Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Sebagian Produk Yang Tersedia di Outlet Kami

Silahkan hubungi sales kami untuk mendapatkan produk yang anda inginkan...

Rabu, 03 September 2014

Apa Keyakinan Rafidhah (Syiah) Terhadap Al Quran-ul Karim Yang Ada Di Tengah-Tengah Kita Sekarang, Padahal Allah Telah Berjanji Untuk Menjaganya?

  
Sesungguhnya Rafidhah yang dinamakan pada zaman kita sekarang ini dengan syiah, mengatakan sesungguhnya Al Quran yang ada pada kita, bukanlah Al Quran yang telah diturunkan kepada nabi Muhammad, akan tetapi telah dirubah, ditukar, ditambah dan dikurangi. Jumhur ahli hadits dari kalangan syi'ah meyakini adanya pelencengan (perubahan) dalam Al Quran seperti yang disebutkan oleh An Nuuri Al Tibrisi dalam kitabnya "Fashlul Khithab Fi Tahrifil Kitabi Rabbil Arbab".[1]
Dan Muhammad bin Ya'qub Al Kulaini berkata di "Ushulul Kafi" di bawah Bab bahasan : "Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengumpulkan Al Quran seluruhnya, kecuali para iman" dari Jabir ia berkata : saya telah mendengar Abu Ja'far berkata : "Tidaklah seseorang dari manusia mendakwakan bahwasanya dia telah mengumpulkan Al Quran secara keseluruhannya sebagaimana Allah telah menurunkannya, kecuali ia itu adalah orang pendusta. Tidak ada yang mampu mengumpulkannya dan menghafalnya seperti yang telah diturunkan Allah kecuali Ali bin Abi Talib dan para imam setelah mereka".
Dan Ahmad Al Tibrisi dalam kitab "Al Ihtijaaj" dan Al Mulla Hasan dalam tafsirnya "As Shaafi" sesungguhnya Umar telah berkata kepada Zaid bin Tsabit : Sesungguhnya Ali telah datang kepada kita dengan membawa Al Quran, yang di dalamnya tercantum aib-aib orang muhajirin dan anshor.
Dan sungguh kami telah memandang untuk mengumpulkan Al Quran dan menghilangkan setiap apa-apa yang di dalamnya terdapat aib-aib muhajirin dan anshor. Dan Zaid pun telah memenuhinya untuk itu, kemudian berkata : "Jika saya telah selesai dari (mengumpulkan) Al Quran sesuai yang anda minta, lalu jelas bagi saya Al Quran yang dikumpulkannya (Ali), bukankah itu menghancurkan setiap apa yang telah anda kerjakan?
Maka berkata Umar : "Jadi bagaimana jalan keluarnya? Berkata Zaid : Anda lebih tahu dengan jalan keluarnya", berkata Umar : Tiada jalan keluar kecuai kita harus membunuhnya agar kita lega darinya. Lalu ia pun merancang pembunuhannya (Ali) lewat tangan Khalid bin Walid, akan tetapi dia tidak mampu melakukannya[2].
Tatkala Umar menjadi khalifah, mereka (para sahabat) meminta Ali untuk mendatangkan Al Quran kepada mereka, agar mereka sama mereka merubahnya. Lantas Umar berkata : Wahai Abul Hasan, alangkah baiknya kalau seandainya kamu membawa Al Quran yang pernah kamu bawa ke hadapan Abu Bakar, agar kita bersatu atasnya. Lalu Ali berkata : Tidak mungkin, dan tidak mungkin ada jalan untuk itu, sebenarnya saya membawanya ke hadapan Abu Bakar hanyalah untuk menegakkan hujjah atasnya, agar kalian tidak mengatakan pada hari kiamat
إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
"Sesungguhnya kami akan hal ini dalam keadaan lengah" (Al A'raf :172),
atau agar kalian tidak mengatakan;
"Kamu tidak pernah mendatangkannya kepada kami" (Al A’raf ).
Sesungguhnya Al Quran ini tidak ada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci, dan orang-orang yang diwasiatkan dari kalangan anakku. Lalu berkata Umar : "Apakah ada waktu untuk menampakkannya diketahui ? Lantas Ali berkata : "Ya, jika telah bangkit seseorang dari anakku, ia akan menampakkannya dan membawa manusia atasnya[3].
Walau bagaimanapun orang syiah menampakkan sikap berlepas dirinya terhadap buku An Nuri al Tibrisi ini, demi mengamalkan akidah Taqiyah, akan tetapi kitab itu terselubung dan tersimpan dalam ratusan nas-nas (pernyataan-pernyataan) dari ulama mereka dalam kitab-kitab yang diakui, menetapkan hal itu, dan bahwasanya mereka betul-betul yakin dengan perubahan itu, dan beriman dengannya, akan tetapi mereka tidak ingin timbul kehebohan sekitar akidah mereka ini terhadap alquran.
Dan tinggal setelah itu, bahwa ada dua Al Quran, yang pertama yang diketahui, dan yang lain khusus, tersembunyi. Diantaranya surat Wilayah, dan diantara yang didakwakan oleh syi'ah Rafidhah, bahwa ada satu ayat telah dihapus dari Al Quran yaitu :
"Dan kami telah menjadikan Ali sebagai menantumu", Mereka mendakwakan ayat ini dihapus dari surat Alam Nasyrah, sementara mereka tidak pernah malu dangan dakwaan mereka ini, karena mereka mengetahui bahwa surat itu adalah makkiyah, dan Ali belum menjadi menantu Nabi saat di Mekah.
 

[1] Fashlul Khithab, oleh Hasan bin Muhammad Taqiyun Nuri Al Tibrisi, hal : 32
[2] Lihatlah saudara seiman, alangkah kejinya kisah yang dibuat-buat oleh kaum syiah terhadap para sahabat
[3] Al Ihtijaaj oleh Al Tibrisi hal :225, kitab Fashlul Khithab, hal : 7

Penulis : Syeikh Abdullah bin Muhammad As-Salafi
Alih Bahasa: Abu Salman
Penerbit : Pustaka Ash-Shaqiyyah Bandung
Judul Asli: Min ‘Aqoidisy Syi’ah.
Penterjemah: Abu Salman.
Muraja’ah: Abu Qudamah.
File CHM disusun oleh Abu 'Abdirrahman Muhammad Taufiq 


Selasa, 02 September 2014

Apa Akidah Rafidhah Dalam Masalah Sifat?


Adalah Rafidhah orang yang pertama kali mengatakan tajsiim (bersifat seperti tubuh manusia).  Sungguh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menentukan bahwa sesungguhnya orang yang melakukan kedustaan ini dari kalangan kaum Rafidhah adalah Hisyam ibnul Hakam[1], dan Hisyam bin Salim Al Jawaliqi, Yunus bin Abdurrahman Al Qummi, dan Abu Ja'far Al Ahwal[2].
Seluruh orang yang disebutkan tadi termasuk syaikh-syaikh besar golongan Itsna Asyriyah (Rafidhah), kemudian mereka menjadi pemeluk paham Jahmiyah mu'athilah, sebagaimana sekumpulan riwayat mereka mensifati Rabb semesta alam dengan sifat-sifat negetif yang mereka masukkan sebagai sifat yang tetap bagi Allah. Dan sungguh Ibnu Babawaih meriwayatkan lebih dari tujuh puluh riwayat yang mengatakan bahwa Allah Ta'ala, tidak disifati dengan zaman, tidak dengan tempat, tidak dengan bagaimananya, tidak dengan gerak, tidak dengan berpindah, tidak dengan sesuatupun dari sifat-sifat tubuh, Dia bukan yang bisa diraba, bukan bertubuh dan berbentuk."[3] Maka syaikh-syaikh mereka mengikuti jalan (metode) yang sesat ini dengan menta'til (menghilangkan) sifat-sifat yang tercantum dalam AlQuran dan sunnah.
Sebagaimana mereka mengingkari turunnya Allah yang Maha Agung. Mereka mengatakan Al Quran makhluk, mereka mengingkari ru'yah (melihat kepada Allah) pada hari akhirat. Tercantum dalam kitab "Biharul Anwar", bahwasanya Abu Abdillah Ja'far As Shodiq ditanya tentang Allah ta'ala, apakah bisa dilihat pada hari akhirat? Beliau berkata : "Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari hal itu dengan ketinggian yang besar, sesungguhnya pandangan tidak akan bisa mencapai kecuali hal-hal yang mempunyai warna dan bentuk, dan Allah yang menciptakan warna-warni dan bentuk".
Bahkan mereka mengatakan : "Jika seandainya dinisbatkan kepada Allah sebagian sifat seperti ru'yah, maka dihukum sebagai murtad, sebagaimana yang didapatkan dari syaikh mereka  Ja'far Al Najfi di kitab "Kasyful Ghitho'" hal : 417. Perlu diketahui bahwasanya melihat kepada Allah pada hari akhirat adalah benar adanya dan sudah konsisten dalam Kitab dan Sunnah tanpa meliputi seluruhnya dan tanpa bagaimananya, sebagaimana firman Allah :
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ - إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ .
"Wajah-wajah pada saat itu berseri-seri, kepada Rabbnya melihat" (Al Qiyamah : 22,23).
Dan dari sunnah apa yang tercantum dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari hadits Jarir bin Abdillah Al Bajali, berkata:
"Adalah kami duduk-duduk bersama Rasulullah, lalu beliau melihat kepada purnama, pada malam empat belas, lalu bersabda : "Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan mata telanjang, sebagaimana kalian melihat ini (purnama), dimana kalian tidak berdesakan melihatnya"[4]. Dan ayat-ayat serta hadits-hadits dalam masalah itu banyak sekali, yang tidak memungkinkan kita untuk menyebutkannya.[5]


[1] Minhaaj sunnah (1/20) oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah
[2] 'Itiqadaat Firaqul Muslimin Wal Musyrikin, hal : 97
[3] At Tauhid, oleh Abu Babawaih, hal : 57
[4] Bukhari no : 544, dan Muslim no : 633
[5] Lihat karangan-karangan Ahli Sunnah Wal Jamaah dalam menetapkan ru'yah, seperti kitab Ar Ru'yah oleh Daruqutni, dan kitab imam Al Lalikai dan lainnya

Penulis : Syeikh Abdullah bin Muhammad As-Salafi
Alih Bahasa: Abu Salman
Penerbit : Pustaka Ash-Shaqiyyah Bandung
Judul Asli: Min ‘Aqoidisy Syi’ah.
Penterjemah: Abu Salman.
Muraja’ah: Abu Qudamah.



Apakah yang dimaksud dengan akidah Al Badaa’ yang diimani oleh Rafidhah?


Al Badaa’ yaitu bermakna tampak (muncul) setelah sembunyi, atau bermakna timbulnya pandangan baru. Al Badaa’ sesuai dengan kedua makna itu, haruslah didahului oleh ketidaktahuan, serta baru diketahui. Keduanya ini merupakan suatu hal yang mustahil atas diri Allah, akan tetapi orang Rafidhah (syiah) menisbatkan kepada Allah sifat Al Badaa'.
Telah diriwayatkan dari Ar Rayaan bin Al Sholt, ia berkata : "Saya telah mendengar Al Ridha berkata : "Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali mengharamkan khamar, dan mengakui bahwa Allah itu memiliki sifat Al Badaa'"[1].  Dan dari Abi Abdillah ia berkata : "Tidak pernah Allah diibadati dengan sesuatu apapun seperti (mengibadatinya dengan) Al Badaa'[2]. Maha Tinggi Allah dari hal itu dengan ketinggian yang besar.
Lihatlah wahai saudaraku muslim, bagaimana mungkin mereka menisbatkan kepada Allah subhanahu wa ta'ala sifat jahal (ketidaktahuan), sedangkan Dia mengatakan tentang diri-Nya :
قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ
"Katakanlah!, Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang tahu ghaib kecuali Allah." (an naml: 65)
Dan di sisi lain Rafidhah (syi'ah) meyakini bahwa sesungguhnya para imam mengetahui seluruh ilmu, dan tidak akan tersembunyi baginya sesuatu apapun.
Apakah ini akidah/keyakinan Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad -Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam- ???.


[1] Ushulul Kafi, hal :40
[2] Ushulul Kafi, oleh Al Kulaini di kitab tauhid : 1/133

Penulis : Syeikh Abdullah bin Muhammad As-Salafi
Alih Bahasa: Abu Salman
Penerbit : Pustaka Ash-Shaqiyyah Bandung
Judul Asli: Min ‘Aqoidisy Syi’ah.
Penterjemah: Abu Salman.
Muraja’ah: Abu Qudamah.


Senin, 01 September 2014

Rafidhah Terpecah Menjadi Berapa Firqoh (Golongan)?



Ditemukan di dalam buku Daairatul Ma'arif bahwasanya : golongan yang muncul dari cabang-cabang syi'ah jauh melebihi dari angka tujuh puluh tiga golongan yang terkenal itu[1].
Bahkan dikatakan oleh seorang rafidhah Mir Baqir Ad Damaad[2], sesungguhnya seluruh firqoh-firqoh yang tersebut dalam hadits, yaitu hadits berpecahnya umat ini menjadi tujuh puluh tiga golongan, maksudnya adalah firqoh-firqoh syi'ah. Dan sesungguhnya golongan yang selamat itu dari mereka adalah golongan Imamiyah.
Al Maqrizi menyebutkan bahwa jumlah firqoh-firqoh mereka itu sampai 300 (tiga ratus) firqoh[3].
As Syahrastaani berkata : “Sesungguhnya Rafidhah terbagi menjadi lima bagian : Al Kisaaniyah, Az Zaidiyah, Al Imamiyah, Al Ghaliyah dan Al Ismailiyah [4].”
Al Baghdadi berkata : “Sesungguhnya Rafidhah setelah masa Ali ada empat golongan : Zaidiyah, Imamiyah, Ghulaah dan Kisaaniyah.[5]
Perlu diperhatikan bahwa sesungguhnya Az Zaidiyah tidak termasuk dari firqoh-forqoh Rafidhah, kecuali kelompok Al Jarudiyah.


[1] Daairatul Ma'arif, (4/67).
[2] Dia adalah Muhammad Baqir bin Muhammad Al Asadi, termasuk tokoh besar syi'ah
[3] Dia adalah Al Maqrizi du Al Khuthath, ((2/351).
[4] Al Milal wan Nihal, oleh As Syahrastani, hal :147
[5] Al Farqu Bainal Firaq, oleh Al Baghdadi, hal : 41
===
Penulis : Syeikh Abdullah bin Muhammad As-Salafi
Alih Bahasa: Abu Salman
Penerbit : Pustaka Ash-Shaqiyyah Bandung
Judul Asli: Min ‘Aqoidisy Syi’ah.
Penterjemah: Abu Salman.
Muraja’ah: Abu Qudamah.



Sebab Penamaan Syi’ah Dengan Rafidhah


Penamaan syi’ah dengan Rafidhah dinyatakan sendiri oleh pembesar mereka yang bernama Al-Majlisi dalam bukunya “Al-Bihar” ia menyebutkan empat hadist dari hadist mereka sendiri5.

Mereka diberi nama Rafidhah dikarenakan mereka mendatangi Zaid bin Ali bin Al-Hussain seraya berkata “Berlepas dirilah kamu dari Abu Bakar dan Umar, dengan demikian kami akan bergabung bersamamu” kemudian Zain menjawab “mereka berdua adalah sahabat kakek saya, saya tak akan bisa berlepas diri dari mereka, bahkan akan selalu bergabung dengannya, dan berloyalitas kepadanya”, kemudian mereka berkata “kalau demikian kami menolakmu, dengan demikian mereka diberi nama “Rafidhah” artinya golongan penolak. Adapun orang-orang yang berbaiat dan setuju dengan Zaid diberi nama “Zaidiyyah”. 6

Dalam suatu pendapat dikatakan mereka diberi nama Rafidhah dikarenakan penolakannya akan keimaman Abu Bakar dan Umar7. Dalam pendapat yang lain, diberi nama Rafidhah dikarenakan penolakannya terhadap Agama8.


5 Al-Bihar hal : 68, 96 , 97
6 At-Ta’liqaat ala Matri lam’atil-I’tiqaat oleh Al-Jibrin hal : 108
7 Muqaalaatul-Islamiyiin hal :1/89
8 Maqaalatul-Islamiyiin hal : 1/89

Penulis : Syeikh Abdullah bin Muhammad As-Salafi
Alih Bahasa: Abu Salman
Penerbit : Pustaka Ash-Shaqiyyah Bandung
Judul Asli: Min ‘Aqoidisy Syi’ah.
Penterjemah: Abu Salman.

Muraja’ah: Abu Qudamah.


Hadis tentang Bendera Hitam Adalah ISIS


Saya pernah mendengar hadis yang katanya mendukung keberadaan isis. Dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyinggung bahwa di masa depan akan ada kekhalifahan dengan bendera hitam di daerah khurasan. Dan seperti yang kita tahu, khilafah ISIS benderanya hitam.
Apa ini benar, dan bgmn pandangan yg benar?. Terima kasih. 
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Ada beberapa riwayat yang menyebutkan hal itu, diantaranya,
Pertama, hadis dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إذا رأيتم الرايات السود قد جاءت من قبل خراسان فائتوها فان فيها خليفة الله المهدي
Apabila kalian melihat bendera-bendera hitam telah datang dari arah Khurasan, maka datangilah dia, karena di sana ada khalifah Allah al-Mahdi.
Derajat hadis
Hadis ini diriwayatkan dari dua
  • Diriwayatkan Ibnu Majah dari Khalid al-Hadza’ dari Abu Qilabah, dari Abu Asma dari Tsauban secara marfu’.
  • Diriwayatkan Imam Ahmad dari Ali bin Zaid bin Jadza’an dari Abu Qilabah dari Tsauban secara marfu’.
Para ulama menilai sanad hadis ini lemah. Diantara alasannya,
- Dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Ali bin Zaid bin Jadza’an, yang dinilai dhaif oleh Imam Ahmad dan yang lainnya. Al-Munawi dalam Faidhul Qodir mengatakan,
وفيه علي بن زيد بن جذعان نقل في الميزان عن أحمد وغيره تضعيفه ثم قال الذهبي أراه حديثا منكرا
Dalam sanadnya terdapat perawi Ali bin Zaid bin Jadza’an. Disebutkan dalam al-Mizan dari Ahmad dan yang lainnya yang mendhaifkan orang ini. Kemudian ad-Dzahabi mengatakan, ’Menurutku ini hadis munkar.’ (Faidhul Qodir, 1/363)
- Perawi Abu Qilabah adalah seorang mudallis dan melakukan ’an’anah (menggunakan kata ’an, artinya dari).
(as-Silsilah ad-Dhaifah, keterangan hadis no. 85).
Oleh karena itu, para ulama hadis kontemporer, diantaranya Syuaib al-Arnauth dan Imam al-Albani, mendhaifkan hadis ini.
Kedua, keterangan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, (hadis mauquf).
Dari Walid dan Risydin dari Ibnu Lahaiah dari Abi Qobil, dari Abu Rumman dari Ali bin Abi Thalib, beliau mengatakan,
إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّايَاتِ السُّودَ فَالْزَمُوا الأَرْضَ فَلا تُحَرِّكُوا أَيْدِيَكُمْ ، وَلا أَرْجُلَكُمْ ، ثُمَّ يَظْهَرُ قَوْمٌ ضُعَفَاءُ لا يُؤْبَهُ لَهُمْ ، قُلُوبُهُمْ كَزُبَرِ الْحَدِيدِ ، هُمْ أَصْحَابُ الدَّوْلَةِ ، لا يَفُونَ بِعَهْدٍ وَلا مِيثَاقٍ ، يَدْعُونَ إِلَى الْحَقِّ وَلَيْسُوا مِنْ أَهْلِهِ ، أَسْمَاؤُهُمُ الْكُنَى ، وَنِسْبَتُهُمُ الْقُرَى ، وَشُعُورُهُمْ مُرْخَاةٌ كَشُعُورِ النِّسَاءِ ، حَتَّى يَخْتَلِفُوا فِيمَا بَيْنَهُمْ ، ثُمَّ يُؤْتِي اللَّهُ الْحَقَّ مَنْ يَشَاءُ
Apabila kalian telah melihat bendera-bendera hitam, tetaplah di tempat kalian dan jangan gerakkan tangan dan kaki kalian. Kemudian akan berkuasa sekelompok orang yang lemah akalnya, tidak teranggap, hati mereka seperti potongan besi. Mereka penduduk daulah (menguasai banyak daerah), tidak memenuhi janji. Mereka mengajak menuju kebenaran, padahal mereka bukan pemilik kebenaran. Nama mereka berawalan kun-yah (identitas tidak jelas) dan nisbah mereka kepada desa. Rambut mereka terjuntai seperti rambut wanita. Hingga terjadi sengketa diantara mereka, kemudian Allah mendatangkan kebenaran melalui orang yang Dia kehendaki.
Derajat Hadis:
Hadis ini dinilai lemah oleh para ulama, karena beberapa catatan,
  1. ‘An’anah dari al-Walid
  2. Risydin bin Sa’d perawi yang dhaif
  3. Ibnu Lahaiah perawi yang lemah
  4. Abu Ruman perawi yang Majhul (tidak dikenal). Disebutkan oleh Ibnu Mandah dalam Fathul Bab, tanpa penilaian.
(as-Silsilah ad-Dhaifah, 1/440)
Terlepas dari status keabsahan riwayat di atas, jika kita perhatikan, keterangan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu justru menyudutkan posisi para pemegang bendera hitam itu. Karena sangat jelas, keterangan ini mencela keberadaan mereka.
Allahu a’lam.
http://www.konsultasisyariah.com/hadis-tentang-isis/

Sejarah Lahirnya Syiah Rafidhah



Rafidhah lahir kepermukaan ketika seorang yahudi bernama Abdullah bin Saba’ hadir dengan mengaku sebagai seorang muslim, mencintai Ahlul Bait (keluarga nabi), berlebihlebihan di dalam menyanjung Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dan mendakwakan adanya wasiat baginya tentang kekhalifahannya, yang pada akhirnya ia mengangkatnya sampai ke tingkat ketuhanan. Kemudian idiologi seperti inilah yang akhirnya diakui oleh buku-buku syi’ah itu sendiri.

Al-Qummi pengarang buku Al-Maqalaat wal firaq mengaku dan menetapkan akan adanya Abdullah bin Saba’ ini, dan menganggapnya orang yang pertama kali menobatkan keimaman (kepemimpinan) Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu serta munculnya kembali (di hari akhirat nanti) di samping ia juga termasuk orang yang pertama mencela Abu Bakar, Umar, Ustman dan sahabatsahabat yang lainnya.1

Begitu juga An-Naubakhti dalam bukunya Firaqus syi’ah2, Al-Kasyi dalam bukunya yang terkenal Rijalul-Kasyi3, mengakui akan hal ini, dan sudah menjadi aksiomatif, bahwa pengakuan adalah bukti yang paling kuat, ditambah lagi mereka adalah pembesarpembesar Rafidhah.

Al-Baghdadi berkata: “Assabaiyyah adalah pengikut Abdullah bin Saba’, yang berlebihlebihan di dalam mengagung-agungkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, sehingga ia mendakwakannya sebagai seorang nabi, sampai kepada pengakuan bahwa dia adalah “Tuhan”.

Masih dikatakan oleh Al-Baghdadi: Seorang peranakan orang hitam maksudnya adalah Abdullah bin Saba’, sebenarnya ia seorang yahudi dari penduduk Hirah, berupaya menampakkan keIslamannya, dengan demikian ia bisa menempati suatu kedudukan dan kepemimpinan pada Ahli Kufah, oleh karena itu ia mengatakan kepada Ahli Kufah bahwa ia mendapatkan dalam kitab Taurat, bahwa setiap nabi memiliki washi (seorang yang diwasiati untuk menjadi khalifah atau imam). Dan Alilah orang yang mendapatkan wasiat langsung dari nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam.

Ash-Syahrastani menyebutkan tentang Ibnu Saba’ bahwa : “Ia adalah orang yang pertama kali memunculkan pernyataan keimaman Ali bin Abi Thalib, dengan adanya wasiat tentang itu.”

Dan menyebutkan pula tentang “Saba’iyyah (pengikut Ibnu Saba’) bahwa ia adalah merupakan sekte yang pertama yang menyatakan tentang hilangnya imam mereka yang kedua belas dan akan muncul kembali di kemudian hari.”

Pada masa berikutnya idiologi seperti ini diwarisi oleh orang-orang syi’ah, meskipun mereka ini (syi’ah) terbagi menjadi bermacammacam sekte.

Dapat disimpulkan bahwa pernyataan tentang keimaman Ali bin Abi Thalib dan kekhalifahannya dengan adanya wasiat langsung dari nabi adalah peninggalan yang diwariskan oleh Ibnu Saba’.

Setelah itu syi’ah berkembang biak menjadi beberapa sekte, dengan berbagai macam idiologi yang banyak sekali.

Dengan demikian jelaslah, bahwa Saba’iyyah adalah orang-orang yang membuat idiologi-idiologi tersebut seperti adanya wasiat kekhalifahan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dan munculnya kembali imam mereka yang kedua belas dikemudian hari.


Hilangnya imam ini dan penuhanan para imam-imam mereka sebagi bukri pengekoran mereka kepada Ibnu Saba’ seorang yahudi.4
============
1 Al-Maqaalat Wal Firaq, Al-Qummi hal : 10-21
2 Firaqus Syiah hal : 19-20
3 Rijahul-Kisyi hal : 170-171
4 Ushul I’tiqaad Ahlus Sunnah Waljama’ah hal : 1/22- 23

Penulis : Syeikh Abdullah bin Muhammad As-Salafi
Alih Bahasa: Abu Salman
Penerbit : Pustaka Ash-Shaqiyyah Bandung
Judul Asli: Min ‘Aqoidisy Syi’ah.
Penterjemah: Abu Salman.

Muraja’ah: Abu Qudamah.