tidak juga ia tersadarkan.

Dikatakan lagi kepada mereka: “Bacakan kepadanya sifat-sifat jannah.’ Akan tetapi ia tak kunjung sadar diri. Ia dalam kondisi demikian selama dua belas hari. Karena kondisinya demikian, didatangkanlah seorang dokter. Sang dokter berkata: ‘Ini seorang yang hatinya begitu sensitif dan lembut dan akhirnay meninggal (Semoga Allah merahmatinya).

Hatinya luluh karena begitu lembut dan sensitifnya. Dari itulah disebut ‘Inshida‘ (luluh lantaknya hati). Hati yang begitu sensitif dan lembut tak mampu mengemban beban di atas kemampuannya atau jika ditimpa sesuatu yang sangat berat.

Ketika didapati Abu Bakar adalah seorang yang mudah menangis di saat shalat, maka ia disebut sebagai ‘orang yang hatinya lembut dan peka sehingga bacaan yang dibacanya hampir tak dapat dipahami, lantaran tangis dan getar perasaannya yang sangat peka.

Ya Allah..Peliharalah hati kami dari kesesatan dan penyimpangan sesudah jelas bagi kami hal itu..

Sumber: Disalin dari buku “Kiat Melembutkan Hati & Menangis  Karena ALLAH”, Hal.38-39, Pustaka at-Tibyan (dengan sedikit perubahan)


=============


Menangis Karena Allah

Pernahkah kita berpikir atau bertanya pada diri kita sendiri, mengapa hati kita cenderung tertarik dengan dosa-dosa dan   menjauh dari pahala?

Mengapa ketika banyak peringatan yang datang, tidak membuat kita atau hati ini jera berbuat nista? Mengapa hati ini selalu bosan bahkan benci dengan hal-hal yang dicintai oleh Sang Khaliq, Allah سبحانه وتعلى?

Mengapa hati ini senang sekali terbuai dengan kemewahan dunia yang fana dan melupakan kemewahan kampung akhirat yang kekal?

Mengapa hati ini membuat mata menjadi sangat sulit melelehkan air mata?

Di manakah kelembutan hati ini untuk bertaqarrub kepada Allah serta menangis karena-Nya?

Lari kemanakah hati ini dari berzikir kepada Allah ? 

Apakah yang menyebabkan hati ini gersang dan keruh untuk selalu mengingat Sang Kekasih, Allah ?

Dan di manakah posisi kita dari orang-orang yang disebutkan oleh Allah سبحانه وتعلى dalam firman-Nya,  

"Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya, apabila Al Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud. Dan mereka berkata, "Mahasuci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi". Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'." (QS. Al Isra': 107-109). 

Ketika hati tidak lagi tersentuh oleh lantunan indah ayat-ayat suci Al Qur'an dan lebih cenderung mengonsumsi nyanyian-nyanyian cengeng dan berisi maksiat, maka saat itulah hati menjadi keras membatu dan tak dapat melelehkan air mata di kala mengingat dosa-dosa dan peringatan tentang neraka Allah سبحانه وتعلى. Dan di saat itu pulalah, shalat tak lagi terasa nikmat. Munajat tak lagi manis dan hanya jadi aktifitas harian kita sebagaimana aktifitas di kantor, sekolah, kampus, atau lapangan akitifitas lainnya. 

Hal ini bisa menimpa siapa saja bila tidak teliti dalam pelaksanaan ibadah kepada Allah سبحانه وتعلى, entah itu pada masalah niat ataukah gerakan-gerakan dalam pelaksanaan tersebut. Namun yang paling pokok dalam masalah tersebut adalah pada masalah niat, yang mana isinya adalah keikhlasan yang melahirkan kelembutan hati lalu diiringi dengan tangisan karena Allah سبحانه وتعلى semata.

Apa Itu Kelembutan Hati?
Para ahli hadits telah menulis sejumlah karya mereka dengan menggunakan istilah atau lafal ar-riqqah, dan memberikan tempat atau bab khusus tentang hal tersebut dalam buku-buku mereka. Mereka menuliskannya dengan judul, "Kitabur Raqaaiq" atau "ar-Riqaaq". Dan tokoh mereka dalam hal ini adalah imam seluruh ahli hadits, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al Bukhari—rahimahullah.
    
Lafal ar-raqaaiq atau ar-riqaaq merupakan bentuk plural dari kata "raqiiqah". Hadits-hadits tertentu dikatakan ar-raqaaiq karena di dalam setiap hadits-hadits tersebut terdapat hal yang dapat membuat hati menjadi lembut.

Para ahli bahasa berkata, "Kata ar-riqqah bermakna ar-rahmah (kasih sayang), dan lawan katanya adalah al ghilzhah (kekerasan hati)."

Imam ar-Raghib al Ashfahani—rahimahullah—berkata, "Apabila sifat ar-riqqah (kelembutan) dipakai untuk perangai jiwa, maka kebalikannya adalah "al qaswah" (keras hati), seperti raqiiqul qalbi dan qaasil qalbi keduanya bermakna "berhati keras". (Lihat Fathul Bari juz 11 hal. 233).

Buah Kelembutan Hati
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْب
ُ

"Dan sesungguhnya, di dalam jasad itu terdapat segumpal daging, apabila ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya. Dan apabila ia rusak, maka rusak pulalah seluruh jasad itu. Ketahuilah, ia adalah hati." (HR. Bukhari dan Muslim).         
Hati yang terdidik di atas ketaatan kepada Sang Mahapengasih akan menjadikan pemiliknya bersifat lemah lembut dan sangat mudah menangis. Dan hal itu disebabkan karena permohonannya yang ikhlas kepada Rabb-nya agar memiliki sifat kelembutan hati untuk melelehkan air mata.
    
Karenanya, ketika alunan ayat-ayat suci Al Qur'an terlintas di pendengaran orang-orang shaleh, mereka lalu meresapinya hingga masuk ke dalam lubuk hati mereka. Maka pada saat itulah hati mereka bereaksi untuk melelehkan air mata. Walaupun yang mereka dengar hanya sepenggal ayat. 

Maka di manakah kita dari orang-orang seperti mereka?
Mungkin kita pernah menangis, atau bahkan sering menangis. Tapi itu bukan karena Allah, mungkin karena kehilangan harta, sakit yang diderita, kerabat yang meninggal, atau bisa jadi untuk menarik perhatian manusia, dan sebagainya.
    
Memang, masalah tangis adalah persoalan yang sangat sulit dilakukan oleh orang-orang yang memiliki hati yang gersang, keruh, dan kotor. Terlebih lagi hati yang telah keras membatu dari peringatan Allah  berupa ancaman neraka. Sebagaimana firman Allah سبحانه وتعلى, 

 ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً

"Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi." (QS. Al Baqarah: 74).

Hal ini dapat dijumpai pada orang-orang yang hatinya sedang lalai dari pengawasan Allah سبحانه وتعلى. 

Masalah ini tidak hanya menimpa orang-orang awam atau orang yang tidak kenal agama ini, tetapi juga bisa menimpa para aktifis dakwah, penuntut ilmu syar'i, bahkan ulama sekalipun, karena tidak mengamalkan ilmu mereka dengan baik. Beribadah hanya karena ingin dikatakan sebagai ahli ibadah, orang alim dan lain sebagainya.

Sebab-sebab Lembutnya Hati
1. Memelihara hati dari penyimpangan dan dosa

Dalam bahasa Arab, hati dinamakan dengan al qalbu, karena sifat dan keadaannya yang senantiasa berubah-ubah. Sebagaimana yang digambarkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم ,

مَثَلُ الْقَلْبِ كَرِيشَةٍ بِأَرْضِ فَلاَةٍ تُُقَلِّبُهَا الرِّيحُ

"Perumpamaan hati seperti bulu-bulu di tengah tanah lapang yang dihembus angin (hingga beterbangan) (HR. Ibnu Majah, dan dinyatakan shahih oleh Al Albani).

Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah berkata, "Ketahuilah, sesungguhnya seorang hamba menempuh jalan menuju Allah سبحانه وتعلى dengan hati dan tekad bajanya, dan bukan dengan fisiknya. Hakekat takwa adalah takwanya hati, bukan takwanya anggota badan.

Sebab Allah سبحانه وتعلى berfirman, artinya: "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya." (QS. Al Hajj: 37).

Sedangkan posisi takwa itu adalah di hati. Maka orang yang cerdik adalah orang yang menempuh perjalanan (menuju Allah) dengan bekal tekad yang benar, cita-cita yang tinggi serta membersihkan dan menjernihkan niatnya diikuti amal. Hal itu sangat jauh berbeda dengan perjalanan yang ditempuh oleh orang yang sama sekali tidak membekali dirinya dengan sifat-sifat tersebut meski dibarengi dengan jerih payah dan kerja keras. Melaju menuju Allah adalah tekad bulat, bertujuan yang benar serta keinginan yang membara.

2. Melepas hati dari jerat dunia Manusia senantiasa sibuk dengan kemewahan, hiruk-pikuk, dan permainan dunia. Padahal yang sibuk dengannya adalah hati. Bukan jasmani. Bukan pula segenap anggota badan. Meskipun yang langsung bereaksi dengannya adalah fisik dan anggota badan. Tapi, hatilah yang sebenarnya terjerat, yang senantiasa sibuk dengan kemewahan dunia dan mencintainya.    

Orang yang hatinya telah terjerat dan terpenjara oleh nikmatnya dunia, ia merasa seakan tidak diciptakan di dunia ini kecuali untuk menghimpun dan menguasainya. Tidaklah ia dilahirkan kecuali untuk meraih kenikmatannya, baik yang halal maupun yang haram. Sehingga hal itu melenakannya dari kewajiban-kewajibannya dan hak-hak orang lain.    

Adapun orang yang meletakkan dunia hanya di tangannya, maka berbahagialah orang yang berbuat demikian. Mereka adalah para pendahulu (salaf) umat ini. Di mana dunia justru dilapangkan kepada mereka dan dihimpunkan bagi mereka, tapi itu semua hanya berada sebatas di tangan mereka. Sebab itu, kehidupan mereka yang zuhud terhadap dunia patut diteladani.

Di antara mereka adalah Abdurrahman bin 'Auf Radhiyallahu Anhu, berikut ini adalah kisah teladan beliau:

Suatu ketika beliau sedang menghadapi hidangan untuk berbuka puasa, ia berkata, "Mush'ab bin 'Umair ketika terbunuh sedang ia lebih baik dariku tak didapati kain kafan yang cukup untuk membalut tubuhnya, kecuali selembar kain burdahnya. Jika ditutupkan di kepalanya, kedua kakinya nampak, dan jika yang ditutup adalah kakinya, maka kepalanya yang terlihat. Sedangkan aku telah dikaruniai dengan harta yang begitu luasnya", atau ia berkata, "Sedang aku diberi harta dunia yang begitu banyaknya, sehingga aku merasa khawatir, rezki sebanyak itu sengaja didahulukan oleh Allah untukku." Kemudian ia menangis sesenggukan, lalu meninggalkan makanan itu.Wallahul Haadi Ilaa Sabiilir Rasyaad, Abu Umair Adiningrat al Bahari (Al Fikrah)

Sumber: Kiat Melembutkan Hati dan Menangis karena Allah, oleh Abdul Karim bin Abdul Majid ad-Diwaan

Kamis, 23 Mei 2013

Manajemen Qalbu (Melumpuhkan Senjata Syetan) - Ibnu Qayyim Al-Jauziyah


 
MANAJEMEN QALBU
(Melumpuhkan Senjata Syetan)

Penulis: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
Ukuran: 500 hlm/besar-hrd-cv

Penerbit
DARUL FALAH

HARGA
Rp62,500.00
diskon 30%
Rp   43,750.00

Kitab ini adalah sebuah karya yang lebih manis dan memikat daripada sesuatu yang paling disukai manusia. ia -menurut para ulama- termasuk karya terbaik ibnu qayyim, buah penanya yang istimewa dan hasil dari sumber hatinya yang jernih, suci dan cerdas. bahkan ia termasuk di antara karya-karya terbaik dan paling utama yang pernah dilahirkan manusia.

Kitab ini membedah gelombang fitnah syetan yang ingin merobohkan tiang-tiang penyangga perbaikan, kebajikan serta kesentosaan hidup. syetan itu tak henti-hentinya melancarkan makar dan tipu daya, menyerang segenap hati dengan senjata dan kelompoknya, menelan segenap hati di belalainya, lalu menghembuskan di dalamnya tipu daya dan racunnya, keburukan dan kejahatannya sesuai dengan selera permusuhan, kedengkian dan kebenciannya kepada anak adam.

Wahai yang mengharapkan kebahagiaan dunia akhirat, dan yang mencintai keselamatan di hari pembalasan! ketahuilah, tidak ada jalan bagimu kecuali engkau harus bersegera menuju mata air yang ada di hadapanmu, kitabullah dan sunnah nabi-nya. dan kitab ini adalah yang paling dekat menyampaikan kepada maksudmu, yang membinarkan cahaya hidayah untukmu, yang menguakkan untukmu tempat masuknya syetan, lalu meletakkan di tanganmu tali-tali jeratnya, juga memberimu pisau tajam yang dengannya engkau memutuskan tali-tali itu dari hatimu, sehingga engkau lolos dari belenggunya, dan kembali bebas merdeka di tengah lautan fitrah. amin.

Rabu, 22 Mei 2013

Taman Orang-Orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu - Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah



Penulis: Ibnul Qayyim Al-Jauziyah
Penerbit: Darul Falah
Tebal: 453 hlm

Resensi:
Penulis buku ini, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah hidup pada abad kedelapan Hijriyah. Beliau terkenal sebagai ulama shalih dari guru yang shalih pula, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Ia seorang ahli hukum Islam dan psikolog yang pakar mengenai cinta dan rindu serta seluk beluknya. Dengan kajian yang utuh dan jauh dari syubhat, beliau mampu menampilkan hakikat fitrah cinta dua anak manusia yang berlainan jenis. Di antaranya ia berkata, “Cinta merupakan cermin bagi seseorang yang sedang jatuh cinta untuk mengetahui watak dan kelemah-lembutan dirinya dalam citra kekasihnya. Karena sebenarnya, ia tidak jatuh cinta kecuali terhadap dirinya sendiri.”

Karena itulah, buku ini layak di baca semua jenjang usia. Sangat membantu dalam urusan agama yang dapat mendatangkan kemaslahatan di dunia dan akhirat. Di antara dua puluh sembilan bab bahasan, dibicarakan tentang istilah-istilah cinta dan tanda-tandanya, pembagian-pembagian cinta serta motif-motifnya, hukum-hukum dan kaitan-kaitannya, cinta yang benar dan cinta yang merusak. Yang kesemuanya didukung dengan butir-butir tafsir ayat, hadist-hadist Nabawy, masalah-masalah fiqih, atsar orang-orang salaf, syair dan gejala-gejala alam, sehingga diharapkan bisa memberikan kepuasan bagi pembaca dan pesona bagi yang melihatnya.