Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Maret 2014

Shahih dan Dhaif kitab Al-Adzkar 1 Set ( 2 Jilid) - Abdul Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada


Judul     : Shahih dan Dhaif kitab Al-Adzkar 1 Set ( 2 Jilid)
Penulis : 'Abdul Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada
Ukuran : 17 X 24 cm
Kover : Hard
Berat : 
3700 gr / Set
1800 gr / Jilid 1

1900 gr / Jilid 2

Jumlah Halaman : 
Jilid 1 :XVIII + 441 Lembar B/W

Jenis Kertas : HVS
Harga : 
- Rp 120.000,-/Jilid (Diskon 30%) Rp 84.000,-/Jilid
- Rp 240.000,-/Set (Diskon 30%) Rp 168.000,-/Set




“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)




Dzikir termasuk bentuk tagarrub yang sangat mulia kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Untuk memudahkan dalam realisasinya, alhamdulillaah dengan izin-Nya kami dapat menerbitkan sebuah risalah yang insya Allah besar manfaatnya, dengan judul "Shahih dan Dha'if Kitab al-Adzkar" yang tulis secara sistematis oleh Abu Usamah Salim bin 'Ied al-Hilali. Beliau menyusun buku ini guna memisahkan hadits-hadits yang shahih dan dha'if yang terdapat dalam kitab al-Adzkaar karya Imam Nawawi rahimahullah. Kitab ini mengupas tentang dzikir-dzikir yang Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam contohkan untuk diamalkan, karena di dalamnya terdapat puncak cita-cita yang mulia dan tauhid yang murni.

Tujuan menerbitkan risalah ini dalam mengajak kaum Muslimin untuk mengamalkan al-Qur-an dan hadits Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam dalam berdzikir, yang memiliki dampak yang sangat besar dalam memperkuat keimanan kepada Allah
Subhanahu Wa Ta'ala, serta dalam rangka mengikhlaskan ibadah kepada-Nya, menanamkan kecintaan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wasallam dalam hati, mensucikan jiwa dan memperbaikinya. Sebagaimana jalan mulia tersebut telah ditempuh oleh tiga generasi terbaik dalam ummat ini, yaitu para Sahabat, Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'in -ridhwaanullaah 'alaihim-.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi kita untu selalu memelihara dzikir-dzikir yang ma'tsur, karena seluruh ibadah yang kita kerjakan harus berdasarkan dalil yang jelas, baik dari al-Qur-an maupun dari hadits yang shahih, juga berdasarkan ittiba' (mencontoh Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam), bukan berdasarkan nafsu dan bitida' (melakukan ibadah tanpa dalil atau menambahnya), serta (hendaklah) merasa puas dengan apa yang didapat dari orang yang merupakan hujjah Allah (Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam) atas sekalian makhluk, karena beliaulah yang telah mengetahui cara mensucikan RAbb-nya, memulikan-Nya, dan beliau memberitahukan bentuk pujian dan sanjungan kepada-Nya yang merupakan milik-NYa, bukan milik selai-Nya.

Kelebihan lain risalah ini adalah manfaatnya yang besar bagi mereka yang ingin mengetahui dan mengamalkan dzikir, karena penulis telah melengkapinya berdasarkan urutan kejadiannya. Pembaca dengan mudah dapat memahami urutannya, karena risalah ini dimulai ketika seseorang bangun tidur, kemudian yang setelahnya dengan berurutan hingga ia tidur di waktu malam, kemudian ketika bangun dari tidur di saat malam sehingga ia tidur kembali. Juga keutamaan, kriteria ahli dzikir, hukum, adab dan tempat berdzikir serta beberapa kondisi dalam berdzikir yang dilarang, dan ketentuan-ketentuan lainnya yang patut kita ketahui sebelum diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Akhirnya kepada Allah kami memohon, semoga risalah ini bermanfaat bagi kaum Muslimin dan bernilai ibadah di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kekpada Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wasallam beserta keluarga, para Sahabat dan pengikutnya hingga hari Kiamat.


Kamis, 09 Januari 2014

Syarah Musnad Syafi'i 1 Set Lengkap 4 Jilid - Imam Syafi'i


Judul     : Syarah Musnad Syafi'i 1 Set Lengkap 4 Jilid
Penulis : 'Imam Syafi'i
Penerbit : Pustaka Azzam
Jumlah Halaman :
Jilid 1 viii+764
Jilid 2 xii+808
Jilid 3 xii+804
Jilid 4 xii+648

Jenis Kertas: HVS
Harga : 
Jilid 1 Rp 169.000,- (Diskon 30%) Rp 118.300,-
Jilid 2 Rp 173.000,- (Diskon 30%) Rp 121.100,-
Jilid 3 Rp 171.000,- (Diskon 30%) Rp 119.700,-
Jilid 4 Rp 143.000,- (Diskon 30%) Rp 100.100,-

Syarah Musnad Al Imam Asy-Syafi’i karya imam Abu Al Qasim Ar-Rafi’i (W.623 H) adalah kitab yang menjelaskan dalil-dalil Fikih Syafi’i dari Sunnah Nabawiyyah. Imam Ar-Rafi’i mengupas hadits-hadits dan para perawinya serta ’Illat (kecacatan) pada sebagiannya secara panjang lebar dan mendalam, sehingga pembaca tidak perlu lagi merujuk kitab-kitab tentang tokoh-tokoh perawi. 

Kitab ini sarat dengan manfaat-manfaat yang bersifat kefikihan dan hadits, mengingat tidak samar lagi bahwa imam Ar-Rafi’i termasuk dalam jajaran terdepan ulama-ulama Syafi’iyyah, beliau dan juga imam An-Nawawi. Keduanya adalah tokoh yang dijadikan rujukan dalam penetapan hukum-hukum madzhab Syafi’i.

Kitab ini telah dibaca dan mendapat komentar-komentar yang bermanfaat. Kami berharap kitab ini dapat menambah koleksi dan perbendaharaan Perpustakaan Islam, karena ia baru diterbitkan untuk pertama kalinya setelah berabad-abad lamanya jauh dari tangan pembaca.

Yang menarik adalah bahwa Musnad Asy-Syafi’i yang disyarah oleh Ar-Rafi’i diambil dari Kitab Al Umm manuskrip Mesir yang merupakan Fikih Syafi’i Madzhab Jadid. Selain Al Umm, imam Asy-Syafi’i juga mengarang kitab Ar-Risalah yang terkenal. Kitab Ar-Risalah diterbitkan dua kali, pertama di Irak dan kedua di Mesir, dan manuskrip Mesir dipegang oleh imam Ahmad bin Hambal. Inilah yang belum diketahui oleh penelitian-penelitian modern. Segala puji bagi Allah atas segala Taufik-Nya.


Rabu, 08 Januari 2014

Sunan Ad-Darimi Jilid 2 - Imam Ad-Darimi

Buku Hadits Sunan Ad-Darimi Jilid 2

Judul     : Sunan Ad-Darimi Jilid 2 
Penulis : 'Imam Ad-Darimi
Penerbit : Darul Falah 
Jumlah Halaman : xl+1036
Jenis Kertas: HVS
Harga : Rp 187.000,- (Diskon 30%) Rp 130.900,-


Resensi:
Inilah buku sunan yang seharusnya kita jaga, kita dalami maknanya, dan kita sebarkan isinya, agar sabda-sabda yang tertuang di dalamnya dapat tetap lestari sehingga agama kita tetap terjaga kemurniannya. Seorang ulama, Utsman bin Abu Syaibah berkata tentang Imam ad-Darimi, ”Meski banyak manusia yang memuji ketajaman akalnya, kekuatan hafalannya, dan kegigihannya dalam mengabdikan diri kepada Allah ta’ala, namun sosok Abdullah bin Abdurrahman (Ad-Darimi) sebenarnya lebih agung dari yang mereka duga.”
Seperti ini pula yang dikatakan editor ketika diserahi naskah ini untuk melakukan proses editing, dikatakan bahwa kandungan sunan yang ia miliki tidak seperti hadits lain… untuk lebih jelasnya silahkan baca dan pahami hadist-hadist yang ditulis beliau di buku ini.
Pembahasan dalam kitab ini adalah:
  • Pembahasan tentang Puasa
  • Pembahasan tentang Haji
  • Pembahasan tentang Kurban
  • Pembahasan tentang Perburuan
  • Pembahasan tentang Makanan
  • Pembahasan tentang Minuman
  • Pembahasan tentang Mimpi
  • Pembahasan tentang Nikah
  • Pembahasan tentang Talak
  • Pembahasan tentang Hudud
  • Pembahasan tentang Nadzar dan Sumpah
  • Pembahasan tentang Diyat
  • Pembahasan tentang Jihad
  • Pembahasan tentang Perjalanan Hidup
  • Pembahasan tentang Jual Beli
  • Pembahasan tentang Meminta Izin
  • Pembahasan tentang Budi Pekerti
  • Pembahasan tentang Faraidh
  • Pembahasan tentang Wasiat
  • Pembahasan tentang Keutamaan Al Qur’an

 

Sunan Ad-Darimi Jilid 1 - Imam Ad-Darimi

Buku Hadits Sunan Ad-Darimi Jilid 1


Judul     : Sunan Ad-Darimi Jilid 1 
Penulis : 'Imam Ad-Darimi
Penerbit : Pustaka Azzam
Jumlah Halaman : xxiv+964
Jenis Kertas: HVS
Harga : Rp 175.000,- (Diskon 30%) Rp 122.500,-

Resensi:

Inilah buku sunan yang seharusnya kita jaga, kita dalami maknanya, dan kita sebarkan isinya, agar sabda-sabda yang tertuang di dalamnya dapat tetap lestari sehingga agama kita tetap terjaga kemurniannya. Seorang ulama, Utsman bin Abu Syaibah berkata tentang Imam ad-Darimi, ”Meski banyak manusia yang memuji ketajaman akalnya, kekuatan hafalannya, dan kegigihannya dalam mengabdikan diri kepada Allah ta’ala, namun sosok Abdullah bin Abdurrahman (Ad-Darimi) sebenarnya lebih agung dari yang mereka duga.”
Seperti ini pula yang dikatakan editor ketika diserahi naskah ini untuk melakukan proses editing, dikatakan bahwa kandungan sunan yang ia miliki tidak seperti hadits lain… untuk lebih jelasnya silahkan baca dan pahami hadist-hadist yang ditulis beliau di buku ini.

Pembahasan dalam kitab ini adalah:

-Pembahasan tentang Thaharah
-Pembahasan tentang Shalat
-Adzan

-Pembahasan Tentang Dua Hari Raya
-Pembahasan tentang zakat

 

Shahih Ibnu Khuzaimah 4 Jilid Lengkap - Muhammad Mushthafa Al A'zhami



Judul     : Shahih Ibnu Khuzaimah 4 Jilid Lengkap
Penulis : 'Muhammad Mushthafa Al A'zhami
Penerbit : Pustaka Azzam 
Jumlah Halaman :
Jilid 1 xl+872 hal
Jilid 2 xliv+800 hal
Jilid 3 xlviii+796 hal
Jilid 4 lii+900 hal

Jenis Kertas: HVS
Harga : 
Jilid 1 Rp 157.000,- (Diskon 30%) Rp 109.900,-
Jilid 2 Rp 159.000,- (Diskon 30%) Rp 111.300,-
Jilid 3 Rp 165.000,- (Diskon 30%) Rp 115.500,-
Jilid 4 Rp 195.000,- (Diskon 30%) Rp 136.500,-


Alhamdulillah, inilah terjemahan salah satu karya besar dalam rangkaian kitab-kitab hadis yang dikenali pada hari ini dengan nama Shahih Ibnu Khuzaimah, atau nama lengkapnya: "Mukhtashar Al-Mukhtashar min Al-Musnad Ash-Shahih 'an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam."
 
Para ulama meletakkan Shahih Ibnu Khuzaimah pada kedudukan (atau senarai hasil karya bidang hadis) yang mana penulisnya telah berusaha sedaya-upaya untuk membukukan hanya hadis-hadis sahih di dalam kitabnya. Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah mengatakan:
 
"Shahih Ibnu Khuzaimah, Al-Musnad Ash-Shahih 'ala Taqasim wa Al-Anwa' (Shahih Ibnu Hibban), dan Al-Mustadrak 'ala Shahihain karya Al-Hakim, adalah tiga kitab terpenting yang disusun berkaitan hadis-hadis sahih setelah dua kitab sahih, iaitu Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim." (Mukaddimah Shahih Ibnu Hibban tahqiq Syaikh Ahmad Syakir, m/s. 6-7)
 
Beliau juga mengatakan bahawa berdasarkan urutan keutamaan, Shahih Ibnu Khuzaimah menduduki tempat teratas di atas Shahih Ibnu Hibban dan Al-Mustadrak karya Al-Hakim.
 
Imam Ibnush Sholah rahimahullah (Wafat: 643H) ketika menjelaskan kitab-kitab yang dapat menjadi ilmu atau rujukan tambahan berkaitan hadis-hadis sahih untuk para penuntut ilmu, selain hadis-hadis dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, beliau mengisyaratkan agar melihat Shahih Ibnu Khuzaimah. Kata beliau, "Cukup hanya dengan melihat keberadaan hadis tersebut ada dalam kitab-kitab yang penyusunnya mensyaratkan kesahihan hadis-hadis yang mereka himpun atau susunkan seperti Shahih Ibnu Khuzaimah..." (Mukaddimah Ibnush Sholah, m/s. 16)
 
Demikian juga Al-Hafiz Al-'Iraqi rahimahullah (Wafat: 806H), beliau turut menyatakan, "Hadis-hadis sahih juga dapat diambil dari kitab-kitab yang khusus menghimpunkan hadis-hadis sahih sahaja. Ini adalah seperti kitab Shahih Abu Bakar Muhammad B. Ishaq Ibnu Khuzaimah (Shahih Ibnu Khuzaimah)..." (Taudhihul Afkar, 1/64)
 
Malah dalam Fathul Bari Syarah Shahih Al-Bukhari, Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-'Asqalani rahimahullah sering sekali menyandarkan kesahihan sesuatu hadis kepada Ibnu Khuzaimah apabila hadis tersebut memang terdapat atau diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah di dalam Shahihnya ini.
 
Walau bagaimanapun, perlu kita ketahui bahawa Shahih Ibnu Khuzaimah ini sudah tentu tidak seperti atau sehebat dua karya besar, Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Sehingga tidak dapat kita katakan bahawa setiap hadis yang ada di dalamnya adalah sahih. Tetapi apa yang boleh kita katakan bahawa di dalam Shahih Ibnu Khuzaimah ini juga masih terdapat hadis-hadis yang darjatnya di bawahnya sahih seperti hasan atau dha'if. Selain hasan, Shahih Ibnu Khuzaimah ini juga masih mengandungi hadis-hadis yang berstatus dha'if walaupun dalam jumlah yang kecil berbanding yang sahih dan hasan, dan hampir tidak ditemui sama sekali hadis-hadis yang tersangat lemah (dha'if jiddan) melainkan amat sedikit sekali sebagaimana disebutkan dalam komentar pentahqiq dan isyarat daripada Imam Ibnu Khuzaimah sendiri.
 
Apapun, Shahih Ibnu Khuzaimah yang berada di hadapan pembaca ini adalah terjemahan hasil edisi tahqiq oleh Syaikh Muhammad Musthafa Al-A'zhami yang kemudian turut mendapat semakkan dan ta'liq oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah. Sehingga para pembaca tidak perlu lagi merasa ragu-ragu ketika menela'ahnya. Sekiranya mahu mendapat lebih keyakinan terhadap sesebuah hadis yang dibentangkan oleh Ibnu Khuzaimah di dalamnya, cukup dengan melihat pada nota kakinya hasil dari semakkan dan tahqiq dua tokoh besar kontemporari tersebut, insyaAllah.
 
Di antara keistimewaan lain yang terkandung dalam Shahih Ibnu Khuzaimah ini adalah hasil komentar oleh Ibnu Khuzaimah sendiri dan kaedah beliau meletakkan bab atau tajuk-tajuk bagi setiap hadis-hadis yang dibentangkannya. Sehingga kita dapat mengambil faedah, wasiat, pemahaman, kesimpulan-kesimpulan fiqh, dan isyarat-isyarat penting lagi bermanfaat dari seorang tokoh salaf kurun ke-3 hijrah, iaitu Imam Ibnu Khuzaimah rahimahullah (Wafat: 311H).


 

Musnad Imam Syafi'i Jilid 1 & 2 - Imam Syafi'i

BUKU MUSNAD IMAM SYAFI'I LENGKAP 1 SET JILID 1-2


Judul     : Musnad Imam Syafi'i Jilid 1 & 2
Penulis : 'Imam Syafi'i
Penerbit : Pustaka Azzam
Jumlah Halaman :
Jilid 1 xii+620 hal
Jilid 2 xii+784

Jenis Kertas: HVS
Harga : 
Jilid 1 Rp 129.000,- (Diskon 30%) Rp90.300,-
Jilid 2 Rp 167.000,- (Diskon 30%) Rp116.900,-

Biografi Imam Syafi’i· Bagian dari pembahasan tentang wudhu*· Bagian dari pembahasan tentang menghadap kiblat saat shalat· Bagian dari pembahasan tentang kewajiban Jum’at· Pembahasan tentang Dua Hari Raya· Bagian pembahasan tentang zakat dari pertaman kecuali yang dikembalikan· Bagian dari pembahsan tentang hukum mubah talak· Bagian dari pembahasan tentang puasa· Bagian dari pembahasan tentang manasik· Bagian dari pembahasan tentang jual beli· Bagian dari pembahsan tentang gadai· Bagian dari pembahasan tetntang sumpah dengan satu saksi

 

Musnad Imam Ahmad Jilid 1-22 - Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal

Buku Hadits Musnad Imam Ahmad 1 Set 22 Jilid

Judul     : Musnad Imam Ahmad Jilid 1-22 
Penulis : 'Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal
Penerbit : Pustaka Azzam 
Jumlah Halaman :
Jilid 1 viii+992
Jilid 2 xii+996
Jilid 3 xii+1076
Jilid 4 viii+1132
Jilid 5 viii+928
Jilid 6 xii+840
Jilid 7 xii+816
Jilid 8 xii+752
Jilid 9 xx+936
Jilid 10 xvi+936
Jilid 11 xvi+1008
Jilid 12 xvi+1004
Jilid 13 viii+936
Jilid 14 viii+908
Jilid 15 viii+892
Jilid 16 viii+936
Jilid 17 viii+936
Jilid 18 viii+936
Jilid 19 viii+936
Jilid 20 viii+936
Jilid 21 viii+956

Jilid 22 xii+960

Jenis Kertas: HVS
Harga :
Jilid 1 Harga 175,000 Diskon 30% 122.500
Jilid 2 Harga 177,000 Diskon 30% 123.900
Jilid 3 Harga 189,000 Diskon 30% 132.000
Jilid 4 Harga 219,000 Diskon 30% 153.300
Jilid 5 Harga 193,000 Diskon 30% 154,400
Jilid 6 Harga 175,000 Diskon 30% 122.500
Jilid 7 Harga 169,000 Diskon 30% 118.300
Jilid 8 Harga 157,000 Diskon 30% 109.900
Jilid 9 Harga 199,000 Diskon 30% 139.300
Jilid 10 Harga 199,000 Diskon 30% 139.300
Jilid 11 Harga 207,000 Diskon 30% 144.900
Jilid 12 Harga 207,000 Diskon 30% 144.000
Jilid 13 Harga 199,000 Diskon 30% 139.300
Jilid 14 Harga 195,000 Diskon 30% 136.500
Jilid 15 Harga 193,000 Diskon 30% 136.500
Jilid 16 Harga 199,000 Diskon 30% 139.300
Jilid 17 Harga 197,000 Diskon 30% 137.900
Jilid 18 Harga 197,000 Diskon 30% 137.900
Jilid 19 Harga 201,000 Diskon 30% 140.700
Jilid 20 Harga 201,000 Diskon 30% 140.700
Jilid 21 Harga 206,000 Diskon 30% 144.200
Jilid 22 Harga 206,000 Diskon 30% 144.200

Musnad imam Ahmad adalah salah satu rujukan kaum muslimin dalam bidang hadits, beliau telah memberikan sumbangsihnya yang besar untuk dunia islam dengan kitabnya ini.

 

Minggu, 05 Januari 2014

Kumpulan Hadits Qudsi Pilihan - Syaikh Fathi Ghanim


Judul Buku : Kumpulan Hadits Qudsi Pilihan
Penulis       : Syaikh Fathi Ghanim
Penerbit     : Pustaka Al Kautsar
Harga        : Rp 115.000,- Diskon 30% Rp 80.500,-

Kitab yang ada di tangan anda ini merupakan kumpulan hadits-hadits qudsi yang terdapat dalam kitab-kitab hadits seperti, Al-Muwaththa' karya Imam Malik, shahih Al-Bukhari, shahih Muslim, sunan At-Tirmidzi, sunan Abu Dawud, sunan An-Nasa'i dan sunan Ibnu Majah serta kitab-kitab hadits yang lain. Tak pelak, kitab ini sangat layak Anda miliki.

Minggu, 22 Desember 2013

Shahih Al Jami' Ash-Shaghir 4 Jilid Lengkap - Muhammad Nashiruddin Al Albani

BUKU SHAHIH JAMI' ASH-SHOGHIR JILID 1 | KUMPULAN HADITS SHOHIH


Judul Buku : Shahih Al Jami' Ash-Shaghir 4 Jilid Lengkap
Penulis       : Muhammad Nashiruddin Al Albani
Penerbit     : Pustaka Azzam
Tebal          : 
Jilid 1 xii+640 Halaman
Jilid 2 xii+640 Halaman
Jilid 3 xii+640 Halaman
Jilid 4 xii+640 Halaman

Harga         : 
Jilid 1 Rp 121.000,00 30% Rp 84.700,00
Jilid 2 Rp 153.000,00 30% Rp 107.100,00
Jilid 3 Rp 189.000,00 30% Rp 132.300,00
Jilid 4 Rp 173.000,00 30% Rp 121.100,00


PEMBAHASAN DALAM KITAB JAMI’ ASH-SHAGHIR JIL. 1

Mukadimah yang terdiri dari enam manfaat penting
Kitab Ziyadah Al Jaami’ Ash-Shaghir
Catatan
Indek nama-nama kitab karya Syaikh Albani
Kode-kode yang digunakan dalam kitab ini
Huruf Alif
Pembahasan lengkap.


PEMBAHASAN DALAM KITAB JAMI’ ASH-SHAGHIR JIL. 2.

-Huruf Hamzah yang bersambung dengan ‘Al’
-Huruf ‘Baa` yang bergandeng dengan ‘Al’
-Huruf ‘Taa’ yang bergandeng dengan “Al”
-Huruf Tsa’ yang bergandeng dengan “Al”
-Huruf “Jim” yang bergandeng “Al”
-Huruf “Ha” yang bergandeng dengan ”Al”
-Huruf Kha` yang didahului ‘Al’
-Huruf Dal yang bergandeng dengan ‘Al’
-Huruf Dzal yang bergandeng dengan ‘Al’
-Huruf Ra’ yang bersambung dengan ‘Al’
-Huruf Za’ yang bersambung dengan ‘Al’
-Huruf Sin yang bersambung dengan ‘Al’
-Huruf Syin yang bergandeng dengan Al

Pembahasan lengkap.


Rabu, 18 Desember 2013

Sunan Asy-Syafi'i jilid 2 - Imam Syafii -rahimahulloh-



Judul Buku : Sunan Asy-Syafi'i jilid 2
Penulis       : Imam Syafii -rahimahulloh-
Penerbit     : Pustaka Azzam
Tebal           : viii+536 Halaman 

Harga         : Rp 123.000,00
Diskon        : 30%
Nett            : Rp 86.100,00


Sesungguhnya kitab As-Sunan karya Imam Asy-Syafi'I -rahimahulloh- (yang telah riwayatkan oleh murid beliau, Imam Al Muzani -rahimahulloh- ) adalah kitab yang terbilang “ tipis “dan jumlah haditsnya sedikit, hanya 666 hadits. 

Namun demikian, kitab ini banyak manfaatnya, sarat dengan nilai, sangat penting, sanad-nya tinggi, dan mayoritas haditsnya shahih, bahkan sifat umum untuk hadits-haditsnya adalah tertera dalam Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim, atau salah satunya.

Kitab ini diriwayatkan dari Imam Asy-Syafi'i oleh muridnya yaitu Imam Al Muzani, dari Imam Al Muzani diriwayatkan oleh keponakannya yaitu Ath-Thahawi -rahimahulloh- [ penulis kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah], lalu dari Ath-Thahawi kitab ini tersebar luas dan diriwayatkan oleh banyak Imam lainnya.

Para ulama juga menaruh perhatian yang demikian besar terhadap kitab ini, layaknya berbagai kitab Imam Asy-Syafi'i -rahimahulloh- lainnya. Hal ini terlihat jelas dari banyaknya periwayatan kitab ini melalui metode sima'ah, qira 'ah dan lain nya.

Lebih jauh, kitab ini merupakan salah satu kitab yang disusun langsung oleh Imam Asy-Syafi'i. Sebagian ulama kontemporer menganggap kitab ini tidak disusun langsung oleh Imam Asy-Syafi'i) karena mereka menyamakannya dengan kitab Al Musnad asy Syafii yang dihimpun oleh Abu Al Abbas Al Asham Hafizhul Masyriq dari berbagai kitab Imam Asy-Syafi'i, setelah dia mendengamya dari Imam Ar-Rabi' bin Sulaiman, lalu membacakan ulang kepadanya. 

Kesimpulan ini sebagaimana tertuang di bagian akhir kitab Al Musnad [Bantahan secara terperinci terhadap pendapat ini ada dalam buku ini -red ]

Sungguh, Sejatinya, kitab ini tidak seperti itu, sebab kitab ini disusun langsung oleh Imam Asy-Syafi'i -rahimahulloh- dan diriwayatkan oleh Imam Al Muzani -rahimahulloh-

Kitab Al Musnad Asy Syafii , berbeda dengan kitab As-Sunan Asy Syafii , diantara perbedaan nya :
1. Kedua kitab tersebut berbeda dalam hal jumlah hadits yang tertera pada keduanya, karena kitab Al Musnad berisi 1983 hadits, sedangkan As-Sunan hanya berisi 666 hadits.
2. Penyusun kitab Al Musnad adalah Al Asham, sedangkan penyusun kitab As-Sunan adalah Imam Asy-Syafi'i sendiri.
3. Isi atau konten kedua kitab tersebut berbeda, dan riwayat dari para syaikh juga berbeda (jumlahnya).
4. Bab-bab yang tertera dalam kedua kitab tersebut berbeda.
5. Metode penulisan kedua kitab tersebut berbeda, karena Al Musnad itu hadits-haditsnya berada di bawah cakupan atau sesuai dengan judul kitab yang hadits tersebut dikutip darinya, sedangkan As-Sunan berdasarkan bab per bab, dan juga karena hal lainnya.

Pentingnya Kitab Sunan Asy Syafii
Urgensi hadits-hadits yang terdapat pada semua kitab sunnah/hadits itu bergantung pada banyaknya jumlah hadits shahih yang terdapat di dalam kitab tersebut, keotentikan periwayatannya, bab-bab yang mencakupnya, dan seterusnya.

Hadits-hadits yang terdapat dalam kitab As-Sunan ini, alhamdulillah, telah mencakup itu semua. Itu karena hadits-hadits yang berstatus marfu1 dan muttashil, seluruhnya adalah shahih kecuali 2 atau 3 hadits saja, namun ini pun memiliki mutaba'ah dan syahid. 

Selanjutnya, kitab As-Sunan ini banyak memiliki apa yang disebut dengan 'sanad-sanad ter-shahih, yang berjumlah 169 sanad. Sementara selain ''sanad-sanad' ter-shahih, jumlahnya banyak sekali, dan ini di luar yang 169 sanad itu, yang tidak kurang penting atau kurang shahih daripada yang 169 tadi.

Selain itu, para periwayat yang terdapat di dalam kitab As-Sunan ini dan meriwayatkan hadits-hadits yang ada di dalamnya, sebagian besarnya adalah orang-orang yang ibarat gunung menjulang tinggi, kokoh dan kuat : dalam hal kekokohan hapalannya, keakuratannya dan daya ingatnya. Tak ada yang janggal atau aneh kecuali hanya sebagian kecil saja. 

Sebagian besar dari hadits-hadits yang terdapat dalam kitab ini diriwayatkan dari jalur ulama-ulama Hijaz. Sedangkan dari jalur selain mereka, jumlahnya sedikit sekali, tidak lebih dari 50 hadits.

Sebagian besar dari hadit-hadits yang berstatus muttashil terdapat dalam Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim, atau salah satunya saja.

Sesungguhnya kitab As-Sunan ini telah mendapatkan perhatian yang besar dari para ulama, terutama dari kalangan ulama mutaqaddimin. Bentuk perhatian mereka itu terwujud secara kongkrit —berdasarkan fakta yang nyata— pada banyaknya pembacaan dan penyimakan terhadap kitab As-Sunan ini, serta hadirnya jamaah yang melimpah ke tengah-tengah majlis yang mengkaji hadits dan penyimakannya.

Hal ini terlihat jelas dengan banyaknya orang yang menyimaknya, dan besarnya jumlah Ahlul Ilmi dan orang-orang yang memiliki keutamaan (yang datang ke sana), baik itu dari kalangan ulama, fukaha, muhadits, qadhi

bahkan anak-anak pun hadir di majlis-majlis yang memperdengarkan kitab As-Sunan, dan nama-nama mereka pun dicantumkan dalam As-Sima'at. Bahkan kaum perempuan juga turut menghadirinya. Hal ini bisa dilihat pada kitab-kitab sejarah/tarikh, biografi para ulama, Al hafidz, Muhadits, bagaimana mereka mendengar, mempelajari dan meriwayatkan hadits -hadits dalam sunan Asy Syafii ini


Sunan Asy-Syafi'i Jilid 1 - Imam Syafii -rahimahulloh-



Judul Buku : Sunan Asy-Syafi'i Jilid 1
Penulis       : Imam Syafii -rahimahulloh-
Penerbit     : Pustaka Azzam
Tebal           : viii+660 Halaman 

Harga         : Rp 147.000,00
Diskon        : 30%
Nett            : Rp 102.900,00


Sesungguhnya kitab n karya Imam Asy-Syafi'I -rahimahulloh- (yang telah riwayatkan oleh murid beliau, Imam Al Muzani -rahimahulloh- ) adalah kitab yang terbilang “ tipis “dan jumlah haditsnya sedikit, hanya 666 hadits. 

Namun demikian, kitab ini banyak manfaatnya, sarat dengan nilai, sangat penting, sanad-nya tinggi, dan mayoritas haditsnya shahih, bahkan sifat umum untuk hadits-haditsnya adalah tertera dalam Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim, atau salah satunya.

Kitab ini diriwayatkan dari Imam Asy-Syafi'i oleh muridnya yaitu Imam Al Muzani, dari Imam Al Muzani diriwayatkan oleh keponakannya yaitu Ath-Thahawi -rahimahulloh- [ penulis kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah], lalu dari Ath-Thahawi kitab ini tersebar luas dan diriwayatkan oleh banyak Imam lainnya.

Para ulama juga menaruh perhatian yang demikian besar terhadap kitab ini, layaknya berbagai kitab Imam Asy-Syafi'i -rahimahulloh- lainnya. Hal ini terlihat jelas dari banyaknya periwayatan kitab ini melalui metode sima'ah, qira 'ah dan lain nya.

Lebih jauh, kitab ini merupakan salah satu kitab yang disusun langsung oleh Imam Asy-Syafi'i. Sebagian ulama kontemporer menganggap kitab ini tidak disusun langsung oleh Imam Asy-Syafi'i) karena mereka menyamakannya dengan kitab Al Musnad asy Syafii yang dihimpun oleh Abu Al Abbas Al Asham Hafizhul Masyriq dari berbagai kitab Imam Asy-Syafi'i, setelah dia mendengamya dari Imam Ar-Rabi' bin Sulaiman, lalu membacakan ulang kepadanya. 

Kesimpulan ini sebagaimana tertuang di bagian akhir kitab Al Musnad [Bantahan secara terperinci terhadap pendapat ini ada dalam buku ini -red ]

Sungguh, Sejatinya, kitab ini tidak seperti itu, sebab kitab ini disusun langsung oleh Imam Asy-Syafi'i -rahimahulloh- dan diriwayatkan oleh Imam Al Muzani -rahimahulloh-

Kitab Al Musnad Asy Syafii , berbeda dengan kitab As-Sunan Asy Syafii , diantara perbedaan nya :
1. Kedua kitab tersebut berbeda dalam hal jumlah hadits yang tertera pada keduanya, karena kitab Al Musnad berisi 1983 hadits, sedangkan As-Sunan hanya berisi 666 hadits.
2. Penyusun kitab Al Musnad adalah Al Asham, sedangkan penyusun kitab As-Sunan adalah Imam Asy-Syafi'i sendiri.
3. Isi atau konten kedua kitab tersebut berbeda, dan riwayat dari para syaikh juga berbeda (jumlahnya).
4. Bab-bab yang tertera dalam kedua kitab tersebut berbeda.
5. Metode penulisan kedua kitab tersebut berbeda, karena Al Musnad itu hadits-haditsnya berada di bawah cakupan atau sesuai dengan judul kitab yang hadits tersebut dikutip darinya, sedangkan As-Sunan berdasarkan bab per bab, dan juga karena hal lainnya.

Pentingnya Kitab Sunan Asy Syafii
Urgensi hadits-hadits yang terdapat pada semua kitab sunnah/hadits itu bergantung pada banyaknya jumlah hadits shahih yang terdapat di dalam kitab tersebut, keotentikan periwayatannya, bab-bab yang mencakupnya, dan seterusnya.

Hadits-hadits yang terdapat dalam kitab As-Sunan ini, alhamdulillah, telah mencakup itu semua. Itu karena hadits-hadits yang berstatus marfu1 dan muttashil, seluruhnya adalah shahih kecuali 2 atau 3 hadits saja, namun ini pun memiliki mutaba'ah dan syahid. 

Selanjutnya, kitab As-Sunan ini banyak memiliki apa yang disebut dengan 'sanad-sanad ter-shahih, yang berjumlah 169 sanad. Sementara selain ''sanad-sanad' ter-shahih, jumlahnya banyak sekali, dan ini di luar yang 169 sanad itu, yang tidak kurang penting atau kurang shahih daripada yang 169 tadi.

Selain itu, para periwayat yang terdapat di dalam kitab As-Sunan ini dan meriwayatkan hadits-hadits yang ada di dalamnya, sebagian besarnya adalah orang-orang yang ibarat gunung menjulang tinggi, kokoh dan kuat : dalam hal kekokohan hapalannya, keakuratannya dan daya ingatnya. Tak ada yang janggal atau aneh kecuali hanya sebagian kecil saja. 

Sebagian besar dari hadits-hadits yang terdapat dalam kitab ini diriwayatkan dari jalur ulama-ulama Hijaz. Sedangkan dari jalur selain mereka, jumlahnya sedikit sekali, tidak lebih dari 50 hadits.

Sebagian besar dari hadit-hadits yang berstatus muttashil terdapat dalam Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim, atau salah satunya saja.

Sesungguhnya kitab As-Sunan ini telah mendapatkan perhatian yang besar dari para ulama, terutama dari kalangan ulama mutaqaddimin. Bentuk perhatian mereka itu terwujud secara kongkrit —berdasarkan fakta yang nyata— pada banyaknya pembacaan dan penyimakan terhadap kitab As-Sunan ini, serta hadirnya jamaah yang melimpah ke tengah-tengah majlis yang mengkaji hadits dan penyimakannya.

Hal ini terlihat jelas dengan banyaknya orang yang menyimaknya, dan besarnya jumlah Ahlul Ilmi dan orang-orang yang memiliki keutamaan (yang datang ke sana), baik itu dari kalangan ulama, fukaha, muhadits, qadhi


bahkan anak-anak pun hadir di majlis-majlis yang memperdengarkan kitab As-Sunan, dan nama-nama mereka pun dicantumkan dalam As-Sima'at. Bahkan kaum perempuan juga turut menghadirinya. Hal ini bisa dilihat pada kitab-kitab sejarah/tarikh, biografi para ulama, Al hafidz, Muhadits, bagaimana mereka mendengar, mempelajari dan meriwayatkan hadits -hadits dalam sunan Asy Syafii ini.


Fathul Baari Jilid 36 - Ibnu Hajar Al Asqalani


Judul Buku : Fathul Baari Jilid 36
Penulis       : Ibnu Hajar Al Asqalani
Penerbit     : Pustaka Azzam
Tebal           : xvi+1052 Halaman 

Harga         : Rp 209.000,00
Diskon        : 30%
Nett            : Rp 146.300,00


Segala puji bagi Allah yang telah melapangkan hati kaum muslimin dengan hidayah-Nya, dan menutup hati orang-orang yang membangkang sehingga tidak menyadari adanya hikmah. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, karena Dia Tuhan Yang Esa dan Berkuasa, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan Rasulullah, yang tidak ada seorang pun yang menandingi kemuliaannya, dirinya telah dimuliakan dan disucikan sejak hari kelahirannya serta dilapangkan hatinya. Semoga berkah Allah selalu untuknya, keluarga dan para sahabatnya sampai hari kiamat kelak.

Saatnya bagi saya untuk mulai mewujudkan apa yang telah menjadi niat saya, ketika menulis keterangan (syarah) kitab Al Jami’ Ash-Shahih, sebagaimana telah saya tulis pada mukaddimah kitab Hadyu As-Sari bi Fathil Bari. Sebelumnya saya bermaksud untuk membedah hadits terlebih dahulu sebelum memberikan keterangan, akan tetapi saya melihat kalau ini dilakukan akan memerlukan waktu yang lebih panjang, maka dari itu saya mengambil jalan tengah. Semoga apa yang saya lakukan dapat memberikan manfaat bagi para pembaca, karena Allah tidak membebankan kepada makhluk-Nya kecuali apa yang mampu dilakukannya. Mungkin dalam tulisan ini terjadi pengulangan apa yang telah saya tulis dalam kitab Hadyu As-Sari bi Fathil Bari. Hal itu disebabkan jauhnya masa penulisan atau sebab-sebab lainnya, akan tetapi saya berusaha untuk melakukan perubahan apa yang ada dalam kitab tersebut. Maka saya namakan kitab ini FATHUL BARI BI SYARHIL BUKHARI.

Saya memulai tulisan ini dengan menyebutkan sanad yang saya miliki kepada asalnya, baik dengan mendengar atau ijazah, karena saya mendengar sebagian ulama mengatakan, “Sanad adalah dasar dari sebuah kitab,” maka dari itu saya akan menyebutkan sanad-sanadnya, dan saya katakan, “Telah sampai kepada kami riwayat Bukhari dari Imam Bukhari melalui jalur Thariq Abu Abdillah Muhammad bin Yusuf bin Mathar bin Shalih bin Bisyr Al Firabri yang meninggal pada tahun 320 H.” Beliau mendengarkan riwayat ini dua kali. Pertama, di Farbar pada tahun 248 H, dan kedua, di Bukhara pada tahun 252 H.

Jalur yang lain adalah dari Ibrahim bin Ma’qil bin Hajjaj An-Nasafi, seorang penghafal hadits yang memiliki beberapa karangan, dan wafat pada tahun 294 H. Ia termasuk orang yang mengumpulkan catatan (hadits) yang diriwayatkan dari Bukhari dengan cara ijazah. Begitu juga dari jalur Hammad bin Syakir An-Nasawi, yang diperkirakan meninggal sekitar tahun 290-an.

Kemudian jalur dari Abu Thalhah Manshur bin Muhammad bin Ali bin Qorinah Al Bazdawi, wafat pada tahun 329 H.  Beliau adalah orang yang terakhir menulis riwayat Bukhari dalam kitab shahihnya, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Makula dan lainnya. Setelah beliau meninggal masih ada yang mendengarkan riwayat dari Bukhari, yaitu Al Qadhi Al Husain bin Ismail Al Muhamili di Baghdad, akan tetapi beliau tidak memiliki kitab shahih, dan beliau mendengar dari Imam Bukhari di Baghdad pada akhir kunjungannya, sehingga sangat salah orang yang mengambil riwayat shahih dari Al Muhamili.


Adapun riwayat Al Firabri, sampai kepada kami dari berbagai jalur di antaranya, Al Hafizh Abu Ali Sa’id bin Utsman bin Sa’id bin As-Sakan, Hafizh Abu Ishaq Ibrahim bin Ahmad Al Mustamli, Abu Nashr Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Al Akhsikati, Al Faqih Abu Zaid Muhammad bin Ahmad Al Maruzi, Abu Ali Muhammad bin Umar bin Sibawaih, Abu Ahmad Muhammad bin Muhammad Al Jurjani, Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad As-Sarkhasi, Abu Al Haitsam Muhammad bin Makki Al Kasymihani, dan Abu Ali Ismail bin Muhammad bin Ahmad bin Hajib Al Kasyani. Beliau adalah orang terakhir yang meriwayatkan hadits Bukhari dari riwayat Al Firabri.

Adapun riwayat Ibnu As-Sakan diriwayatkan oleh Abdullah bin Muhammad bin Asad Al Juhani.

Riwayat Mustamli diriwayatkan oleh Al Hafizh Abu Dzarr Abdullah bin Ahmad Al Harawi dan Abdurrahman bin Abdullah Al Hamdani.

Riwayat Al Akhsikati diriwayatkan oleh Ismail bin Ishaq bin Ismail Ash- Shafar Az-Zahid.

Riwayat Abu Zaid  diriwayatkan oleh Al Hafizh Abu Nu’aim Al Ashbahani, Al Hafiz Abu Muhammad Abdullah bin Ibrahim Al Ushaili dan Imam Abu Hasan Ali bin Muhammad Al Qabisi.

Riwayat Abu Ali Sibawaih diriwayatkan oleh Sa’id bin Ahmad bin Muhammad Ash-Shairafi Al ‘Iyar dan Abdurrahman bin Abdullah Al Hamdani.

Riwayat As-Sarkhasi diriwayatkan oleh Abu Dzarr dan Abu Hasan Abdurrahman bin Muhammad bin Muzhaffar Ad-Dawudi.

Riwayat Kasymihani diriwayatkan oleh Abu Dzarr dan Abu Sahal Muhammad bin Ahmad Al Hafshi dan Karimah binti Ahmad Al Marwaziyah.

Riwayat Al Kasyani diriwatkan oleh Abu Abbas Ja’far bin Muhammad Al Mustaghfiri.

Sedangkan riwayat Al Juhani dari Ibnu As-Sakan, ia berkata, “Telah diceritakan kepada kami oleh Abu Ali Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Abdul Aziz dengan cara musyafahah (secara lisan) dari Yahya bin Muhammad bin Sa’ad dan yang lainnya, dari Ja’far bin Ali Al Hamdani, dari Abdullah bin Abdurrahman Ad-Dibaji dari Abdullah bin Muhammad bin Muhammad bin Ali Al Bahili, ia berkata, “Telah  bercerita kepada kami Al Hafizh Abu Ali Al Hasan bin Muhammad Al Jayyani dalam kitabnya Taqyid Al Muhmal, ia berkata, “Telah menyampaikan kepada saya Al Qadhi Abu Umar Ahmad bin Muhammad bin Yahya bin Al Hidza` tentang Shahih Bukhari dengan qira`ah (bacaan)ku kepadanya, dan Abu Umar Yusuf bin Abdullah bin Muhammad bin Al Hafizh Abdul Bari dengan cara ijazah. Keduanya berkata, “Telah bercerita kepada kami Abu Muhammad Al Juhani, beliau seorang yang tsiqah (terpercaya) dan dhabit (kuat) sanadnya.”

Riwayat Abu Dzarr dari ketiga gurunya, ia berkata, “Telah dibacakan kepada Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad bin Muhammad bin Sulaiman Al Makki dengan riwayat ini. Aku mendengar dan mendapat ijazah apa yang hilang darinya, ia berkata, “Telah me-ngabarkan kepada kami Imam Al Maqam Abu Ahmad Ibrahim bin Muhammad bin Abu Bakar Ath-Thabari, telah mengabarkan kepada kami Abu Qasim Abdurrahman bin Abu Harami Al Makki dengan cara sama’ (mendengar) seluruh riwayat darinya, kecuali bab “Wa ila Madyana Akhahum Syu’aiba” (Saudara-saudara nabi Syu’aib pergi ke Madyan) sampai bab “Mab’ats An-Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam” (Diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam), karena bab tersebut diriwayatkan dengan cara ijazah, telah mengabarkan kepada kami Abu Hasan Ali bin Humaid bin ‘Ammar Ath-Tharabulusi, dan telah mengabarkan kepada kami Abu Maktum Isa bin Al Hafizh Abu Dzarr Abdullah bin Ahmad Al Harawi, dan telah mengabarkan kepada kami bapakku.”

Adapun riwayat Abdurrahman Al Hamdani dari gurunya, ia berkata, “Telah mengabarkan kepada kami (apa yang diriwayatkan Abdurrahman Al Hamdani) Abu Hayyan Muhammad bin Hayyan bin Allamah Abu Hayyan secara musyafahah (lisan) dari kakeknya (Abu Hayyan), dari Abu Ali  bin Abu Al Ahwash, dari Abu Al Qasim bin Baqi (Ibnu Taqi) dari Syuraih bin Ali (Syuraih bin Muhammad bin Ali) bin Ahmad bin Sa’id dari Abdurrahman.”

Riwayat Ismail dengan sanad yang sama sampai kepada Abu Hayyan, “Telah mengabarkan kepada kami Abu Ja’far Ahmad bin Yusuf Ath-Thahali dan Yusuf bin Ibrahim bin Abu Raihanah Al Malaqi dengan cara ijazah dari keduanya, dari Al Qadhi Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Al Anshari bin Al Haitsam, telah mengabarkan kepada kami Al Qadhi Abu Sulaiman Daud bin Hasan Al Khalidi darinya.”

Sedangkan riwayat Abu Nu’aim dari gurunya, ia berkata, “Telah mengabarkan kepada kami Ali bin Muhammad bin Muhammad Ad-Dimasyqi secara musyafahah dari Salman (Sulaiman) Ibnu Hamzah bin Abu Umar dari Muhammad bin Abdul Hadi Al Maqdisi, dari Al Hafizh Abu Musa Muhammad bin Abu Bakar Ad-Dumali (Al Madani), telah mengabarkan kepada kami Abu Ali Al Hasan bin Ahmad bin Al Hasan Al Haddad, telah mengabarkan kepada kami Abu Nu’aim.”

Riwayat Al Ushaili dan Al Qabisi dengan sanad terdahulu sampai kepada Abu Ali Al Jayyani, “Telah mengabarkan kepada kami Abu Syakir Abdul Wahid bin Muhammad bin Wahab dan lainnya dari Al Ashili dan Hatim bin Muhammad Ath-Tharabulusi dari Al Qabisi dengan sanad yang terdahulu pula kepada Ja’far bin Ali. Ia menulis kepada Al Hafizh Abu Qasim khalaf bin Basykawal, telah mengabarkan kepada kami Abdurrahman bin Muhammad bin Ghayyats dari Hatim.”

Riwayat Sa’id Al ‘Iyyar, ia berkata, “Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ali bin Muhammad Ad-Dimasyqi secara musyafahah dari Muhammad bin Yusuf bin Al Hattan dari ‘Allamah Taqiyuddin Utsman bin Abdurrahman Asy-Syahruzuri, Manshur bin Abdul Mun’im bin Abdullah bin Muhammad bin Fadhl dan Sa’id.”

Riwayat Ad-Dawudi, adalah riwayat terbaik bagi kami dari segi jumlah, “Telah dikabarkan kepada kami riwayat Ad-Dawudi dari berbagai riwayat diantaranya; Abdurrahim bin Abdul Karim bin Abdul Wahab Al Hamawi, Abu Ali Muhammad bin Muhammad bin Ali Al Jiyazi, Abu Ishaq Ibrahim bin Ahmad bin Ali bin Abdul Wahab bin Abdul Mukmin At-Ta’ali, dan Abu Hasan Ali bin Muhammad bin Muhammad Al Jauzi.”

 Muhammad Abdurrahim dan Abu Ali berkata, “Telah mengabarkan kepada kami Abu Abbas Ahmad bin Abu Thalib bin Abu An-Ni’am Ni’mah bin Hasan bin Ali bin Bayan Ash-Shalihi dan Wazirah binti Muhammad bin Umar bin As’ad  bin Al Manja At-Tanwakhiah.”

 Abu Ishaq berkata, “Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Abu Thalib bin Ni’mah.”

Ali berkata, “Dia telah membaca kepada Wazirah dan aku mendengarnya. Telah menulis kepadaku Sulaiman bin Hamzah  bin Abu Umar, Isa bin Abdurrahman bin Ma’ali dan Abu Bakar bin Ahmad bin Abd. Da`im. Mereka berlima berkata, “Telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah Al Husain bin Mubarak bin Muhammad bin Yahya Az-Zubaidi dengan cara mendengar (sama’).”

Mereka berkata, “Selain Wazirah, telah menulis kepada kami Abu Hasan Muhammad bin Ahmad bin Umar Al Qathi’i dan Abu Hasan Ali bin Abu Bakar Ruzabeh Al Qalanisi, Sulaiman, Muhammad bin Zuhair Sya’ranah, Tsabit bin Muhammad Al Khajnadi.” Muhammad bin Abdul Wahid Al Madini menambahkan, “Telah mengabarkan kepada kami Abu Al Waqt Abdul Awwal bin Isa bin Syu’aib Al Harawi darinya.”

Riwayat Al Hafshi dengan isnad terdahulu sampai kepada Manshur, “Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Wajih bin Thahir, Abdul Wahab bin Syah Asy-Syadzayakhi dengan cara sama’ (mendengar), dan kakek Abu Muhammad bin Al Fadhl Ash-Sha’idi dengan cara ijazah. Mereka berkata, “Al Hafshi telah mengabarkan kepadaku.”

Riwayat Karimah, ia berkata, “Telah mengabarkan kepada kami dengan riwayat Karimah, Al Hafizh Abu Al Fadhl Abdurrahim bin Husain Al ‘Iraqi dengan cara sama’ sebagian riwayat dan ijazah sebagian yang lain, dan Abu Ali Abdurrahim bin Abdullah Al Anshari, Al Mu’in Ahmad bin Ali bin Yusuf Ad-Dimasyqi, Ismail bin Muhammad Al Qawy bin ‘Izzun dan Utsman bin Abdurrahman bin Tasyiq dengan cara sama’ selain beberapa bab, diantaranya bab “Musafir idza Jadda bi As-Sairu” sampai akhir pembahasan haji, dari bab “Ma yajuzu min Asy-Syuruth  fi Al Makatib” sampai dengan bab “Asy-Syuruth  fi Al Kitabah”, dari bab “Ghazwu Al Mar`ah fi Al Bahr” dalam pembahasan ‘Jihad’ sampai dengan bab “Du’a An-Nabi saw Ila Al Islam” dengan cara ijazah dari mereka, dan dari Al Hafizh Rasyiduddin Abu Husain Yahya bin Ali Al Aththar dengan seluruh riwayatnya, mereka berkata, “Telah mengabarkan kepadaku Abu Qasim Hibatullah bin Ali bin Mas’ud Al Bushiri, telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah Muhammad bin Barakat An-Nahwi As-Sa’di darinya.”

Riwayat Mustaghfiri dengan memakai isnad terdahulu sampai kepada Abu Musa, “Telah mengabarkan kepadaku bapakku, dan Hasan bin Ahmad darinya.”

Riwayat Ibrahim bin Ma’qil, dengan mengunakan isnad sampai kepada Abu Ali Al Jayyani, “Telah mengabarkan kepada kami Hakam bin Muhammad bin Abu Fadhl Isa bin Abu Imran Al Harawi dengan cara sama’ sebagian riwayat dan ijazah sisanya, Abu Shalih Khalaf bin Muhammad bin Ismail Al Bukhari darinya.”

Riwayat Hammad bin Syakir, ia berkata, “Telah  mengabarkan kepada kami Ahmad bin Abu Bakar bin Abdul Hamid dalam kitabnya dari Abu Rabi’ bin Abu Thahir bin Qudamah dari Hasan  bin Sayyid ‘Alawi, dari Abu Fadhl bin Nashir Al Hafizh dari Ahmad  bin Muhammad bin Rumaih An-Nasawi darinya.

Riwayat Abu Thalhah Al Bazdawi dengan sanad sampai kepada Al Mustaghfiri, “Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Abdul Aziz darinya.”

Telah selesai apa yang saya tulis dari wasilah yang saya maksudkan. Sebagian riwayat yang paling kuat menurut saya adalah riwayat Abu Dzarr dari ketiga gurunya, karena ia adalah perawi yang dhabith dan membedakan riwayat yang berbeda sesuai dengan konteks masing-masing. Hanya kepada Allah aku memohon taufik, agar aku selalu berjalan pada jalan yang benar.




Fathul Baari Jilid 35 - Ibnu Hajar Al Asqalani



Judul Buku : Fathul Baari Jilid 35
Penulis       : Ibnu Hajar Al Asqalani
Penerbit     : Pustaka Azzam
Tebal           : xvi+848 Halaman 

Harga         : Rp 175.000,00
Diskon        : 30%
Nett            : Rp 122.500,00


Segala puji bagi Allah yang telah melapangkan hati kaum muslimin dengan hidayah-Nya, dan menutup hati orang-orang yang membangkang sehingga tidak menyadari adanya hikmah. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, karena Dia Tuhan Yang Esa dan Berkuasa, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan Rasulullah, yang tidak ada seorang pun yang menandingi kemuliaannya, dirinya telah dimuliakan dan disucikan sejak hari kelahirannya serta dilapangkan hatinya. Semoga berkah Allah selalu untuknya, keluarga dan para sahabatnya sampai hari kiamat kelak.

Saatnya bagi saya untuk mulai mewujudkan apa yang telah menjadi niat saya, ketika menulis keterangan (syarah) kitab Al Jami’ Ash-Shahih, sebagaimana telah saya tulis pada mukaddimah kitab Hadyu As-Sari bi Fathil Bari. Sebelumnya saya bermaksud untuk membedah hadits terlebih dahulu sebelum memberikan keterangan, akan tetapi saya melihat kalau ini dilakukan akan memerlukan waktu yang lebih panjang, maka dari itu saya mengambil jalan tengah. Semoga apa yang saya lakukan dapat memberikan manfaat bagi para pembaca, karena Allah tidak membebankan kepada makhluk-Nya kecuali apa yang mampu dilakukannya. Mungkin dalam tulisan ini terjadi pengulangan apa yang telah saya tulis dalam kitab Hadyu As-Sari bi Fathil Bari. Hal itu disebabkan jauhnya masa penulisan atau sebab-sebab lainnya, akan tetapi saya berusaha untuk melakukan perubahan apa yang ada dalam kitab tersebut. Maka saya namakan kitab ini FATHUL BARI BI SYARHIL BUKHARI.

Saya memulai tulisan ini dengan menyebutkan sanad yang saya miliki kepada asalnya, baik dengan mendengar atau ijazah, karena saya mendengar sebagian ulama mengatakan, “Sanad adalah dasar dari sebuah kitab,” maka dari itu saya akan menyebutkan sanad-sanadnya, dan saya katakan, “Telah sampai kepada kami riwayat Bukhari dari Imam Bukhari melalui jalur Thariq Abu Abdillah Muhammad bin Yusuf bin Mathar bin Shalih bin Bisyr Al Firabri yang meninggal pada tahun 320 H.” Beliau mendengarkan riwayat ini dua kali. Pertama, di Farbar pada tahun 248 H, dan kedua, di Bukhara pada tahun 252 H.

Jalur yang lain adalah dari Ibrahim bin Ma’qil bin Hajjaj An-Nasafi, seorang penghafal hadits yang memiliki beberapa karangan, dan wafat pada tahun 294 H. Ia termasuk orang yang mengumpulkan catatan (hadits) yang diriwayatkan dari Bukhari dengan cara ijazah. Begitu juga dari jalur Hammad bin Syakir An-Nasawi, yang diperkirakan meninggal sekitar tahun 290-an.

Kemudian jalur dari Abu Thalhah Manshur bin Muhammad bin Ali bin Qorinah Al Bazdawi, wafat pada tahun 329 H.  Beliau adalah orang yang terakhir menulis riwayat Bukhari dalam kitab shahihnya, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Makula dan lainnya. Setelah beliau meninggal masih ada yang mendengarkan riwayat dari Bukhari, yaitu Al Qadhi Al Husain bin Ismail Al Muhamili di Baghdad, akan tetapi beliau tidak memiliki kitab shahih, dan beliau mendengar dari Imam Bukhari di Baghdad pada akhir kunjungannya, sehingga sangat salah orang yang mengambil riwayat shahih dari Al Muhamili.


Adapun riwayat Al Firabri, sampai kepada kami dari berbagai jalur di antaranya, Al Hafizh Abu Ali Sa’id bin Utsman bin Sa’id bin As-Sakan, Hafizh Abu Ishaq Ibrahim bin Ahmad Al Mustamli, Abu Nashr Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Al Akhsikati, Al Faqih Abu Zaid Muhammad bin Ahmad Al Maruzi, Abu Ali Muhammad bin Umar bin Sibawaih, Abu Ahmad Muhammad bin Muhammad Al Jurjani, Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad As-Sarkhasi, Abu Al Haitsam Muhammad bin Makki Al Kasymihani, dan Abu Ali Ismail bin Muhammad bin Ahmad bin Hajib Al Kasyani. Beliau adalah orang terakhir yang meriwayatkan hadits Bukhari dari riwayat Al Firabri.

Adapun riwayat Ibnu As-Sakan diriwayatkan oleh Abdullah bin Muhammad bin Asad Al Juhani.

Riwayat Mustamli diriwayatkan oleh Al Hafizh Abu Dzarr Abdullah bin Ahmad Al Harawi dan Abdurrahman bin Abdullah Al Hamdani.

Riwayat Al Akhsikati diriwayatkan oleh Ismail bin Ishaq bin Ismail Ash- Shafar Az-Zahid.

Riwayat Abu Zaid  diriwayatkan oleh Al Hafizh Abu Nu’aim Al Ashbahani, Al Hafiz Abu Muhammad Abdullah bin Ibrahim Al Ushaili dan Imam Abu Hasan Ali bin Muhammad Al Qabisi.

Riwayat Abu Ali Sibawaih diriwayatkan oleh Sa’id bin Ahmad bin Muhammad Ash-Shairafi Al ‘Iyar dan Abdurrahman bin Abdullah Al Hamdani.

Riwayat As-Sarkhasi diriwayatkan oleh Abu Dzarr dan Abu Hasan Abdurrahman bin Muhammad bin Muzhaffar Ad-Dawudi.

Riwayat Kasymihani diriwayatkan oleh Abu Dzarr dan Abu Sahal Muhammad bin Ahmad Al Hafshi dan Karimah binti Ahmad Al Marwaziyah.

Riwayat Al Kasyani diriwatkan oleh Abu Abbas Ja’far bin Muhammad Al Mustaghfiri.

Sedangkan riwayat Al Juhani dari Ibnu As-Sakan, ia berkata, “Telah diceritakan kepada kami oleh Abu Ali Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Abdul Aziz dengan cara musyafahah (secara lisan) dari Yahya bin Muhammad bin Sa’ad dan yang lainnya, dari Ja’far bin Ali Al Hamdani, dari Abdullah bin Abdurrahman Ad-Dibaji dari Abdullah bin Muhammad bin Muhammad bin Ali Al Bahili, ia berkata, “Telah  bercerita kepada kami Al Hafizh Abu Ali Al Hasan bin Muhammad Al Jayyani dalam kitabnya Taqyid Al Muhmal, ia berkata, “Telah menyampaikan kepada saya Al Qadhi Abu Umar Ahmad bin Muhammad bin Yahya bin Al Hidza` tentang Shahih Bukhari dengan qira`ah (bacaan)ku kepadanya, dan Abu Umar Yusuf bin Abdullah bin Muhammad bin Al Hafizh Abdul Bari dengan cara ijazah. Keduanya berkata, “Telah bercerita kepada kami Abu Muhammad Al Juhani, beliau seorang yang tsiqah (terpercaya) dan dhabit (kuat) sanadnya.”

Riwayat Abu Dzarr dari ketiga gurunya, ia berkata, “Telah dibacakan kepada Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad bin Muhammad bin Sulaiman Al Makki dengan riwayat ini. Aku mendengar dan mendapat ijazah apa yang hilang darinya, ia berkata, “Telah me-ngabarkan kepada kami Imam Al Maqam Abu Ahmad Ibrahim bin Muhammad bin Abu Bakar Ath-Thabari, telah mengabarkan kepada kami Abu Qasim Abdurrahman bin Abu Harami Al Makki dengan cara sama’ (mendengar) seluruh riwayat darinya, kecuali bab “Wa ila Madyana Akhahum Syu’aiba” (Saudara-saudara nabi Syu’aib pergi ke Madyan) sampai bab “Mab’ats An-Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam” (Diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam), karena bab tersebut diriwayatkan dengan cara ijazah, telah mengabarkan kepada kami Abu Hasan Ali bin Humaid bin ‘Ammar Ath-Tharabulusi, dan telah mengabarkan kepada kami Abu Maktum Isa bin Al Hafizh Abu Dzarr Abdullah bin Ahmad Al Harawi, dan telah mengabarkan kepada kami bapakku.”

Adapun riwayat Abdurrahman Al Hamdani dari gurunya, ia berkata, “Telah mengabarkan kepada kami (apa yang diriwayatkan Abdurrahman Al Hamdani) Abu Hayyan Muhammad bin Hayyan bin Allamah Abu Hayyan secara musyafahah (lisan) dari kakeknya (Abu Hayyan), dari Abu Ali  bin Abu Al Ahwash, dari Abu Al Qasim bin Baqi (Ibnu Taqi) dari Syuraih bin Ali (Syuraih bin Muhammad bin Ali) bin Ahmad bin Sa’id dari Abdurrahman.”

Riwayat Ismail dengan sanad yang sama sampai kepada Abu Hayyan, “Telah mengabarkan kepada kami Abu Ja’far Ahmad bin Yusuf Ath-Thahali dan Yusuf bin Ibrahim bin Abu Raihanah Al Malaqi dengan cara ijazah dari keduanya, dari Al Qadhi Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Al Anshari bin Al Haitsam, telah mengabarkan kepada kami Al Qadhi Abu Sulaiman Daud bin Hasan Al Khalidi darinya.”

Sedangkan riwayat Abu Nu’aim dari gurunya, ia berkata, “Telah mengabarkan kepada kami Ali bin Muhammad bin Muhammad Ad-Dimasyqi secara musyafahah dari Salman (Sulaiman) Ibnu Hamzah bin Abu Umar dari Muhammad bin Abdul Hadi Al Maqdisi, dari Al Hafizh Abu Musa Muhammad bin Abu Bakar Ad-Dumali (Al Madani), telah mengabarkan kepada kami Abu Ali Al Hasan bin Ahmad bin Al Hasan Al Haddad, telah mengabarkan kepada kami Abu Nu’aim.”

Riwayat Al Ushaili dan Al Qabisi dengan sanad terdahulu sampai kepada Abu Ali Al Jayyani, “Telah mengabarkan kepada kami Abu Syakir Abdul Wahid bin Muhammad bin Wahab dan lainnya dari Al Ashili dan Hatim bin Muhammad Ath-Tharabulusi dari Al Qabisi dengan sanad yang terdahulu pula kepada Ja’far bin Ali. Ia menulis kepada Al Hafizh Abu Qasim khalaf bin Basykawal, telah mengabarkan kepada kami Abdurrahman bin Muhammad bin Ghayyats dari Hatim.”

Riwayat Sa’id Al ‘Iyyar, ia berkata, “Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ali bin Muhammad Ad-Dimasyqi secara musyafahah dari Muhammad bin Yusuf bin Al Hattan dari ‘Allamah Taqiyuddin Utsman bin Abdurrahman Asy-Syahruzuri, Manshur bin Abdul Mun’im bin Abdullah bin Muhammad bin Fadhl dan Sa’id.”

Riwayat Ad-Dawudi, adalah riwayat terbaik bagi kami dari segi jumlah, “Telah dikabarkan kepada kami riwayat Ad-Dawudi dari berbagai riwayat diantaranya; Abdurrahim bin Abdul Karim bin Abdul Wahab Al Hamawi, Abu Ali Muhammad bin Muhammad bin Ali Al Jiyazi, Abu Ishaq Ibrahim bin Ahmad bin Ali bin Abdul Wahab bin Abdul Mukmin At-Ta’ali, dan Abu Hasan Ali bin Muhammad bin Muhammad Al Jauzi.”

 Muhammad Abdurrahim dan Abu Ali berkata, “Telah mengabarkan kepada kami Abu Abbas Ahmad bin Abu Thalib bin Abu An-Ni’am Ni’mah bin Hasan bin Ali bin Bayan Ash-Shalihi dan Wazirah binti Muhammad bin Umar bin As’ad  bin Al Manja At-Tanwakhiah.”

 Abu Ishaq berkata, “Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Abu Thalib bin Ni’mah.”

Ali berkata, “Dia telah membaca kepada Wazirah dan aku mendengarnya. Telah menulis kepadaku Sulaiman bin Hamzah  bin Abu Umar, Isa bin Abdurrahman bin Ma’ali dan Abu Bakar bin Ahmad bin Abd. Da`im. Mereka berlima berkata, “Telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah Al Husain bin Mubarak bin Muhammad bin Yahya Az-Zubaidi dengan cara mendengar (sama’).”

Mereka berkata, “Selain Wazirah, telah menulis kepada kami Abu Hasan Muhammad bin Ahmad bin Umar Al Qathi’i dan Abu Hasan Ali bin Abu Bakar Ruzabeh Al Qalanisi, Sulaiman, Muhammad bin Zuhair Sya’ranah, Tsabit bin Muhammad Al Khajnadi.” Muhammad bin Abdul Wahid Al Madini menambahkan, “Telah mengabarkan kepada kami Abu Al Waqt Abdul Awwal bin Isa bin Syu’aib Al Harawi darinya.”

Riwayat Al Hafshi dengan isnad terdahulu sampai kepada Manshur, “Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Wajih bin Thahir, Abdul Wahab bin Syah Asy-Syadzayakhi dengan cara sama’ (mendengar), dan kakek Abu Muhammad bin Al Fadhl Ash-Sha’idi dengan cara ijazah. Mereka berkata, “Al Hafshi telah mengabarkan kepadaku.”

Riwayat Karimah, ia berkata, “Telah mengabarkan kepada kami dengan riwayat Karimah, Al Hafizh Abu Al Fadhl Abdurrahim bin Husain Al ‘Iraqi dengan cara sama’ sebagian riwayat dan ijazah sebagian yang lain, dan Abu Ali Abdurrahim bin Abdullah Al Anshari, Al Mu’in Ahmad bin Ali bin Yusuf Ad-Dimasyqi, Ismail bin Muhammad Al Qawy bin ‘Izzun dan Utsman bin Abdurrahman bin Tasyiq dengan cara sama’ selain beberapa bab, diantaranya bab “Musafir idza Jadda bi As-Sairu” sampai akhir pembahasan haji, dari bab “Ma yajuzu min Asy-Syuruth  fi Al Makatib” sampai dengan bab “Asy-Syuruth  fi Al Kitabah”, dari bab “Ghazwu Al Mar`ah fi Al Bahr” dalam pembahasan ‘Jihad’ sampai dengan bab “Du’a An-Nabi saw Ila Al Islam” dengan cara ijazah dari mereka, dan dari Al Hafizh Rasyiduddin Abu Husain Yahya bin Ali Al Aththar dengan seluruh riwayatnya, mereka berkata, “Telah mengabarkan kepadaku Abu Qasim Hibatullah bin Ali bin Mas’ud Al Bushiri, telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah Muhammad bin Barakat An-Nahwi As-Sa’di darinya.”

Riwayat Mustaghfiri dengan memakai isnad terdahulu sampai kepada Abu Musa, “Telah mengabarkan kepadaku bapakku, dan Hasan bin Ahmad darinya.”

Riwayat Ibrahim bin Ma’qil, dengan mengunakan isnad sampai kepada Abu Ali Al Jayyani, “Telah mengabarkan kepada kami Hakam bin Muhammad bin Abu Fadhl Isa bin Abu Imran Al Harawi dengan cara sama’ sebagian riwayat dan ijazah sisanya, Abu Shalih Khalaf bin Muhammad bin Ismail Al Bukhari darinya.”

Riwayat Hammad bin Syakir, ia berkata, “Telah  mengabarkan kepada kami Ahmad bin Abu Bakar bin Abdul Hamid dalam kitabnya dari Abu Rabi’ bin Abu Thahir bin Qudamah dari Hasan  bin Sayyid ‘Alawi, dari Abu Fadhl bin Nashir Al Hafizh dari Ahmad  bin Muhammad bin Rumaih An-Nasawi darinya.

Riwayat Abu Thalhah Al Bazdawi dengan sanad sampai kepada Al Mustaghfiri, “Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Abdul Aziz darinya.”

Telah selesai apa yang saya tulis dari wasilah yang saya maksudkan. Sebagian riwayat yang paling kuat menurut saya adalah riwayat Abu Dzarr dari ketiga gurunya, karena ia adalah perawi yang dhabith dan membedakan riwayat yang berbeda sesuai dengan konteks masing-masing. Hanya kepada Allah aku memohon taufik, agar aku selalu berjalan pada jalan yang benar.